” – still image dari youtube.com


“Hanya ada satu kata: lawan!”

Kalimat bernuansa progresif itu sering terdengar di medan demonstrasi. Anak-anak muda demonstran banyak yang gemar meneriakkannya. Namun mungkin tidak banyak tahu, siapa sosok di balik populernya kalimat itu.

Kalimat itu sering dinisbatkan kepada , seorang aktivis dan penyair yang kerap menyuarakan perlawanan terhadap penindasan melalui puisinya. Wiji yang lahir pada 26 Agustus 1963 itu adalah salah satu sosok yang teguh memperjuangkan kebebasan dan demokrasi saat Indonesia masih tertekan di bawah rezim Orde Baru.

Namun, kerusuhan perebutan kantor PDIP di Jalan Diponegoro yang dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli 1996, menjadi titik balik kehidupan Wiji dan keluarganya. Wiji disebut sebagai salah satu pemicunya dan ditetapkan sebagai tersangka. Wiji melarikan diri ke Pontianak dan hidup berpindah-pindah setelahnya. Rumor yang berkembang menyebut ia kemudian diculik dan dibunuh. Yang pasti, hingga kini, keluarganya tak pernah lagi bertemu dengannya.

Periode pelarian Wiji Thukul di Kalimantan itulah yang kemudian difilmkan oleh sutradara Yosep Anggi Noen dengan judul “Istirahatlah Kata-kata“.

Film yang dibintangi Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul, dan Marissa Anita sebagai Sipon (istri Wiji Thukul yang bernama asli Siti Dyah Sujirah), sebelumnya telah diputar di sejumlah festival film internasional, seperti di Locarno, Swiss; Vladivostock, Rusia; Rotterdam, Belanda; Nantes, Prancis; Hamburg, Jerman; dan Busan,Korea Selatan.

Kabar baiknya, setelah melanglang di berbagai festival mancanegara, “Istirahatlah Kata-kata” akan segera di Tanah Air. Film ini dijadwalkan di jaringan Cinema 21 pada tanggal 19 Januari 2017.

Kembalinya film festival Indonesia di layar Tanah air disambut baik oleh pengamat dan penggemar film. Sudah menjadi rahasia umum, film sejenis ini sangat sulit menembus layar meski berjaya di festival internasional. Sekadar menyebut yang sedikit itu, di antaranya: “Copy of My Mind” karya Joko Anwar dan “Siti” karya Eddie Cahyono.

Koresponden Showbiz CNN Indonesia TV, Istiarto Sigit atau akrab disapa Itho, menyebut masuknya “Istirahatlah Kata-kata” di bioskop adalah kabar gembira yang patut disyukuri. “Ini bukan hanya untuk memenuhi amanat bahwa harus ada 60 persen film Indonesia yang tayang di bioskop Tanah Air, tapi ini sesuatu yang bagus. Banyak karya sineas kita yang keren, dan sudah seharusnya diberi tempat di layar kita sendiri.”

Sip. Ok deh, Om Itho. Sampai jumpa di bioskop tanggal 19!

“Hanya ada satu kata: tonton!”

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2017/01/wiji.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2017/01/wiji-150x150.jpgFauzan MukrimRecent Postsbioskop,Istirahatlah Kata-kata,tayang,Wiji Thukul,'Hanya ada satu kata: lawan!' Kalimat bernuansa progresif itu sering terdengar di medan demonstrasi. Anak-anak muda demonstran banyak yang gemar meneriakkannya. Namun mungkin tidak banyak tahu, siapa sosok di balik populernya kalimat itu. Kalimat itu sering dinisbatkan kepada Wiji Thukul, seorang aktivis dan penyair yang kerap menyuarakan perlawanan terhadap penindasan melalui...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k