Foto: Riverpost.id
Foto: Riverpost.id


Saat ia akhirnya berhasil memperoleh lisensi wasit FIBA pada tahun 2014, merasa mimpinya sudah tercapai. Saat ini, ia satu-satunya wasit perempuan bola basket yang berlisensi internasional FIBA (Fédération Internationale de Basketball Amateur) di Indonesia. Perempuan berusia 29 tahun ini sudah memimpin banyak pertandingan nasional dan internasional, seperti WIBL (Women Indonesia Basketball League), IBL (Indonesia Basketball League), Asean University Game, U-18, dan Championship for Women 2014.
Tahun 2016, ia memutuskan menggunakan jilbab, sebagai bagian dari proses perenungan panjang sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Dan “hambatan” pun datang dari FIBA sebagai federasi basket tertinggi. Dengan alasan keamanan, FIBA melarang wasit dan pemain untuk menggunakan penutup kepala atau jilbab dalam pertandingan internasional.
September 2016 nanti, Yuli mendapat tugas untuk menjadi wasit pada event SEABA Champ for Women di Malaysia. Namun, larangan FIBA itu kemungkinan besar akan menjegal langkahnya. Yuli pun mengajukan petisi agar FIBA mencabut larangan itu dan mengizinkan wasit dan pemain basket perempuan untuk mengenakan hijab sesuai keyakinan.

Foto: Yuli Wulandari - change.orgFoto: Yuli Wulandari – change.org

Selain Yuli sebagai wasit, ada Hamidah, salah satu pemain terbaik yang dimiliki Indonesia, yang juga tidak bisa bermain di ajang pertandingan bola basket Internasional karena aturan ini.
Gadis berusia 26 tahun yang berasal dari Ponorogo ini bahkan sudah berjilbab sejak kecil. Prestasi Raisa di bola basket cukup gemilang. Raisa pernah bermain di Liga Profesional WNBL dan WIBL. Berkat olahraga bola basket pula, Raisa bisa mendapatkan beasiswa pascasarjana di Universitas Airlangga Surabaya.

Tahun 2008, Raisa dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia Muda, namun namanya ditarik kembali dari daftar pemain karena ia bersikeras ingin tetap mengenakan jilbab saat bertanding.

Foto: Raisa Aribatul Hamidah - change.orgFoto: Raisa Aribatul Hamidah – change.org

Di Amerika sendiri, ada Bilqis Abdul Qadir dan Indira Kaljo yang juga tidak bisa bermain basket di luar negaranya karena aturan ini.

Kini, Yuli dan Raisa sama-sama berupaya mengetuk “kesadaran” FIBA, dalam hal ini Presiden FIBA Mr. Muratore, agar diizinkan tetap mengenakan jilbab selama pertandingan. Melalui petisi, Yuli dan Raisa berharap mendapat dukungan untuk mendapatkan jalan terbaik. Petisi Yuli bisa diakses di sini, sementara petisi Raisa bisa diakses di sini.

Namun, bagaimana seandainya FIBA tidak juga mencabut larangan itu? Apa yang akan “dikorbankan” Yuli dan Raisa?
“(Petisi) Ini bukan buat saya. Saya memperjuangkan ini untuk banyak perempuan berhijab yang ingin menekuni olahraga bola basket. Apapun keputusan FIBA, saya akan tetap berusaha mempertahankan hijab saya,” kata Yuli.
Tekad serupa juga diutarakan Raisa. “Saya tidak akan berhenti bermain basket. Tapi melepas jilbab itu bukan pilihan bagi saya.”

Mantap! Semangat, Mbak-mbak!

Ayo dukung petisi Yuli dan Raisa!

 

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/08/yuli-wulandari-e1472378876793.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/08/yuli-wulandari-150x150.jpgFauzan MukrimRecent Posts,Horacio,Raisa Aribatul,SEABA,Yuli WulandariSaat ia akhirnya berhasil memperoleh lisensi wasit FIBA pada tahun 2014, Yuli Wulandari merasa mimpinya sudah tercapai. Saat ini, ia satu-satunya wasit perempuan bola basket yang berlisensi internasional FIBA (Fédération Internationale de Basketball Amateur) di Indonesia. Perempuan berusia 29 tahun ini sudah memimpin banyak pertandingan nasional dan internasional, seperti...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k