Aku mendapati kecil ini mengangkat dua bangku plastik mengikuti ibunya yang mendorong gerobak jualan berpindah tempat. Namanya Fahmiah. Seumuran kamu, Nak. 3 tahun. Di siang yang panas itu dia menemani ibunya berjualan minuman.

Seberang istana presiden di hari ini memang sungguh ramai. Puluhan bahkan ratusan ribu orang datang silih berganti. Mereka membawa bendera besar, truk dengan loudspeaker, dan teriakan yang seperti selalu berulang dari tahun ke tahun.

Bu Nafisah, ibunya Fahmiah, sehari-hari berjualan di Monas. Namun kedatangan buruh-buruh yang mengepung Istana Negara, membuatnya dengan senang hati memindahkan lapak. Karena pasti banyak yang kehausan hari ini.

Hari ini , Nak. Mereka juga menyebutnya Mayday, karena diperingati pada tanggal 1 Mei. Sejarahnya –setidaknya seperti yang dituliskan Wikipedia– dimulai ketika sekitar 400 ribu buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran pada tanggal 1 Mei 1886. Mereka menuntut pengurangan jam kerja yang biasanya 9 sampai 20 jam sehari menjadi 8 jam sehari. Tiga hari setelah demonstrasi dimulai, kelompok buruh semakin membesar. Aparat keamaman kewalahan dan mulai menembaki para demonstran. Ratusan orang tewas, dan para inisiator demonstrasi ditangkapi dan dijatuhi hukuman mati. Untuk menghormati pengorbanan mereka-lah, maka setiap tanggal 1 Mei buruh-buruh di seluruh dunia bersepakat jeda dari kegiatan produksi dan turun ke jalan menyampaikan tuntutan mereka.

Sebelum berangkat meliput demo tadi pagi, di mobil aku dan teman-teman berdiskusi kecil tentang siapakah yang disebut buruh itu. Dan apakah kami ini boleh disebut buruh. Seorang teman bilang bahwa buruh itu adalah mereka yang menjadi lapisan terbawah dalam proses produksi. Menurutku tidak selalu seperti itu. Aku bilang siapapun yang sewaktu-waktu bisa dipecat dari pekerjaannnya, maka dia adalah buruh. Jadi, dengan bangga, aku mengatakan bahwa aku adalah buruh. Aku buruh yang berkeringat dan berpanas-panas. Jika ada perbedaan, barangkali hanya pada saluran aspirasi. Beberapa kelompok buruh punya saluran aspirasi yang lancar, sementara kelompok yang lain tidak. Buruh-buruh yang kita kenal selama ini pada umumnya adalah mereka yang dibonsai dengan sistemik oleh pemilik modal, sehingga satu-satunya saluran politik mereka adalah dengan demonstrasi atau mogok kerja. Kelompok buruh inilah yang sering dicibir oleh orang-orang yang merasa berada di strata yang lebih agung, saat mereka berdemonstrasi atau menyerbu jalan tol sehingga menghambat lalu lintas.

Aku di mana, Nak? Bebas. Jika acuannya bahwa aku pun sewaktu-waktu bisa dipecat dari kantor ini, maka aku adalah sebenar-benarnya buruh, meskipun hari ini aku tidak ikut berdemonstrasi. Aku tidak menghentikan proses produksi. Aku justru mempercepat laju produksi tempatku bekerja pada hari ini. Kami mewawancarai banyak orang dan menyiarkannya. Kami membantu mereka bercerita tentang gaji yang di bawah UMR, jaminan kesehatan yang nihil, dan undang-undang ketenagakerjaan yang tidak berpihak. Begitulah hari ini bagiku, Nak. Selebihnya aku hanya duduk mengaso, mengamati kru TV lain bekerja, mengagumi kecantikan para reporter dan presenter mereka, dan melihat seorang tukang minuman memberikan minuman kepada orang gila yang melintas.

Semuanya memang tentang bagaimana kita mengamati apa yang tampak di sekeliling kita, Nak. Neil Gaiman seorang penulis buku dan wartawan, dalam pidato penganugerahan gelar akademis dari University of The Art Philadelphia –sementara dia sendiri nyaris tak pernah lulus dari lembaga pendidikan formal– mengutarakan alasan kenapa dia menjadi wartawan.

I wanted to write comics and novels and stories and films, so I became a journalist. Because journalists are allowed to ask questions, and to simply go and find out how the world works…

Tidur Siang di Hari Buruh

Iya, Nak. Ayahmu ini pun mengamini cita-cita sederhana itu. Ketika menjelang sore aku melihat Fahmiah akhirnya tertidur di gendongan ibunya, aku seperti dibawa untuk memahami apa yang dikatakan oleh Neil Gaiman. Beginilah dunia ini bekerja, Nak. Dunia ini berjalan karena kita semua tidak berhenti berjuang untuk kebahagiaan –untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai– dengan alasan yang kita sendiri kadang tak bisa pahami.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/02/streaming.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/02/streaming-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's NoteAnak,Hari Buruh,,Aku mendapati anak kecil ini mengangkat dua bangku plastik mengikuti ibunya yang mendorong gerobak jualan berpindah tempat. Namanya Fahmiah. Seumuran kamu, Nak. 3 tahun. Di siang yang panas itu dia menemani ibunya berjualan minuman. Seberang istana presiden di hari ini memang sungguh ramai. Puluhan bahkan ratusan ribu orang datang silih...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k