Tentara Amerika dan Pengusaha Ayam Potong

Ilustrasi. Img.freeimages.com
Ilustrasi. Img.freeimages.com

River, tadi malam di jalan tol, mobil travel yang aku tumpangi sempat beriringan dengan truk yang membawa ayam pedaging siap potong. Mereka tampak sehat, gemuk dan kalem. Aku duduk dekat jendela dan bisa melihat bulu-bulu halus ayam-ayam itu beterbangan, sesekali berkilau kena sinar lampu.

Aku sempat lama memperhatikannya karena kendaraan tak bisa bergerak cepat akibat jalanan yang lumayan padat. Orang-orang banyak yang ingin segera pulang ke Jakarta karena besoknya sudah harus bekerja lagi. Seperti aku.

Tiba-tiba terpikir, ah bagaimana rasanya menjadi ayam-ayam itu, dipisahkan dari orangtuanya atau anak-anaknya. Membayangkan diriku sebagai ayam itu cukup membuat nelangsa juga. Terkurung kehilangan kuasa.

Jean-Marc Bouju, seorang fotografer Perancis yang bekerja untuk The Associated Press, pernah mendokumentasikan sebuah yang bisa membuat hati ayah mana pun meleleh. Aku sendiri melihatnya di sebuah pamflet undangan World Press Photo.

Di sebuah penjara di base camp US Army 101st Airborne Division dekat Najaf, seorang pria warga Irak tampak berusaha menenangkan anaknya yang berumur 4 tahun. Bocah itu sangat ketakutan, dan ayah yang tak berdaya itu –dengan kepala yang ditutupi plastik– tetap berusaha melindungi dan menenangkan anaknya, betapa pun hidupnya sendiri tak jelas nasibnya.

img: Jean Marc Bouju
img:

Gambar ini diambil sekitar akhir Maret 2003, dan hingga minggu lalu, saat Obama mengumumkan penarikan seluruh tentara Amerika dari Irak, tak ada lagi yang tahu bagaimana nasib ayah dan anak ini.

Nak, inilah hidup, kita selalu berjuang untuk tetap bersama, tapi Tuhan juga menghadirkan tentara Amerika atau pengusaha ayam potong. Semata-mata agar kita belajar tangguh.

Aku ingat, di rumah, betapa sering kita biarkan semut berkeliaran di lantai. Setiap kali kamu berusaha untuk menjepit atau menekannya, ibumu sigap melarang, “Jangan, Nak, itu ayah semut sedang cari makan.”

Iya, Nak, semut-semut itu pun ada yang menunggunya pulang. Tapi berapa kali tanpa kita sadari, semut-semut itu terinjak dan tidak bisa pulang.

Siapa yang harus disalahkan?

Kita muslim yang selalu berusaha kaffah, Nak. Insya Allah. Namun dengan segala hormat, izinkan aku kutipkan untukmu sepotong doa yang pernah diucapkan oleh Reinhold Niebuhr, seorang teolog Protestan:

“Tuhan, berilah aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa aku ubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan keduanya.”

Demikian, Nak. Barakallah…

photo by Jean-Marc Boujo. Source: http://theroxor.com/2011/09/14/touching-war-photography

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

  • mwn

    setiap kali melihat foto ini, saya selalu nangis. ah…ada banyak hal yang tidak bisa kita ubah.

  • k'ochan, doa itu pertama kali saya baca di salah satu buku motivasi sekitar tahun 2000. Dan baru benar-benar saya pahami maknanya waktu research di salah satu pusat pemulihan ketergantungan narkoba.
    Trima kasih sdh mengingatkan kembali… ^_^