Tan Malaka dan Ridwan Kamil

Foto: ©Aidan Riza Achmad, 2016.
Foto: ©Aidan Riza Achmad, 2016.


Kebanyakan kelompok Islam antikomunis di Indonesia menganggap komunisme itu tunggal dan tidak terpecah ke dalam beberapa versi tafsir dan penerapan.

Maka, Tan Malaka, misalnya, mereka anggap satu-kesatuan tiada beda dengan Aidit yang terlibat kisruh September 1965. Sekali Tan Malaka komunis, otomatis dia juga pemberontak. Begitu logika mereka.

Jadinya ya agak sulit memahamkan bahwa Tan Malaka justru berseberangan dengan Alimin dan Musso pada momentum pemberontakan 1926. Itu belum terkait fakta bahwa gara-gara itu Tan Malaka dicap sebagai pengkhianat oleh PKI struktural, alias oleh Musso cs. Tan divonis sebagai trotskis, yang bertabrakan dengan Musso yang lebih condong sebagai stalinis.

Belum selesai. Problem pemahaman lain masih ada, yakni pemberontakan komunis jenis apa pun dianggap sama belaka. Makanya pemberontakan PKI 1926 dikira tak bedanya dengan 1948 dan 1965. Pokoknya persis template modul Penataran P4: PKI adalah pemberontak negara, yang ingin mengganti kesucian Pancasila dengan komunisme. Mereka tak ambil peduli, bahwa pada 1926 PKI justru memberontak melawan kolonial Belanda yang kafir itu.

Keluar lebih jauh lagi, kelompok-kelompok itu pun tak bisa membedakan antara komunisme Rusia, komunisme Cina, komunisme Kamboja, komunisme Korea Utara, komunisme Vietnam, dan komunisme lainnya lagi. Maka ketika despotis ala Pol Pot di Kamboja membantai di bawah bendera palu-arit, mereka menganggap bahwa itu pun dosa Ho Chi Minh, bahkan dosa Che Guevara.

Ketika rakyat Korea Utara menjadi manusia setengah robot, dikiranya semua negara komunis akan begitu. Mereka nggak tahu bahwa Vietnam sekarang, misalnya, warganya asik-asik saja, pariwisatanya maju pesat, kota-kotanya bersih, dan banyak masjid beraktivitas dengan lancar, tanpa muncul moncong bedil yang memaksa Bapak Takmir agar keluar dari Islam dan jadi atheis atau agar ia bersujud sambil menangis haru di depan poster Kim Jong Un.

Lucunya, mereka sendiri sebagai kelompok-kelompok Islam tidak mau disamakan dengan Taliban, dengan ISIS, atau dengan Boko Haram. Secara terbuka ataupun tidak, mereka mengakui bahwa Islam tidak tunggal dalam penafsiran. Namun di saat yang sama mereka memandang ideologi-ideologi di luar Islam secara mentahan gebyah-uyah tanpa sedikit pun upaya pemetaan.

(Coba bayangkan, bagaimana jika gara-gara umat Kristen dibantai di Mosul oleh ISIS trus ada orang ikut menyalahkan… Muhammadiyah, misalnya? ).

***
Saya yakin, Walikota Bandung tuh sama dengan saya: sama sekali bukan simpatisan PKI. Tapi Kang Emil tahu bagaimana mendudukkan masalah dan mendidik warganya, sehingga ia mengizinkan dan melindungi gelaran monolog Tan Malaka.

Saya berdoa, semoga para fans Kang Emil segera mengerti maksud dan cara berpikir idolanya, lantas dengan kecerdasan yang mencukupi mereka mau mengikutinya. Amiin allahumma amiin.

Alfatihah untuk Kang Emil.