Ibu-ibu, Ibu Kota

Seorang ibu yang bekerja tetaplah bisa menjadi ibu yang baik. Selama motivasi mereka demi kebahagiaan anak, suami dan keluarganya. Sederhananya, semuanya harus dilakukan demi cinta bukan karena ambisi pribadi.

semesta kobokan

Semesta Kobokan

Semesta kobokan sejatinya bukan hanya sebatas meja makan, atau meja operasi di Rumah Sakit. Ia menyimpan semacam pesan yang luhur. Kegunaan azalinya memang untuk membersihkan tangan sebelum makan, tapi kobokan juga semacam kiasan bahwa hidup ini mesti sering-sering dibersihkan.

Balada Calon Debitur

Kau bayangkan, ada seorang ibu yang masih merasai perih sehabis melahirkan, berjalan menyusuri hampir separuh Jakarta hingga kelelahan dan berhenti untuk rebah di mana saja.

River, di pekerjaanku ini aku sudah sering melihat ayah-ayah yang nyaris tak berdaya melawan nasib buruk. Tapi sejak kamu lahir, Nak, setiap kali melihat kejadian semacam itu, satu-satunya hal yang ingin aku lakukan adalah segera pulang ke rumah –iya, rumah kontrakan kita itu– dan memeluk kalian berdua. Kamu dan ibumu. Itulah rasa aman sederhana yang bisa aku sediakan.

Demikian Adanya

Itulah seorang ayah, Nak. Kadang hanya kebanggaan dari keluargalah yang diharapkannya. Mungkin karena usia tua, kami jadi semakin kehilangan fungsi. Suatu hari nanti, kami mungkin tak bisa lagi kau andalkan untuk memasang hammock atau menyalakan trangia-mu.

Doa Teknis di Tahun Baru

Berilah kesempatan kepada tanganku ini ya Allah, tanganku yang sudah mulai sering kesemutan ini. Aku ingin membuatkan River sebuah rumah pohon, di halaman depan rumah kami, lengkap dengan taman bacaan untuk anak-anak tetangga. Teman-temannya River kelak.

Tertawa Seperti Pocoyo

Berharap hidupmu seceria Pocoyo, bersahabat dengan Elly, Pato, Loula dan Sleepy Bird. Belajar tertawa. Hanya sibuk bermain sepanjang hari, hingga kelak kamu dewasa dan belajar berdamai dengan kenyataan. Just like Pocoyo, Son. Learning Through Laughter. Belajar menertawai kenyataan.

gadis di jendela

Anak Itu Seperti Rumah

Dan mungkin benar kata dokter Sri. Anak itu seperti rumah. Seyogyanya kau membangunnya hanya dengan material yang terbaik saja. Tapi ingin kulengkapi ajaran dokter Sri itu. Rumah tak hanya melulu soal material.

Sini kubuktikan. Bertahun-tahun aku dan saudara-saudaraku hidup di atas rumah panggung kayu, hingga kami besar dan meninggalkan rumah, meninggalkan tanah kelahiran. Rumah itu masih berdiri kokoh, padahal dia hanya terbuat dari papan dan sedikit batu bata. Beberapa tahun lalu, dia bahkan selamat dari serangan angin puting beliung di saat beberapa rumah tetangga kami beterbangan atap-atapnya. Tentu ada hal yang membuatnya bisa tetap berdiri, sekalipun tanpa material terbaik.