Dia Bukan Lagi Alay

Di gang sebelum kantor, aku berjalan di belakang seorang perempuan yang sering aku lihat ada di antara kerumunan penonton-penonton alay itu. Tapi kali ini dia tidak sedang menjadi alay. Pakaiannya bukan yang sering dia pakai saat menonton acara-acara musik. Aku lihat ada sedikit lubang di dekat kerah bajunya. Mungkin baju lungsuran dari entah siapa. Baju yang dipakainya itu adalah seragam kerja cleaning service di kantor di gedung baru sebelah kantorku.

Dia memakainya dengan bangga. Dia bukan lagi alay, sehingga kami bisa berhenti memandangnya dengan tatapan seolah-olah tengkorak kepala kami lebih tinggi dari dia.