Pertemuan dua anak

#dearRiver Sembilan tahun lalu, saya dan beberapa orang kawan diperintahkan berangkat ke Nusakambangan. Kami ditugaskan mewawancarai tiga teroris paling berbahaya saat itu, trio pelaku pengeboman…

Mug konser dari bapak

Mug Konser dari Bapak

Mug porselen ini pernah mengajariku tentang kasih sayang, tentang upaya sederhana seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya. Kiranya ada seseorang yang ingin membuat sebuah “Museum untuk Ayah Hebat”, aku ingin menitipkan barang ini untuk dipajang di etalasenya. Aku titip mug-ku.

Balada Calon Debitur

Kau bayangkan, ada seorang ibu yang masih merasai perih sehabis melahirkan, berjalan menyusuri hampir separuh Jakarta hingga kelelahan dan berhenti untuk rebah di mana saja.

River, di pekerjaanku ini aku sudah sering melihat ayah-ayah yang nyaris tak berdaya melawan nasib buruk. Tapi sejak kamu lahir, Nak, setiap kali melihat kejadian semacam itu, satu-satunya hal yang ingin aku lakukan adalah segera pulang ke rumah –iya, rumah kontrakan kita itu– dan memeluk kalian berdua. Kamu dan ibumu. Itulah rasa aman sederhana yang bisa aku sediakan.

Bertamu

Sudah banyak orang yang bicara tentang kesucian, pahala, atau FPI. Tapi masihkah ada yang mau mengajak kita bicara tentang hal-hal mungil. Ramadhan adalah saat untuk menanyakan kembali kabar guru-guru kita. Mungkin mereka punya cerita tentang betapa nakalnya kita dulu.

Demikian Adanya

Itulah seorang ayah, Nak. Kadang hanya kebanggaan dari keluargalah yang diharapkannya. Mungkin karena usia tua, kami jadi semakin kehilangan fungsi. Suatu hari nanti, kami mungkin tak bisa lagi kau andalkan untuk memasang hammock atau menyalakan trangia-mu.

Pundak Seorang Ayah

Tapi begitulah, River. Ternyata menjadi ayah itu bukan melulu soal punya pundak kuat atau tidak. Yang lebih penting adalah seberapa ikhlas seorang ayah ingin mendukung anaknya di atas pundaknya, dan membiarkan sang anak melihat apa yang tidak bisa si ayah lihat di ketinggian itu.

Tali Cadangan di Sepatuku

Adalah seorang kawan yang mengajarkan. Itu saat kami masih sering berkelana kemana-mana. Masuk ke kampung ke orang, hanya membawa ransel dan diri. Tali itu ada di sana, Nak, di sepatuku, karena aku yakin suatu hari pasti akan bertemu dengan seseorang yang membutuhkan. Dan dengan itu, Nak, semoga aku bisa merasa sedikit berguna.

Tentang Seorang Lelaki

Aku takjub pada caranya memelihara cinta. Di sekitar meja tempat kue brownies tanpa lilin itu ditaruh, dia dikelilingi oleh seorang istri dan empat anak yang beruntung. Aku tahu aku tak akan pernah penuh seperti lebah memiliki madu. Aku hanya berharap suatu hari nanti aku bisa bilang padamu: “Ada banyak cinta yang menunggumu di sini, Nak.

Doa Teknis di Tahun Baru

Berilah kesempatan kepada tanganku ini ya Allah, tanganku yang sudah mulai sering kesemutan ini. Aku ingin membuatkan River sebuah rumah pohon, di halaman depan rumah kami, lengkap dengan taman bacaan untuk anak-anak tetangga. Teman-temannya River kelak.

Tertawa Seperti Pocoyo

Berharap hidupmu seceria Pocoyo, bersahabat dengan Elly, Pato, Loula dan Sleepy Bird. Belajar tertawa. Hanya sibuk bermain sepanjang hari, hingga kelak kamu dewasa dan belajar berdamai dengan kenyataan. Just like Pocoyo, Son. Learning Through Laughter. Belajar menertawai kenyataan.

gadis di jendela

Anak Itu Seperti Rumah

Dan mungkin benar kata dokter Sri. Anak itu seperti rumah. Seyogyanya kau membangunnya hanya dengan material yang terbaik saja. Tapi ingin kulengkapi ajaran dokter Sri itu. Rumah tak hanya melulu soal material.

Sini kubuktikan. Bertahun-tahun aku dan saudara-saudaraku hidup di atas rumah panggung kayu, hingga kami besar dan meninggalkan rumah, meninggalkan tanah kelahiran. Rumah itu masih berdiri kokoh, padahal dia hanya terbuat dari papan dan sedikit batu bata. Beberapa tahun lalu, dia bahkan selamat dari serangan angin puting beliung di saat beberapa rumah tetangga kami beterbangan atap-atapnya. Tentu ada hal yang membuatnya bisa tetap berdiri, sekalipun tanpa material terbaik.