Gubernur Jakarta dan Tukang Comro yang Hilang

Bagian ke 2 dari 2 artikel dalam Topik : Menuju Jakarta Baru (Lagi)

Sebagai pemantau, saya melihat ada banyak kandidat lain juga yang bisa menjadi pengganti Ahok. Tentu tak ada gubernur yang bisa sempurna, yang bisa sempurna hanya Andra and The Backbone. Saya tak bermasalah dengan cara Ahok berbicara, karena itulah gayanya. Hanya saja kadang saya tidak setuju dengan isi ucapannya, khususnya masalah kabel yang katanya sabotase.

Masih Ada Tuhan di Kalijodo

Jelang detik-detik akhir pengusuran Kali Jodo, banyak cerita yang tercecer di tempat kelam ini, kiranya foto cerita ini dapat sedikit mewakilkan kerapuhan jiwa anak manusia serta lingkungannya kembali menyandarkan hati mereka pada sang Maha Kuat sebagai pelindung mereka.

Ibu-ibu, Ibu Kota

Seorang ibu yang bekerja tetaplah bisa menjadi ibu yang baik. Selama motivasi mereka demi kebahagiaan anak, suami dan keluarganya. Sederhananya, semuanya harus dilakukan demi cinta bukan karena ambisi pribadi.

Membayangkan Jakarta Besok

Selalu ada kelompok-kelompok kecil yang memimpikan perbaikan untuk kota ini, yang tidak puas hanya menjadi tukang teriak tanpa solusi. Mereka yang beranggapan untuk hidup di Jakarta tidak melulu harus menunggu uluran tangan pemerintah atau penyelenggara negara

Menonton Artis Ibukota

Oya, Nak, Hari Mukti sekarang sudah jadi da’i, beliau tidak lagi naik ke atas kap mobil jip. Nike Ardilla tewas kecelakaan. Ikang Fauzi menikah dengan Marissa Haque. Anang sekarang tidak lagi berduet dengan Syahrini. Ashanti menggantikannya. KD dan Raul Lemos juga sudah punya anak. Namanya Amora.

Norman Kamaru

Norman dan Pak A

Briptu Norman hadir untuk menyampaikan pesan bahwa nasib tak ubahnya jalan raya yang tak bisa kita tebak kelokannya. Bermula dari seorang petugas jaga pada sebuah kantor polisi di propinsi baru mekar, Norman pulang sebagai sosok yang dielu-elukan, bertengger di atas kendaraan Barakuda dan melambai kepada khalayak dengan posisi tangan sejajar tubuh persis Putri Indonesia.

Jangan Hujan Malam Ini

Jadi begitulah, Nak. Tadinya aku berharap hujan turun malam ini. Hingga tadi, sebelum aku bertemu tukang kerak telor di depan Rumah Sakit JMC itu. Babe Rahmat yang tanpa henti mengipasi tungku dan berkali-kali meminta maaf karena telah membuat kami menunggu, telah mengajari kami satu lagi sudut pandang kebahagiaan.

Dia guru kami malam ini. Dan sungguh sangat tak berterima kasihlah kami jika mengharapkan hujan turun. Babe Rahmat masih akan di sana hingga tengah malam. Tanpa atap.

Adapun kami yang berharap turun hujan, seringkali hanya menginginkan romansa dan sedikit melankoli.