Mug konser dari bapak

Mug Konser dari Bapak

Mug porselen ini pernah mengajariku tentang kasih sayang, tentang upaya sederhana seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya. Kiranya ada seseorang yang ingin membuat sebuah “Museum untuk Ayah Hebat”, aku ingin menitipkan barang ini untuk dipajang di etalasenya. Aku titip mug-ku.

Bukan Bobo

Dalam safari bergurunya, Nabi Musa dibuat heran oleh tindakan Nabi Khidir yang menegakkan sebuah tembok rumah yang hampir roboh. Nabi Musa, yang sebelum bertemu Nabi Khidir sempat menyebut dirinya sebagai mahluk paling alim di bumi, tak bisa menerima begitu saja tindakan Nabi Khidir. Mengapa dia harus menegakkan sebuah tembok di kota yang berisi orang-orang kafir yang tak mau menerima mereka dengan baik? Sebelumnya, Nabi Khidir melubangi perahu nelayan yang memberi mereka tumpangan dan membunuh seorang anak kecil yang mereka temui.

Demikian Adanya

Itulah seorang ayah, Nak. Kadang hanya kebanggaan dari keluargalah yang diharapkannya. Mungkin karena usia tua, kami jadi semakin kehilangan fungsi. Suatu hari nanti, kami mungkin tak bisa lagi kau andalkan untuk memasang hammock atau menyalakan trangia-mu.

Malaikat yang Terinjak Sayapnya

Salah satu sebab aku menjadi wartawan, adalah karena ingin menyamai perjalanan bapakku. Bapakku pernah mendatangi banyak tempat, dan aku ingin seperti dia. Setiap tiba di tempat baru, aku pasti mengabari bapakku. Bapak, aku di Miangas! Bapak, aku di Soweto! Seringkali aku tergelincir untuk membangga-banggakan keberhasilanku, tapi pada saat itulah sebenarnya kegagalanku. Sampai pada satu titik, aku menyadari bahwa aku tak akan pernah bisa menyamai perjalanan bapakku.

Pundak Seorang Ayah

Tapi begitulah, River. Ternyata menjadi ayah itu bukan melulu soal punya pundak kuat atau tidak. Yang lebih penting adalah seberapa ikhlas seorang ayah ingin mendukung anaknya di atas pundaknya, dan membiarkan sang anak melihat apa yang tidak bisa si ayah lihat di ketinggian itu.

Hari Ketika Bapak Pergi

Kita sering berangan-angan tentang tangan siapa yang terakhir akan kita pegang saat sakaratul maut. Tapi itu belum tentu juga seperti yang kita bayangkan. Kita tidak pernah tahu di mana dan bagaimana kita akan berakhir. Aku pernah melayat seseorang yang mati karena kecelakaan panser. Aku pernah melayat seseorang yang mati karena dilempar dari kereta api yang melaju kencang. Tentu mereka tidak pernah membayangkan akan berakhir seperti itu.

Sungai Muhammad

Lalu tiba-tiba aku sadar ternyata tidak begitu mengenal dia. Justru di hari-hari terakhir hidupnya itu, baru muncul keinginan untuk tahu semua tentangnya. Banyak yang aku lewatkan, rupanya. Aku tak tahu dia pernah kemana saja, bagaimana dia bertemu dengan ibu saya, dan kenapa dia begitu ngotot melindungi seorang sahabatnya yang khianat dan membuat kehidupan kami nyaris porak poranda secara ekonomi.