foto: http://theshoethatgrows.org
foto: http://theshoethatgrows.org


Sekitar tahun 2007, saat bekerja di sebuah rumah yatim piatu di Nairoba, Kenya, bertemu dengan seorang gadis kecil yang terpaksa memotong bagian depan sepatunya karena sudah tidak muat lagi di kakinya. Perjumpaan dengan gadis kecil berbaju putih itu saat membekas bagi Kenton.

Di sejumlah negara miskin di Afrika, memiliki sepasang adalah kemewahan bagi seorang anak. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak pernah memiliki hingga beranjak dewasa. Hal itu sangat mengkhwatirkan Kenton, karena bagi anak-anak, kontak langsung dengan tanah dalam jangka waktu lama cukup membahayakan. Tanah bisa menularkan parasit dan penyakit yang berbahaya bagi kesehatan.

Pulang ke negaranya, Kenton berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk anak-anak itu. Ia kemudian terpikir untuk membuat sebuah sepatu yang kuat dan bisa dipakai bertahun-tahun. Jawabannya adalah sepatu yang bisa .

 

foto: http://theshoethatgrows.orgfoto: http://theshoethatgrows.org

 

Di bawah naungan organisasi Because International yang berbasis di Idaho, Amerika Serikat, Kenton dan timnya mulai melakukan riset pada tahun 2009. Saat memaparkan idenya, mereka menemui berbagai penolakan dari perusahaan sepatu, dan juga mengalami beberapa kali kegagalan saat membuat prototype-nya.

Kenton Lee, Founder "The Shoe That Grows" -- foto: http://theshoethatgrows.orgKenton Lee, Founder “” — foto: http://theshoethatgrows.org

 

Setelah sekian tahun bekerja keras, sepatu yang mereka cita-citakan itu akhirnya terwujud.
“Sepatu ini bisa membesar di tiga tempat,” kata Kenton Lee, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia.
Di bagian depan dengan menggunakan semacam kancing besi, bagian samping yang menggunakan velcro, dan bagian belakang yang menggunakan semacam kepala gesper. Alasnya menggunakan karet padat seperti yang biasa digunakan untuk ban mobil. Sebagaimana dikutip dari laman theshoethatgrows.org, sepatu ini bisa melar hingga lima nomer.

foto: http://theshoethatgrows.orgfoto: theshoethatgrows.org

 

Organisasi Because International telah mengirim 50 ribu pasang sepatu ini ke 70 negara. Sepatu ini tersedia dalam 2 ukuran. Ukuran S untuk anak usia 4 hingga 9 tahun, dan ukuran L untuk anak usia 9 hingga 14.

Kenton masih terus mengembangkan sepatu ini agar lebih tahan lama, termasuk dengan menggunakan bahan kulit berkualitas. Semakin lama sepatu ini bertahan, semakin lama anak-anak itu berbahagia.

foto: theshoethatgrows.orgfoto: theshoethatgrows.org
Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/10/Child-Broken-Shoes-1-1024x768.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/10/Child-Broken-Shoes-1-150x150.jpgFauzan MukrimThe WorldKenton Lee,melar,Sepatu,The Shoe That GrowsSekitar tahun 2007, saat bekerja di sebuah rumah yatim piatu di Nairoba, Kenya, Kenton Lee bertemu dengan seorang gadis kecil yang terpaksa memotong bagian depan sepatunya karena sudah tidak muat lagi di kakinya. Perjumpaan dengan gadis kecil berbaju putih itu saat membekas bagi Kenton. Di sejumlah negara miskin di Afrika,...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k
  • 142
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    142
    Shares