Semua Mulia

 


Nak, jika tiba saatnya kita harus bicara sebagai sesama lelaki, ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sama-sama. Itu kalau kita bisa. Tentang bagaimana kita mengukur dan memahami kasih seorang ibu.

Sangat panjang jalan yang harus ditempuh oleh seorang ibu untuk bisa seperti sekarang.
Di waktu kita kecil, sering dikisahkan riwayat Ibunda Siti Hajar yang berlari-lari di gurun gersang untuk mencari air bagi Ismail yang kehausan. Dari sana kita tahu betapa kasih seorang ibu membentuk tapak sejarah yang tak pernah lekang.
Tapi ibu juga tidak selalu mendapat tempat yang baik di tangga zaman.
Ada banyak masa ketika mereka sebagai perempuan- ditelantarkan dan digelapkan.

Tahun 1928, 15 orang ibu berkumpul di Joyodipuran Mataram pada beberapa malam di penghujung bulan Desember dan mencoba menyuarakan pendapatnya. Ada seorang ibu, namanya Djami, membacakan isi hatinya:
Doeloe, waktoe saja masih ketjil, djika kaka saja maoe pergi mengail, kailnja saja pegang agak sebentar, marah ia amat sangat. Hai, djangan, katanja. Djangan, nanti saja ta beroleh ikan.
…
Sedjak dari ketjil kita kaoem perempoean telah ditjela, dinista oleh kaoem laki-laki. Ja, oleh maatschappij (masyarakat), sesoenggoehnja.

Petikan kalimat itu –sebagaimana yang dirangkum oleh seorang peneliti Australia, Susan Blackburn, adalah bagian dari pidato Bu Djami yang berjudul Ibu yang dibacakannya pada Kongres Perempuan Pertama tanggal 22-25 Desember 1928. Dalam kongres ini, Djami mewakili perkumpulan Darmo Laksmi dari Salatiga. Perhelatan kongres ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal Hari Ibu Nasional yang kita peringati tiap tahun sekarang.

Begitulah sejarah mencatat bahwa hal yang kita sebut ketidakadilan itu pernah begitu lekat dalam kehidupan seorang perempuan.

Waktu aku kecil, aku pernah mendapati seorang perempuan tua terbata-bata membaca tulisan di televisi. Satu kalimat pendek betapa sulitnya ia selesaikan. Dia tak pernah sekolah, meski adik-adiknya yang laki-laki semua bisa sekolah tinggi sampai menjadi sarjana atau insinyur .

Lalu putri tertuanya tak ingin mewarisi kemalangan itu. Dengan susah payah, dia tetap berangkat ke sekolah meski keadaan sangat sulit waktu itu. Aku pernah melihat papan sabak batu tulisnya, berwarna hitam dan berbingkai kayu kuning dan kalau sekiranya benda itu muncul saat ini mungkin akan dikira iPad. Dan alhamdulillah, ilmu yang dikumpulkannya itu masih bisa digunakannya hingga sekarang saat usianya 60 tahun, di saat PNS lain seusianya sudah harus istirahat pensiun.

Beberapa tahun yang lalu, aku melihat foto wisuda seorang perempuan tergantung di sebuah rumah. Betapa senangnya dia terlihat di gambar itu. Senyumnya mengembang cerah saat berjabat tangan dengan Rektor.

Tak lama setelah wisuda itu, dia mendapat pekerjaan yang menjadi jembatan impiannya. Dengan pekerjaannya itu dia bisa bertemu banyak orang dan bepergian kemana-mana. Senang belaka hidupnya. Lalu dia bertemu seorang pria dan kemudian menikah dengannya. Dan hanya berselang setahun, dia melahirkan seorang anak yang dinanti-nantikannya. Dia lalu keluar dari pekerjaannya agar bisa berada sedekat dan sesering mungkin dengan anaknya.
Begitu saja.

Sia-siakah ilmunya? Sia-siakah dia sekolah setinggi itu hanya untuk menyusui?
Jika kau tanya padaku, aku akan bilang tidak. Sama sekali tidak.

Seperti halnya aku menganggap ibu yang masih bekerja di usia 60 tahun itu sangat agung dan mulia, perempuan yang berhenti bekerja itu pun sama mulianya di mataku.

Perempuan yang masih bekerja itu adalah ibuku, Nak, dan perempuan yang berhenti bekerja itu adalah ibumu. Mereka adalah ibu yang berusaha menyediakan selimut hangat untuk anaknya dengan caranya sendiri-sendiri. Semuanya mulia. Itu cara mereka masing-masing untuk menunjukkan cintanya yang mustahil terukur.

Selamat Hari Ibu, Mak. Selamat Hari Ibu, Desanti.
Kalian adalah mata air dan muara kebahagiaanku.

 

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim