Foto: lifeofpix.com
Foto: lifeofpix.com

“Lho, itu kan Hendri Lamiri,” kata saya dalam hati. Saya mengangkat kepala yang tadinya sibuk tertunduk menatap layar gadget. Saya diserang bosan, berada di tengah kerumunan anak usia belasan. Riuh rendah suara MC yang sesekali berteriak genit, kerlap lighting serta bising sound system yang membuat mata dan telinga bekerja berat. Tahu gini, tadi saya bisa bawa kacamata gerhana sisa kemarin untuk menangkal silau lampu, toh di pintu masuk tadi saya lihat tamu undangan dibagikan topeng satu orang satu. Jadi, ya kurang lebih style-nya sama, hanya kurang seuntai bulu ayam saja.

Saya tentu tidak bisa lupa dengan Hendri Lamiri. Masa remaja saya beririsan dengan eksistensi band Arwana yang digawangi Hendri dan kawan-kawannya dari Pontianak. Sekedar tambahan info yang (tidak) penting, Tukul, yang suka “eaa… eaa… eaa… eaaaaa…” itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan band ini. Bagi anak muda 90-an yang rajin nongkrong gitaran di pinggir jalan, lagu “Angsa Putih” adalah semacam benchmark untuk mengukur kemampuan olah vocal. Hendri memegang alat musik biola, instrumen yang tidak umum untuk sebuah band beraliran Pop-Rock. Dia gampang sekali dikenali, dengan biola di pundak kiri dan topi yang bentuknya khas, kita bisa dengan cepat mengetahui bahwa itu Hendri, selain karena di musisi yang memilih biola sebagai spesialisasinya adalah hal yang tak jamak. Makanya, ketika suara gesekan dawai mengalun menginterupsi kebisingan yang sedari tadi mengepung suasana, saya langsung mengangkat kepala. Hendri Lamiri berjalan mengiringi seorang gadis, si empunya hajat, dari ujung ruangan yang sunyi menuju ke panggung utama. “Oh, acaranya sudah dimulai…”

Tadinya saya tidak berniat hadir. Saya sudah memperkirakan akan seperti apa acara ini berlangsung. Saya sedikit banyak tahu perilaku dan kehidupan si gadis. Kebetulan, orang tuanya adalah kenalan saya. Karena kesamaan identitaslah yang menjadi alasan saya menghadiri undangan ini. Ayahnya terbilang sebagai perantau yang sukses di ibu kota. Dia memimpin sebuah perusahaan manpower supply dengan karyawan tak kurang dari dua belas ribu orang.

Sang ayah, si gadis, serta keluarga kecilnya berkumpul di panggung, menyampaikan ucapan selamat, rasa syukur, serta harapan-harapan untuk si gadis di masa datang. Sebelum prosesi potong kue, si gadis memejamkan mata, memanjatkan make-a-wish-nya ke langit malam. Setelah api lilin mati dihembus, Hendri kembali memanggul biolanya, mengiringi orang-orang bersorak, bergembira, bernyanyi: panjang umurnya.

***

Sepuluh jam sebelumnya, saya dibangunkan oleh sebuah panggilan telepon. Saya disuruh bersegera, “Ada urusan mendesak,” kata suara di seberang. Mandi kemudian saya tunda nanti. Di dekat rumah tempat saya tinggal, ada sebuah Majelis Ta’lim yang dipimpin oleh seorang ulama. Beliau kami daulat sebagai Guru. Sudah masyhur di tanah Jakarta dan sekitarnya perihal kedermawanannya. Karena itu, bukan sekali dua ada orang yang datang meminta uluran tangan beliau. Entah urusan pembayaran sekolah, tunggakan kontrakan, atau biaya rumah sakit. Macam-macam. Termasuk pagi itu, seorang ibu datang menangis meratap membawa sebuah nota rumah sakit beratasnamakan cucunya yang sedang terbaring di ICU. Saya diperintahkan untuk segera berangkat, pergi ke rumah sakit mengecek kebenaran berita yang dibawa oleh si ibu. Saya kemudian mengantar ibu tersebut kembali ke rumah sakit yang dimaksud, sekalian memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Kami bermotor, menembus siang yang mulai menyengat. Tak seberapa jauh, hanya empat kilometer dari rumah.

Sesampai di tujuan, sambil berjalan menuju ruang perawatan, saya menggali informasi, bagaimana gerangan cara si ibu bisa sampai di tempat kami. Katanya, dia mempunyai seorang tetangga yang rajin hadir ta’lim setiap hari minggu sore di Majelis. Dari situ dia tahu, bahwa pimpinan Majelis adalah orang yang sering menjadi jalan keluar bagi permasalahan orang lain. Sebab itu, berbekal selembar nota, datanglah dia mengadu nasib, berharap ada titik terang bagi sebuah jalan (yang hampir) buntu.

Kami naik ke lantai tiga, tempat di mana ruang perawatan intensif berada. Setelah melepas alas kaki dan mengenakan pakaian khusus, kami berjalan menuju tempat pasien yang terhalang dinding kaca. Di dalam sana, seorang bayi berusia enam bulan tergeletak tak berdaya, dalam keadaan koma. Konon ada virus yang menyerang, ditambah lagi paparan asap rokok dari lingkungan tempat tinggal yang melumpuhkan tubuh kecilnya. Ayah dan ibunya ada di dalam, menunggu semacam keajaiban yang akan datang dari entah mana. Dengan mode kamera handphone yang siaga sejak tadi, saya mengambil gambar yang berbuah teguran dari pegawai rumah sakit, “Pak, di sini tidak dibolehkan memotret.”
Saya meminta maaf untuk itu, namun bahan dokumentasi sudah masuk camera roll. Saya menghampiri petugas jaga, bertanya perihal penyakit serta data administrasi pasien. Orang tua pasien tinggal di Depok, namun daerah asalnya adalah Wonosobo. Karena tak ber-KTP Depok, Jamkesda yang sedianya meng-cover seluruh biaya pengobatan ini sepertinya agak sulit untuk dicairkan. Syarat berupa KTP dan KK harus terpenuhi, namun tembok birokrasi yang begitu tebal teramat susah ditembus. Mereka harus menunggu sampai hari senin untuk sekedar mendapat kabar yang belum jelas akan ke mana arahnya. Dari layar monitor komputer yang ada di meja resepsionis, petugas rumah sakit memberitahu bahwa biayanya sudah menembus angka dua puluh juta rupiah. Dan, kita tahu sendiri, keluarga pasien yang dirawat di ICU mendapat cobaan yang berlipat, dari segi penyakit dan biaya. Untuk orang miskin seperti Ayah si bayi yang bekerja sebagai kuli bangunan dan Ibu sebagai buruh cuci, angka-angka itu melipatgandakan rasa sakit yang harus dipikulnya.

Saya mengajaknya keluar ruangan. Berbicara sekedarnya, mencoba menenangkan, insyaALLAH sehat, selamat dan ada jalan. Sembari memberi semangat untuk lebih giat mengurus penerbitan KTP dan KK di kelurahan tempat dia tinggal. Dia sepertinya malu terhadap kelakuan ibunya yang ke mana-mana meminta bantuan. Gerak tubuhnya berkata demikian. Dia tidak berani menatap mata saya ketika berbicara. Hari itu dia butuh dua juta rupiah untuk menebus obat dan transfusi darah. Saya mengangsurkan uang titipan dari Majelis untuk pembeli obat dan sekedar pegangan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kami masih menunggu kabar baik dari pemerintah lewat program Jamkesda itu, sambil diam-diam mengumpulkan bantuan.

***

Sepulang dari pesta ulang tahun, saya langsung menuju rumah, merebahkan badan di atas kasur. Saya menerawang. Langit-langit kamar mempertontonkan potongan fragmen-fragmen kejadian seharian. Dari pinggir kolam renang tempat acara berlangsung tadi, saya mencuri dengar percakapan sahibul hajat, bahwa biaya yang dikeluarkan untuk event sweet seventeen party di Hotel Grand Kemang itu berkisar dua ratusan juta rupiah.

Siang tadi saya bertemu orang yang hampir putus asa mengumpulkan uang untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Malamnya, saya berhadapan dengan satu keluarga yang bersenang-senang menghamburkan uang demi sebuah status sosial berdalih syukuran ulang tahun.

Perut saya tiba-tiba mual…

Ahsan Azhar

Ahsan Azhar

Bekerja paruh waktu sebagai nelayan. Kalau tidak sedang melaut, sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Ahsan Azhar
http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/03/2015-04-Life-of-Pix-free-stock-photos-night-red-fireworks-Photostockeditor-1-1024x680.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/03/2015-04-Life-of-Pix-free-stock-photos-night-red-fireworks-Photostockeditor-1-150x150.jpgAhsan AzharLife of UsAhsan Azhar,'Lho, itu kan Hendri Lamiri,' kata saya dalam hati. Saya mengangkat kepala yang tadinya sibuk tertunduk menatap layar gadget. Saya diserang bosan, berada di tengah kerumunan anak usia belasan. Riuh rendah suara MC yang sesekali berteriak genit, kerlap lighting serta bising sound system yang membuat mata dan telinga bekerja...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k