Sematjam Kasih Sayang

Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Pagi itu, Nak, ibumu mengayuh sepedanya ke kantor dengan mata basah. Itu hari pertamanya kembali bekerja setelah cuti melahirkanmu. Laju sepeda lipat Dahon itu pasti terasa berat di kakinya. Aku tahu. Itu hari yang berat. Kami harus membangunkanmu pagi-pagi , dan kau masih tertidur ketika akhirnya kamu sampai di tempat penitipan anak. Dan kami pun merasa ini bukan sesuatu yang cukup benar.

Sehingga kami –terutama ibumu– sampai pada keputusan itu. Cukup satu hari itu saja kamu lepas dari gendongan kami. Bukan apa-apa, Nak. Sama sekali bukan pengorbanan. Hanya tanda . Ibumu memutuskan berhenti dari pekerjaannya karena cintanya padamu yang mustahil terukur. Dia bukan lagi jurnalis. Padahal, demi Allah, ibumu sangat mencintai pekerjaannya itu. Tapi dia jauh lebih mencintaimu, Nak.

#
Ketika menikah dulu, banyak yang bertanya, kenapa kami mencantumkan lirik lagu di undangan pernikahan kami, dan bukannya doa pernikahan Fatimah Zahra atau ayat suci Al-Quran sebagaimana lazimnya orang-orang. Kami tidak banyak menjawab, hanya sesekali berkelakar bahwa orang pasti akan tetap mendoakan kami tanpa harus tercetak di undangan. Dan begitulah ceritanya sehingga engkau melihat ada lirik lagu The Panasdalam di undangan pernikahan kami. Aku meminta izin kepada Kang Pidi Baiq, vokalis band The Panasdalam, untuk menggunakan lirik lagu karangannya itu.

Semacam kasih sayang
yang kuberikan padamu
meski tidak sehebat matahari untuk dunia

inipun kasih sayang
yang kuikhlaskan kepadamu
meski tidak semewah sebagaimana orang lain

hanyalah kepadamu
selalu kepadamu

inilah kasih sayang
yang kupasrahkan kepadamu
dengan tanpa peduli bagaimana engkau membalas..

Karena kami memang tidak punya apa-apa waktu itu, Nak. Hanya kasih sayang yang bisa kami ikhlaskan satu sama lain. Seperti yang kami punya untukmu kini.

Kasih sayang dan tuturkata yang lembut, Nak, insya Allah akan menyelamatkan kita melewati hari-hari yang keras sekalipun. Dan beruntunglah kita dianugerahi wanita yang memiliki itu semua. Seorang wanita yang bahkan kepada binatang pun dia sangat peduli. Ibumu itu, Nak, pernah menegurku karena aku berjalan tak hati-hati sehingga seekor kecoak terinjak tanpa sengaja…

#
Sore tadi, kamu menemani ibumu ke (bekas) kantornya, mengosongkan loker dan membawa pulang benda-benda pribadinya yang mungkin masih tertinggal. Itu juga bukan saat yang mudah, apalagi bagi orang bertipe sanguin koleris seperti ibumu. Itulah tipe orang yang menghargai setiap pengalaman.

Bagaimanapun juga, kantor itu telah menempanya menjadi kuat. Menjadi lebih kuat untuk melakoni lain, terberat di kolong langit ini: menjadi penuh untukmu, dan memastikan dirinya selalu ada setiap saat kamu ingin menyusu.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim