Pearl Jam. Foto:Flipboard
. Foto:Flipboard

Seminggu yang lalu, aku membawamu ke konser pertamamu. Hanya sebuah pertunjukkan musik kecil sebenarnya, tapi mari kita sepakat menyebut itu konser. Digelar di bawah hujan gerimis di sebuah mini stage di parkir timur Senayan. Bittertone membawakan lagu-lagu Pearl Jam.

Kami semua, penghayat dan pengamal selai mutiara, mendengarkan dengan khusuk. Ibumu duduk di kursi, yang sengaja kusiapkan agar dia tak terlalu lelah menopangmu yang dikandungnya. Di sampingnya seorang ibu muda yang juga sedang hamil, juga duduk di kursi. Lihatlah, mereka berdua adalah korban selera suami. Suami wanita muda itu berdiri di depan, mengawasi anaknya yang masih balita yang berlarian ke sana-kemari. Di bajunya –bocah mungil itu- tersemat sebuah pin PJID. Pearl Jam Indonesia.

Sedang aku, suami ibumu, berdiri tak jauh dari ibumu. takut kenapa-napa. Ini gempuran speaker raksasa pertamamu. Sebagai suami siaga, aku harus pandai membaca tanda-tanda. Aku harus sigap membawa ibumu menjauh jika dia menunjukkan tanda-tanda bosan atau tak suka. Tapi ibumu tenang-tenang saja, dan kamu juga, River. Bahkan hingga lagu Alive dan Yellow Ledbetter yang fenomenal itu.

Yellow Ledbetter. Inilah lagu yang membantuku melewati masa-masa sulit di zaman kuliah. Bagiku, ini adalah hymne yang hampir mantra, sekalipun aku tak benar-benar mengerti liriknya tentang apa. Tapi itulah Pearl Jam. Engkau tak harus mengerti untuk menyukainya. Seperti halnya kau tak akan mengerti Mohammad siapa yang mereka maksud di lagu Not For You. Restless soul, enjoy your youth. Like Mohammad hits the truth!, begitulah Eddie Vedder berteriak. Eddie sendiri pun tak pernah mengkonfirmasi Mohammad siapa itu. Tapi secara pribadi, saya menduga itu adalah Rasulullah Muhammad SAW, mengingat kedekatan Eddie Vedder dengan Yusuf islam a.k.a Cat Steven dan Nusrat Fateh Ali Khan. Ini analisaku saja, yang sudah pasti jauh dari kebenaran.

Mungkin kamu bertanya, mengapa harus Pearl Jam? Ada jutaan band bertebaran di kolong langit ini, mulai dari yang menye’-menye’ seperti ST 12 hingga yang naudzubillah garang seperti Cradle of Filth. Kenapa harus Pearl jam?

Baiklah aku ceritakan, Nak.
Tapi besok ya.
Sudah hampir subuh. Ngantuk nih…

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2009/11/pearl-jam-flipboard.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2009/11/pearl-jam-flipboard-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's NotePearl JamSeminggu yang lalu, aku membawamu ke konser pertamamu. Hanya sebuah pertunjukkan musik kecil sebenarnya, tapi mari kita sepakat menyebut itu konser. Digelar di bawah hujan gerimis di sebuah mini stage di parkir timur Senayan. Bittertone membawakan lagu-lagu Pearl Jam. Kami semua, penghayat dan pengamal selai mutiara, mendengarkan dengan khusuk....B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k