Masjidil Haram. Img:freeimages.com
Masjidil Haram. Img:freeimages.com

Hanya air putih dingin, River, dalam gelas plastik pula. Bukan coklat karamel atau kopi latte yang aku dan ibumu sering nikmati bersama-sama di Jakarta, di mana kamu hanya bisa menonton. Karena kamu anak ASI eksklusif, belum boleh minum apa-apa selain air susu.

Ini air putih bukan sembarang air putih, River. Inilah air yang mengalir dan muncul dari bawah bagian bumi paling mulia, bumi para nabi. Shalat subuh baru saja usai. Empat orang jamaah duduk melingkar di depan tak jauh dariku. Ratusan jamaah lain masih bergeming, melanjutkan dzikir dan doa yang seolah-olah tak bisa habis. Agak ke depan, sekitar puluhan meter dariku. Ratusan orang bersiap-siap bergerak kembali, memulai atau melanjutkan tawaf yang jeda. Ka’bah begitu dekat, Nak. Hanya sekitar setengah panjang lapangan bola jauhnya.

Menikmati air putih ini adalah pengalaman yang menyejukkan, Nak. Duduk di pembatas pelataran, di ujung anak tangga Masjidil Haram, dan berusaha memahami garis nasib. Di sebelahku seorang jamaah berkulit putih juga duduk tenang, memegang gelas plastik dan memandang jauh ke depan, ke Ka’bah. Langit masih gelap, tapi sekumpulan burung-burung yang terbang mengitari atas Ka’bah terlihat cukup jelas. Angka di display suhu tertulis 38 derajat celcius, tapi entah mengapa terasa sejuk belaka.

Inilah yang namanya panggilan, Nak. Seminggu sebelumnya tak terbayangkan bisa berada di tempat ini. Tak terpikirkan. Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat taping di wilayah selatan Jakarta saat tiba-tiba bos memanggilku. Aku lalu diberi selembar surat yang berisi daftar dokumen yang harus aku lengkapi hari itu juga. Inilah namanya rezeki, Nak. Sekarang ini banyak buku petunjuk traveling yang menjanjikan bisa traveling ke berbagai belahan dunia dengan biaya minim. Ke Singapore dengan 2 juta, Ke Hongkong dengan 3 juta, ke Eropa dengan 5 juta, dan lain-lain. Tapi kamu harus percaya, Nak, aku sampai di sini hanya dengan 150 ribu rupiah di kantongku. Ini mengingatkanku pada kisah seorang marbot mesjid yang berangkat ke Tanah Suci tanpa biaya sepeser pun. Nasib kami kurang lebih samalah. Pada akhirnya kita semakin diyakinkan bahwa rezeki Allah itu tak akan pernah bisa kita sangka-sangka datangnya.

Duduk di depan Ka’bah itu, Nak, pikiranku mengembara. Semalaman, semua doa-doa pribadi dan titipan sudah dipanjatkan. Banyak titipan doa dari teman-teman, Nak. Pada umumnya minta namanya dipanggil –supaya kelak bisa juga berjumpa Ka’bah. Ada juga yang menitip doa agar segera dipertemukan dengan Ainul Mardiah-nya. Semua yang aku ingat aku doakan. Beberapa doa aku panjatkan dekat Multazam, tempat di mana doa selalu diijabah.

Aku mendoakan supaya kita semua bisa ke sini. Aku, ibuku, ibumu, kamu dan semua keluarga besar kita. Menangis aku melihat Ka’bah, menyaksikan betapa agungnya bangunan kubus yang selama hidup kita jadikan kiblat shalat itu. Menangis aku mengingat bapakku yang tak sempat melihat apa yang aku lihat ini.

Duduk di depan Ka’bah, Nak, pusaran waktu akan membawamu pada sesuatu yang nisbi. Di sinilah tempat kamu tidak butuh penjelasan apa-apa atas segala pertanyaanmu, atau juga sebaliknya, semua pertanyaanmu akan mendapatkan jawaban. Di sinilah tempat di mana kamu tidak harus mengerti bahasa untuk bisa memahami orang lain. Kamu akan melihat seorang anak kecil berdiri menyodorkan sekotak tisu kepada orang-orang yang tawaf. Kamu akan melihat orang berkulit putih dan hitam membawa bergelas-gelas air zamzam dan membagi-bagikannya kepada jamaah yang kehausan. Kamu juga akan melihat jamaah dari tanah air kita kebingungan mencari cara bagaimana berpose dengan latar belakang Ka’bah.

Di pelataran Masjidil Haram ini aku mencoba mereka-reka di mana Tom Abercrombie menaroh tripodnya sehingga dia mendapatkan foto Ka’bah yang luar biasa itu. Tom Abercrombie adalah wartawan asing pertama yang diizinkan masuk ke Mekkah. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah foto-foto dan artikel Saudi Arabia: Beyond The Sand of Mecca, dimuat di Majalah National Geographic tahun 1966. Tom mengunjungi Saudi berkali-kali, dan dalam kunjungannya yang ke sekian Tom akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam.

Aku juga mengira-ngira di mana Juhaiman menaroh senjatanya pada saat mencoba mengkudeta Masjidil Haram pada tahun 1979. Kudeta yang gagal itu membuat berang Kerajaan Arab Saudi. Tapi Masjidil Haram terlanjur bersimbah darah. Juhaiman dan sejumlah pengikutnya akhirnya menerima hukuman mati.

Aku kasih tahu, Nak. Selain kiblat shalatku, Ka’bah ini adalah kiblat perjalananku. Beberapa tahun sebelum kamu lahir, aku sempat punya ide gila, akan safar dengan backpacking atau bersepeda dari Indonesia ke Mekkah. Ini bukan hal mustahil, karena sudah ada yang melakukannya. Sendiri atau berteman, aku berniat menyusuri Malaysia, Thailand, China, India, Iran, Turki, dan sebanyak mungkin tempat yang bisa aku singgahi menuju Mekkah. Tapi namanya saja ide gila, tentu saja mudah untuk dianulir. Kehadiranmu dan ibumu telah mengubah banyak cara pandangku tentang menjalani hidup, tentang bersenang-senang.

Tapi menjadi musafir, Nak, bagaimanapun caranya, adalah salah satu keistimewaan yang Allah berikan. Seorang teman yang bermukim di Mekkah bilang kepadaku. Ada tiga doa yang selalu diijabah oleh Allah. Doa ibu kepada anaknya, doa orang yang teraniya, dan doa orang yang sedang dalam perjalanan. Jadi selama kita berjalan, banyak-banyaklah berdoa. Tentu saja jalan ke tempat dan niat yang baik, bukan jalan ke Dolly atau Sarkem.

Demikianlah, Nak. Be careful what you ask for, you may just get it. Aku tak menyangka secepat ini bisa sampai ke sini. Mendahului banyak orang yang lebih ingin yang aku tahu. Tapi inilah rahasia hidup.

Aku berharap suatu hari nanti bisa kembali ke sini, membawamu dan ibumu. Aku bertemu dengan sekeluarga jamaah yang membawa anak sekecil kamu. Anak kecil yang lehernya belum kuat itu juga mengenakan baju ihram seperti ayahnya. Subhanallah. Ketika sai, aku melihat seorang ayah menggendong anaknya di pundak, berlari-lari kecil antara Safa-Marwah, tempat di mana ibunda Siti Hajar akhirnya menemukan sumur air Zamzam untuk diberikan kepada Ismail yang menangis kehausan. Aku mengingatmu, Nak, dan memanjatkan semua doa baik yang aku tahu.

Datanglah ke sini kelak, Nak, setelah kau pastikan saudara-saudaramu tak menderita, dan tak ada tetanggamu yang kelaparan.

Di pelataran Masjidil Haram ini, Nak, pada suatu pagi yang dingin, dengan segelas air zamzam di tanganku. Inilah salah satu sarapan ternikmat yang pernah aku rasakan. Memandangi Ka’bah yang suci itu, entah mengapa aku merasa, bahwa betapa pun sulitnya hal yang akan kita alami, hidup kita akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja, Nak.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/05/-images-2-1308421-639x424.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/05/makkah-images-2-1308421-639x424-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's Notemakkah,Hanya air putih dingin, River, dalam gelas plastik pula. Bukan coklat karamel atau kopi latte yang aku dan ibumu sering nikmati bersama-sama di Jakarta, di mana kamu hanya bisa menonton. Karena kamu anak ASI eksklusif, belum boleh minum apa-apa selain air susu. Ini air putih bukan sembarang air putih, River....B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k