Saya Tidak Ingat Punya Teman Berusia Bayi

Foto: Shutterstock
Foto: Shutterstock

Di , ada banyak permintaan yang belum saya konfirmasi karena saya tak mengenali foto dan namanya. Saya tidak ingat punya teman berusia . Saya tahu kalau sebagian dari mereka adalah teman SD, SMP, dan SMU saya dari mutual friend kami, tapi saya masih belum tertarik untuk memencet tombol Confirm. Jahat? Yo ben.

Jika sedang berbaik hati, saya akan masuk ke halaman profilnya dan mencari foto yang mungkin saya kenali. Tapi saya jarang melakukannya, sampai kemudian sebagian dari mereka mengirim direct message yang menyatakan protesnya kenapa permintaan pertemanannya belum saya terima.

Menebak siapa sosok di balik foto bayi dan format nama seragam seperti “bunda si fulan” bukanlah sesuatu yang saya suka. Saya tahu mereka sedang berbahagia dengan kehadiran buah hati, tapi saya juga perlu mengenali teman saya. Akun jejaring sosial mereka seharusnya mewakili mereka sendiri, bukan bayinya. Kecuali jika mereka mau membuatkan khusus untuk bayinya.

Menurut sumber yang saya baca, memasang foto sebagai foto profil menunjukkan seseorang kurang percaya diri dan merasa saat ini yang terpenting adalah anaknya. Iya, saya mengerti bahwa saat ini menjadi bagian terpenting dalam hidup mereka. Tapi mereka juga perlu tahu bahwa diri mereka sama pentingnya.

Karena belum pernah berada di posisi mereka sebagai seorang , saya pun tertarik mencari tahu. Hasilnya cukup mengejutkan saya, beberapa sumber menyatakan bahwa seorang perempuan akan kehilangan identitasnya saat telah menjadi seorang . Tulisan saya ini memang bisa dengan mudah dibantah karena saya belum punya pengalaman dan hanya mengandalkan beberapa artikel sebagai bahan. Jika berkenan, kita bisa berdiskusi nanti.

Menjadi seorang ibu, menurut saya adalah hal yang luar biasa. Seorang perempuan bisa secara otomatis mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang buah hati dan barunya. Hal ini membuatnya lupa pada apa yang menjadi kegemarannya sebelum ia menjadi seorang ibu karena sebagian besar waktunya tercurah pada anak.

Suatu saat, saya mengirim pesan pada seorang teman. Saya katakan bahwa saya baru saja menonton film yang dulunya kami berdua pernah berjanji akan menontonnya bersama. Jawabannya membuat saya tidak bisa berkata banyak. Ia bilang tidak punya waktu untuk pergi menonton ke bioskop dan meninggalkan anaknya yang saat itu berusia delapan bulan. Sambil bercanda ia bilang, “Ah, nanti juga diputar di TV kok.” Saya menanggapinya dengan tertawa dan setelah itu lebih banyak berpikir. 

Para ibu ini perlu menyediakan waktu untuk dirinya sendiri selama tidak mengabaikan keluarganya. Saya pikir, meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri bukanlah sebuah kejahatan. Lakukan hobi yang belakangan ini terlupakan seperti bersepeda, membaca buku, menonton film, dan hal lain yang sebelumnya menjadi kegemaran.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya menjadi seorang ibu nanti. Semoga saja saya tak kehilangan identitas sepenuhnya.