Rolapena, Pena yang Tumbuh Menjadi Pohon

IKEA, peritel raksasa yang menjajakan perabotan berdesain praktis di 46 negara dengan 346 gerai ini menyediakan jutaan pensil kecil secara cuma-cuma setiap hari. Untuk memanjakan pengunjungnya di Kanada, IKAE memasok 5.2juta batang pensil setiap tahunnya. Kalau setiap negara tarolah membutuhkan 3juta pensil kecil itu, maka setiap tahunnya IKEA menghamburkan sekitar 138juta batang pensil setiap tahun. Dari sekian ratus juga batang pensil itu, seberapa kubik kayu dan grafit yang digunakan untuk memproduksi pensil sedemikian banyak itu.

Itu hanya hitungan untuk IKEA saja yang menyediakan pensil gratis untuk konsumennya, belum terhitung pensil komersial yang diproduksi oleh Staedtler, FaberCastel dan merk-merk lokal yang sudah kondang di pasaran. Menurut situs answer.com yang biasa menjawab hal-hal remeh, diperkirakan ada sekitar 42,462,013,000,000,000 jumlah pensil yang diproduksi di seluruh dunia. Kalau dieja, maka jumlah itu dibaca sebagai Empat puluh dua kuadriliun, empat ratus enam puluh dua triliun, tiga belas miliar jumlah pensil. Ini angka yang fantastik jumlahnya, meski bisa saja keliru dan berlebihan, tapi wajar dipahami bahwa kita setiap hari mudah menghambur-hamburkan alat tulis murah itu. Terlebih kalau anda seorang pelanggan IKEA.

Di atas hanya hitungan untuk pensil, belum lagi kita menimbang-nimbang jumlah pulpen, crayon, dan alat tulis lainnya semisal kertas. Kalau digabung-gabung, maka industri tulis menulis, dalam artian literalnya sungguh menghamburkan begitu banyak bahan-bahan alam; kayu, karbon, grafit dan sebagainya. Juga penggunaan plastik yang menjadi bahan utama kemasan alat tulis itu. Plastik, produk sintetik polimer yang banyak dipakai untuk membuat peralatan bantu manusia ini belakangan menjadi salah satu penyumbang masalah yang pelik untuk pelestarian keberlangsungan bumi. Jumlah plastik yang dihasilkan manusia juga tak terhitung banyaknya. Sekadar contoh, manusia di bumi menggunakan 2 juta kantong plastik belanja per menit. Diulangi, 2 juta per menit! Jumlah ini kemudian terakumulasi jika ditambahkan dengan jenis plastik lainnya yang pada akhirnya menghasilkan 300 juta ton sampah plastik setiap tahun.

**

Lakshmi Menon rupanya gusar dengan fakta “sampah ” di atas. Perempuan kreatif berusia 43 tahun yang menetap di Kerala, India, itu punya solusi cerdas.

Bagi yang akrab dengan sastra Indonesia modern, nama Pramoedya Ananta Toer tentu tak asing lagi. Pram punya penggalan kalimat yang acap dipakai orang untuk memantik semangat agar tekun menulis: “Menulislah, maka namamu akan abadi”. Namun Lakhsmi punya ide keabadian yang lain. Dia menciptakan , pulpen ramah lingkungan yang tak hanya bisa dipakai untuk menulis, namun juga bisa menumbuhkan pohon.

Bagaimana caranya? Sederhana. Ia membuat pulpen dari gulungan kertas bekas. Meski seperlima bagian masih berbahan plastik, yakni pipa kecil yang berisi tinta, namun sebagian besar badan pulpen ini bisa didaur ulang. Di ujung pulpen itu, ia menanam benih pohon. Benih pohon berupa biji berwarna coklat cerah dari jenis Agastya itu cukup mudah didapatkan di tanah kelahirannya.

Selain mudah tumbuh, daun pohon ini juga biasa digunakan masyarakat sebagai bahan pembuat obat sariawan. Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan nama . Daun dan bunganya banyak dikonsumsi sebagai lalapan dan pakan ternak. Selain daunnya, getah, kulit kayu, dan akar pohon itu juga banyak dimanfaatkan manusia. Terkadang tumbuhan merambat ini juga dibiarkan sebagai pagar hidup sekaligus menghijaukan lahan kritis. Nah, betapa beruntungnya para penulis yang setelah tintanya habis, bisa menanam pena-nya dan menumbuhkan di pekarangannya.

Kecambah pohon Turi tumbuh dari Rolapena. Sumber foto: thebetterindia

**

Pepohonan rimbun tumbuh dari pena-mu. Ini ungkapan yang sangat puitis. Hidup Lakhsmi juga demikian tampaknya.

Hingga tahun 2008, ia masih menetap di San Fransisco dan bekerja sebagai seorang desainer di sebuah sanggar seni. Spesialisasinya di lini produksi kerajinan tangan dari kertas, juga perhiasan yang berbahan dasar benih, jerami dan kaca. Suatu ketika, ia mudik ke kampungnya di Kerala, India bagian selatan. Di sana ia terpikir untuk mengangkat derajat kaum miskin dengan menyumbangkan keahliannya, alih keterampilan. Ia lantas membuka kursus untuk anak-anak yatim dan melatih mereka membuat kerajinan tangan, termasuk pulpen sederhana dari bahan kertas bekas.

“Sebagai desainer, saya selalu mencari celah untuk memanfaatkan semua hal yang bisa saya dapatkan. Dengan cara yang sama saya memperhatikan ujung pulpen yang mungkin cocok untuk menampung bebijian” ujarnya ketika menjelaskan muasal ide membuat pulpen Rolapena. Awalnya, ia menggunakan benih sayuran di pucuk Rolapena. Tapi seorang kawan praktisi obat herbal menyarankan untuk menggunakan benih Turi dan kemudian diikutinya.

Pada awalnya ia membuat Rolapena ini secara manual laiknya kerajinan tangan. Karena pesanan semakin banyak, ia memutuskan untuk membuat mesin semi-otomatis sendiri yang bisa mempercepat produksi dan mendaftarkan patennya di tahun 2013. Mesin pembuat pulpen ini sebenarnya sederhana namun praktis, menggunakan pedal laiknya sepeda dan mampu membuat gulungan pulpen kecil hanya dalam waktu 10 detik.

Untuk menaungi unit usaha ini, ia membuat perusahaan start-up dengan bendera Pure Living dan mengangkat neneknya yang berumur 94 tahun tapi masih enerjik, VL Bhavani, sebagai Pimpinan Perusahaan (CEO), serta ibundanya Sreedevi yang berusia 70 tahun sebagai Penyelia Mutu. Lakhsmi Menon sendiri kebagian menangani pemasaran Rolapena. Seluruh pekerjanya ia ambil dari anak yatim dan janda-janda di tanah kelahirannya, Kanjiramattom. Sehingga lambat laun ia juga ikut membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Unit usaha PureLiving ini juga tak sekadar nama, tapi merupakan singkatan yang mewakili semangatnya; PURE (Products Upcycled Recyled and Economic) Living. Dia tak perlu banyak mengeluarkan modal di awal produksi, karena kebanyakan material pulpen didapatkan secara murah dari pasar loak di kampungnya. Baru kemudian setelah pesanan bejibun, ia mulai memesan kertas bekas dari usaha percetakan setempat. Tetap berbahan kertas buangan.

Tak perlu menunggu lama, pesanan untuk Rolapena berdatangan. Terutama dari konsumen yang juga punya perhatian sama terhadap keberlangsungan lingkungan sehat. Pesanan awal Rolapena datang dari perusahaan IT, Wipro berjumlah 500 batang. Dengan harga hanya sekitar Rp 2000 saja, konsumen lainnya kemudian berdatangan. Kini ia mulai melayani pesanan dari perusahaan besar di India seperti HDFC Bank, Kotak Mahindra Bank dan perusahan farmasi. Rolapena juga terkenal karena sering digunakan sebagai alat tulis dalam berbagai seminar dan konferensi sains dan lingkungan hidup.

Rolapena mengundang decak kagum dan simpati dari mereka yang punya semangat sama. Good Karma Foundation, sebuah yayasan di India kemudian ikut mendukung usaha Lakshmi ini dengan menjadi sponsor pembuatan mesin produksi. PureLiving sendiri menangani pemasaran dan distribusi terutama ke sekolah-sekolah, toko alat tulis, galeri seni, dan sebagainya. Mereka berharap bahwa pulpen ramah lingkungan buatan Lakhsmi ini akan menggantikan pulpen plastik secara keseluruhan di kemudian hari. Karenanya, Good Karma ikut membantu memperbanyak mesin pembuat Rolapena untuk meningkatkan produksi hariannya.

Untuk menambah keunikannya, Lakhsmi yang juga penggemar puisi dan pembaca buku ini menambahkan kutipan-kutipan bijak di badan Rolapena, seperti kekata Mahatma Ghandi dan Jnanapanna, kumpulan ajaran moral klasik dari abad 16. Selain itu, ia juga kadang menambahkan kata humor untuk menyenangkan pelanggannya. Rolapena juga bisa disediakan dalam bentuk paket hadiah untuk bingkisan pernikahan dan lainnya.

Lakhsmi Menon yang kreatif tak berhenti memproduksi kebaikan. Seperti pepohonan rimbun yang akan tumbuh dari pulpennya, lumbung ide-nya mengalir terus. Ia juga menggerakkan inisiatif mengumpulkan pulpen bekas untuk kemudian dijadikan bahan berguna, atau sekadar instalasi seni.

Awal Januari 2017 lalu, ia meluncurkan kegiatan Pen Drive dan berhasil mengumpulkan lebih kurang 650ribu pulpen bekas. Sebahagian malah berdatangan dari kota tetangganya, Kalkutta, yang ikut tergerak membantu usaha ini. Selain itu ia juga punya proyek Ammoomathiri, yang membantu para perempuan pengidap Alzheimer untuk tetap bergerak melawan penyakitnya dengan aktif membuat kerajinan tangan berupa lampu sederhana dari kapas dan benang bekas. Usaha ini membuatnya diundang dalam beberapa acara bincang-bincang di stasiun televisi di kotanya.

“Saya selalu mengenang ayah yang senantiasa menganjurkan untuk berbagi kebaikan. Bagi kita yang beruntung hidup berkecukupan, tugas kita adalah membagikan kebahagiaan itu ke sesama” kata Lakhsmi setiap ditanya apa rahasia yang menggerakkan usahanya.

Nah, bagi kita yang di Indonesia ide sederhana di atas sepertinya mudah untuk dilaksanakan. Bukankah stek batang singkong atau umbi-umbian yang tumbuh di halaman kita bisa dijadikan batang pensil juga?

Lakhsmi Menon. Sumber foto: thebetterindia

Bahan tulisan diambil dari berbagai media online: Wikipedia, gulfnews, thebetterindia, goodkarmafoundation, pureliving. Foto dari website thebetterindia, dengan penyampaian.

 

Muhammad Ruslailang

Muhammad Ruslailang

Orang Bugis yang menetap di Abu Dhabi.
Tekun beribadah dengan membaca.
Muhammad Ruslailang

Latest posts by Muhammad Ruslailang (see all)