Resep Ramuan “Cuma Lem Baja”

Sekitar dua tahun lalu, saya tiba-tiba nyusruk saat jalan. Saya pikir saya tersandung sesuatu, tapi ternyata tidak ada apa-apa. Saya juga tidak blackout dan bisa langsung bangun setelah jatuh. Tapi tak ayal kejadian itu membuat saya khawatir. Saya sempat berpikir itu gejala stroke. Apalagi salah satu tetangga saya yang umurnya lebih muda, baru saja masuk RS gara-gara stroke.

‌Hari itu juga saya langsung periksa ke RS. Dites sana-sini, alhamdulillah bukan stroke. Tapi di atas normal dan detak terdeteksi agak cepat. Saya pun dirujuk ke dokter , internis, mata, dan THT. Di internis saya disarankan tes tiroid karena tangan kiri saya tremor saat diminta rentangkan ke depan kayak vampire Hongkong. Alhamdulillah, hasil tes tiroid juga normal. Di dokter mata juga baik-baik saja.

‌Tinggal menunggu kunjungan ke dokter jantung. Dan itu semacam siksaan batin yang luar biasa. Waktu itu Rain belum lahir, dan saya sedih membayangkan mungkin tidak akan punya kesempatan untuk menggendongnya. Beberapa kali saya terbangun kaget pada tengah malam dan akhirnya bersyukur karena masih bernafas.

Sebelum bertemu dokter, saya rajin riset obat-obat untuk kesehatan jantung.
Lalu ketemu sebuah ramuan obat yang konon diciptakan oleh seorang dokter spesialis jantung di Bogor. Menurut kisah itu, sang dokter selalu menyarankan ramuan itu untuk diminum oleh pasien-pasiennya yang dijadwalkan menjalani operasi by pass atau pasang ring.
Dan ajaibnya, sebagian besar pasiennya akhirnya tidak jadi operasi. Beberapa bahkan sembuh dan seolah tak pernah sakit jantung.

Saya orang yang skeptis terhadap testimonial based medicine semacam itu. Tapi kisah itu membuat saya penasaran. Di internet, testimoni mengenai kehebatan ramuan itu semakin banyak. Mulai yang kelihatan sepele seperti seorang bapak yang mengaku akhirnya tidak kesulitan lagi naik jembatan penyeberangan, hingga testimoni yang lebih mirip iklan Tong Fang.
Sampai kemudian saya bertemu seorang kawan yang juga meminum ramuan itu. Ia pernah kena serangan jantung, tapi sekarang sudah bisa naik gunung lagi.
Saya juga menemukan sebuah literatur ilmiah bahwa setidaknya dua dari bahan-bahan itu memang bagus untuk jantung.

Akhirnya saya datangi sebuah alamat yang menjual herbal itu dengan merk tertentu. Lumayan mahal untuk ukuran botol kecil. Rutin minum, saya merasa ada perubahan pada vitalitas. Tidak gampang lelah lagi.
Hasil kunjungan ke dokter jantung ternyata juga tidak terlalu menakutkan. Saya hanya dianjurkan menghindari stress, mengurangi kopi, dan meneruskan berolahraga.
Balik ke internis, kadar kolesterol saya juga sudah normal.

Karena merasakan faedahnya, saya masih terus minum ramuan itu dan menganggapnya sebagai herbal. Sampai kemudian, saya memutuskan untuk membuat sendiri. Saya googling lagi dan menemukan beberapa resep. Satu-satu saya coba sampai akhirnya menemukan yang benar-benar mirip dengan yang biasa saya beli. Bahan-bahannya seperti yang ada di foto -minus cuka apel. Sudah hampir setahun ini saya bikin sendiri. Kali ini madunya saya coba ganti dengan madu buah (raw honey). Madu buah adalah madu dari lebah yang tinggal di vegetasi kebun buah sehingga menghasilkan madu dengan rasa buah tertentu. Madu anggur misalnya, berwarna agak ungu dengan rasa anggur yang kuat. Memang lebih mahal dibanding madu biasa tapi konon khasiatnya lebih kuat. Kebetulan kemarin dapat kiriman madu Zaida dari Mbak Siti Maryamah, bakul madu paling hits se-Banjarnegara.

Kalau cari resepnya, ada banyak di internet. Tinggal masukkan keyword “”. Cara bikinnya juga banyak di Youtube. Ada beberapa variasi, misalnya ada yang diblender ada yang dijus. Saya sarankan yang dijus. Lebih bagus lagi kalau pakai slow juicer. Lebih pelan lebih bagus. Seperti bila kau berat melupakan dia, pelan-pelan saja. Begitu kata Tantri, vokalis Band Kotak.

Berikut resep dan takaran yang menurut saya paling pas.

1. Jahe (ada juga yang pakai jahe merah)
2. Bawang putih (ada juga yang pakai bawang putih tunggal, tapi harganya lebih mahal)
3. Jeruk lemon (bisa diganti jeruk nipis).
4. Cuka apel (yang lokal, bisa pakai Tahesta).
4. Madu asli/hutan (jangan yang royal jelly).

Bahan 1,2,3 itu biasanya saya beli masing-masing setengah kilo.

Panci stainless steel atau keramik (jangan aluminium)
Spatula kayu (merk apa saja. Kalau mau merk IKEA, boleh dijastip di River’s Corner, Kaka… :-))
Cara membuat:
Jahe dibersihkan, dikupas kulitnya lalu dijus (kalau tak ada juicer, boleh diparut kemudian disaring. Jangan diblender, karena kalau pakai blender harus ditambahin air supaya blender bisa muter).
Setelah dapat sari jahenya, endapkan selama semalam. Ambil sari jahe yang bening saja, endapannya dibuang. Berapapun sari jahe yang diperoleh, itu dijadikan patokan untuk bahan lainnya.
Misalnya dapat 100 ml, nah bawang putih dan jeruk nipisnya nanti juga harus 100 ml.

Anggaplah kita dapat 100 ml sari jahe. Sekarang kita bikin jus bawang putihnya. Bawang putih dikupas, dibersihkan, dicuci dan ditiriskan. Karena mengandung air, bawang putih bisa diblender kalau tak punya juicer. Saring sarinya sampai dapat 100 ml juga.

Setelah itu giliran jeruk lemon diperas sampai dapat 100 ml juga.

Ok.
Sekarang saatnya memasak. Masukkan sari jahe, bawang putih, jeruk lemon, dan cuka apel (juga 100 ml) ke dalam panci stainless.
Ingat, madu jangan dimasukkan dulu. Madu tidak boleh dimasak.

Masak dengan api kecil sambil terus diaduk berlawanan arah jarum jam (kecuali kalau kamu kidal). Aduk terus sampai mendidih atau sampai aroma cukanya terasa. Pastikan itu aroma dari cuka apel, bukan dari ketek.

Kalau sudah matang, dinginkan. Setelah dingin, baru masukkan madu. Takaran madu bisa disesuaikan. Kalau ingin agak pahit, cukup dua takaran (200 ml). Tapi kalau mau lebih enak, bisa sampai tiga. Itu kalau berani dan istri pertama mengizinkan. Eh, itu madu lain ya. 😂

Intinya, perbandingan yang pas antara jahe, bawang putih, jeruk lemon, cuka apel, dan madu adalah 1:1:1:1:3.

Aduk semua sampai merata. Untuk memudahkan penyimpanan, bagi dalam beberapa botol kaca. Segel dan simpan di kulkas. 700 ml ramuan ini bisa untuk 3 bulan.

Minum satu sendok makan setiap pagi dalam keadaan perut kosong. Insya Allah aman untuk penderita maag. Beberapa orang mengalami reaksi seperti masuk angin ketika pertama kali minum ramuan ini. Tapi itu adalah tanda obatnya bekerja.

Dianjurkan memberi jeda setengah jam dengan sarapan, dan 3 jam bila Anda mengkonsumsi obat medis.

Demikian resep ini saya tuliskan. Semoga bermanfaat bagi khalayak. Aamiin….

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim