Mug konser dari bapak

Mug Konser dari Bapak

Mug konser dari bapak
Mug Konser dari . Foto:

Sudah samar di ingatanku kapan terakhir aku sentuh benda ini, sekadar sebagai wadah tuangan teh dari teko yang tak pernah aku habiskan. Bagi seorang anak kelas 5 Sekolah Dasar, mug dengan volume sepertiga liter ini memang terlalu besar untuk sekali teguk. Itu pun jika suhunya cukup hangat untuk melewati dinding tenggorokan.

Mug itu dibeli saat aku masih SD. Kalau tidak salah harganya sekitar duapuluh lima ribu rupiah. Saat itu, harga segitu sudah cukup mahal untuk sebuah cangkir. Seingatku, beras masih seharga dua ribuan rupiah per liter, dan harga Ind*mie rasa kaldu ayam tak lebih dari 700 rupiah. Sudah tak terhitung berapa kali inflasi untuk sampai ke harga saat ini.

Aku tahu bapakku, ia tak terlalu mudah mengeluarkan uang untuk sebuah hal yang tidak kami butuhkan. Bukan karena pelit, tapi upaya berhemat untuk menyesuaikan dengan anggaran . Aku juga tahu gelas di rumah cukup bagi kami (yang dulunya) berempat untuk sekadar ngopi bareng di depan TV.

Hari itu, kebetulan usaha percetakan sederhana Bapak sedang ada pesanan. Aku hampir tak pernah absen ikut setiap kali Bapak harus ke kota Parepare untuk mencetak offset undangan pesanan orang. Bukan karena aku rajin membantu, aku cuma bahagia ketika sedang berada di kota. Setidaknya aku bisa bermain air di Pantai Senggol atau sekadar menyibukkan diri memanjati relief-relief Monumen Pembantaian Westerling —konon korbannya mencapai 40 ribu jiwa— yang lokasinya tepat di depan kantor percetakan itu. Kurang kerjaan, memang, tapi lebih asyik daripada jenuh di rumah. Lagipula itu sarana hiburan tidak banyak karena di kota kecil ini belum ada mal.

Menjelang magrib, percetakan sudah tutup. Aku pikir, cetakan Bapak juga mungkin sudah selesai. Aku pun bergegas menyeberang dan menghampiri Bapak. Kulihat Bapak memegang dua lembar kertas, yang setelah kuperhatikan ternyata tiket konser musik. Belakangan, baru aku tahu Bapak membelinya seharga 15 ribu per lembar dari seorang temannya, saat aku sibuk sendiri bermain.

Mungkinkah Bapak dapat membaca pikiranku? Atau mungkin saja ia memergokiku yang selama perjalanan terus menatap banner dan baliho sebuah pertunjukan. Nanti malam, band Ibu Kota Ungu dan Naff akan manggung di kota Parepare.

Aku sebenarnya tak pernah meminta, tapi entah bagaimana caranya dia tahu.

“Kapan lagi kamu bisa lihat artis Ibu Kota…,” kata Bapak. Sebelumnya, aku pernah diajak saat Akademi Fantasi Indosiar tampil di Makassar, tapi kami urung menonton karena konon tiketnya harus ditebus dengan harga 150 ribu rupiah.

Dengan hati membuncah, untuk pertama kalinya, aku menonton konser band yang teman sebayaku saat itu hanya mampu melihatnya melalui TV. Bisa jadi itu salah satu alasan Bapak membelikan tiket itu, agar anaknya bangga merasakan pengalaman yang tidak (belum) dirasakan teman-temanku.

Betapa bahagianya aku saat itu. Bapak sepertinya tahu, aku pasti akan menceritakan pengalaman ini kepada teman-temanku. Bapak tidak ingin aku dianggap bergurau atau pembohong, maka ia mengajakku ke stand souvenir konser di sudut panggung. Di situ, kami membeli 2 mug.

Bertahun-tahun kemudian, tak sengaja kutemukan kembali mug ini di dalam lemari, sudah berdebu kusam. Mencoba mengingat-ingat apa yang sudah kali lewati bersama. Mug porselen ini pernah mengajariku tentang , tentang upaya sederhana seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya.

Kiranya ada seseorang yang ingin membuat sebuah “Museum untuk Ayah Hebat”, aku ingin menitipkan barang ini untuk dipajang di etalasenya. Aku titip mug-ku.

Budi Prasetya

Budi Prasetya

Tinggal di Makassar, sedang belajar bahagia.
Budi Prasetya

Latest posts by Budi Prasetya (see all)