Kalau tidak salah ingat, mereka dulu berempat. Satu gitaris, satu basis, satu drummer, dan satu vokalis. Gak ada pemain keyboard karena saat itu memang langka anak band di kampung kami yang bisa main keyboard. Mereka berkumpul di kolong rumah, latihan-latihan kecil dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk festival band yang akan digelar. Kalau tidak salah ingat juga, mereka semua masih kelas 1 SMA dan aku sudah kelas 3.

River, aku ceritakan kembali percakapan ini kepadamu dengan bahasaku sendiri, karena jika aku tuliskan dengan bahasa aslinya, niscaya kamu akan kesulitan untuk memahamainya.

“Jadi kita setor lagu apa, Bang?” tanya sang vokalis kepadaku. Aku, yang mendaulat diri sebagai manajer kagetan, pura-pura berpikir. Panitia festival band yang digelar di kota kecil kami itu mewajibkan untuk menyanyikan dua lagu. Satu lagu wajib dan satu lagu bebas. Lagu wajibnya sudah aman, tinggal cari lagu bebasnya. Pertunjukan tinggal beberapa hari lagi.

“Bagaimana kalau The Man Who Sold The World?” kataku mengusulkan.
Karena aku senior dan mereka semua junior, jadi mereka menyetujui. Masalahnya adalah tidak ada yang hafal liriknya. Aku bilang gampang. Dan segeralah aku mengambil tip kompo dan memutar lagu milik Nirvana itu sambil mencoret-coret di kertas. Zaman itu belum ada google yang bisa ditanya, dan kaset yang aku punya tidak menyediakan teks lagu.

Beberapa kali mem-play dan rewind, coretanku pun beres. Aku menyodorkan teks lagu hasil transkripsiku itu kepada sang vokalis. Wajah keempat anak band itu berseri-seri dan terpancar raut kagum di wajah mereka. Kagum kepadaku yang jago berbahasa Inggris.

Singkat cerita, sungguh senanglah hatiku saat akhirnya melihat mereka menyanyikan lagu itu di atas panggung. Aku ada di belakang panggung waktu itu, sibuk mengagumi peralatan anak-anak band lain yang datang dari sekolah atau daerah lain.

Karena sudah takdir, mereka tidak jadi juara. Juaranya dari sekolah favorit di kota kami. Tapi kami semua pulang dengan senang. Terutama aku, karena merasa telah membantu mereka mewujudkan impiannya. Impian untuk bersenang-senang. Tak ada yang protes meski mereka semua tahu lirik lagu yang aku buatkan itu ngawur dan nyaris tidak ada benarnya sama sekali kecuali bagian refrainnya.

Beginilah lirik lagu The Man Who Sold The Word sebenanrnya, menurut situs lyricsfreak.com:

We passed upon the stair,
we spoke in was and when
Although I wasn’t there,
he said I was his friend
Which came as a surprise,
I spoke into his eyes
I thought you died alone,
a long long time ago

Oh no, not me
We never lost control
You’re face to face
With The Man Who Sold The World

Dan bandingkanlah dengan lirik buatanku:

we must to promise there,
we spoke and wasn’t where
the dog is wasn’t here,
he said I was a friend
with came may so surprise,
I spoke into his eyes
and I want to be alone
a long long time ago.

Oh no, not me
We never lost control
You’re face to face
With The Man Who Sold The World

Brutal kan? Hehehe.

River, kelak kalau kamu besar nanti, tanyakanlah versi yang lengkap dari kisah ini. Mintalah kepada sang vokalis itu untuk dia ceritakan. Dia pasti mau, karena sang vokalis itu adalah pamanmu sendiri, salah satu dari tiga orang adikku.

Apa yang ingin aku ceritakan padamu adalah, nikmatilah masa mudamu. Ketika masih muda, kita mendapat banyak pemakluman dari orang dewasa. Selama tidak menerabas hak orang lain, kita bebas melakukan hal-hal konyol, dan orang dewasa akan selalu bisa memaklumi kita. Insya Allah.

Tempo hari, aku menghubungi seorang pembuat gitar custom. Aku ingin memesan gitar listrik mini model Van Halen seperti yang dipakai anaknya. Aku ingin satu yang seperti itu untukmu, River. Sang pembuat gitar bertanya, “Berapa umur anaknya, Mas?”
“Dua bulan,” jawabku. Sang pembuat gitar itu mungkin mengira aku bercanda. Padahal aku serius. Insya Allah, gitar itu bisa menunggu sampai kau bisa meletakkan jari-jari mungilmul di fret gitar. Tapi aku tidak, Nak. Aku yang tak bisa menunggu untuk membahagiakanmu. Setiap hari aku selalu mencari-cari apa lagi yang bisa aku lakukan untukmu. Untuk membuatmu bahagia saat ini, atau setidaknya nanti saat engkau bisa membaca ini dan menertawai kekonyolan-kekonyolanku.

Hadirmu adalah semacam power supply baru dalam kehidupanku. Karena setiap aku melakukan atau memikirkan sesuatu untukmu, Nak, dengan sendirinya aku pun merasa semakin menyayangimu. Apa namanya itu? Accelerated happiness? Mungkin semacam rasa bahagia bila bisa memberikan benda kepada orang lain alih-alih bersedih karena benda itu lepas dari tangan kita. Rasa bahagia itu tak akan pernah bisa dikalkulasi dengan hukum ekonomi yang mendewakan aset dan kepemilikan.

Bersenang-senang melalui mencukupkan diri dengan apa yang ada. itulah inti kebahagiaan, Nak. Seperti yang aku ajarkan kepada pamanmu yang dulunya vokalis itu. Kita tidak harus tahu lirik aslinya untuk bisa bernyanyi. |

Senin, 26 April 2010

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

Fauzan MukrimRiverFloKalau tidak salah ingat, mereka dulu berempat. Satu gitaris, satu basis, satu drummer, dan satu vokalis. Gak ada pemain keyboard karena saat itu memang langka anak band di kampung kami yang bisa main keyboard. Mereka berkumpul di kolong rumah, latihan-latihan kecil dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk festival band yang...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k