Mengapa Saya Golput #2

Jusuf Kalla. Foto: Harian Terbit
. Foto: Harian Terbit

Aku sama sekali tidak membayangkan bagian ke-2 ini akan jadi seperti ini. Sempat terpikir untuk mengubah judul, tapi malu sama keyboard. Maka jadilah judulnya tetap seperti itu, sembari berharap di akhir tulisan nanti, aku menemukan alasan untuk tetap mempertahankannya.

Begini kronologinya:
Secara sengaja, aku menonton taping program “Capres Bicara” yang baru saja selesai sekitar dua jam yang lalu di studio 1. Malam ini menghadirkan Jusuf Kalla. Taping untuk SBY sudah selesai, dan sudah tayang Rabu kemarin. Mega juga sudah taping dan tinggal menunggu tayang.

Awalnya karena aku penasaran. Bos-ku –yang tak boleh disebutkan namanya- cerita bagaimana proses taping Capres Bicara Episode SBY yang lumayan memusingkan. Orang-orang SBY minta daftar pertanyaan dan menyeleksi orang-orang yang akan bertanya. Jadi, jika kau melihat di TV ada orang yang dipersilahkan bertanya, itu sudah diatur sebenarnya. SBY sudah tau dia mau bertanya apa dan sudah menyiapkan jawabannya dalam urut-urutan yang sistematik.

Kalau Mega, saya pikir tak perlulah kita bahas di sini. Kalian pasti sudah tahu seperti apa dia di TV.

Episode JK ini yang menarik. Bos-ku bilang, Pak JK ini lebih welcome. Dia tak rewel dan terkesan santai. JK bahkan mempersilahkan siapa saja untuk dihadirkan sebagai penanya, dan bebas mau bertanya apa. Dan demikianlah tadi sehingga aku melihat ada Dita Indah Sari dan Thamrin Amal Tomagola di deretan audiens penanya. Dua orang itu mungkin akan ditolak jika dihadirkan di episode SBY atau Mega.

Sehingga tadi malam, aku bersama ibumu menyelinap ke studio 1. Lewat pintu belakang tentu saja, karena pintu utama hanya untuk penonton-penonton berpakaian rapi. Niat awalku hanya untuk melihat-lihat sebentar sebelum pulang.

Sekitar pukul 20.30, Pak JK muncul di panggung disambut oleh Tantowi Yahya. (Yahya bersaudara ini memang keren. Kemarin Helmi jadi host episode SBY, dan sekarang giliran Tantowi)

Menit-menit awal berlangsung dragging. Mungkin karena masih sama-sama kaku. Sebagai host Tantowi terlalu banyak memuji, menurutku. Dan jawaban-jawaban JK terhadap beberapa pertanyaan juga cenderung normatif. JK tercatat beberapa kali mengulang tentang bersikap positif dan bekerja keras.

Awal acara yang terkesan mati gaya itu terselamatkan dengan pemutaran beberapa feature pendek tentang kampung halaman JK -yang adalah kampung halamanku juga. Ada cerita tentang sejarah hidup dan riwayat pendidikannya, juga testimoni dari kerabat-kerabatnya. Oya, musik juga ada. Alexa, Ello, dan Tiket tampil bergantian.

Memasuki pertengahan acara, atmosfer “Capres Bicara” mulai terbentuk. JK sudah mulai menguasai panggung, dan Tantowi juga sudah berani mencandai JK. Itu setelah mereka berdua menghilang sejenak di balik LCD raksasa bergambar bendera Indonesia. Tontonan mulai menarik menurutku, sehingga dengan sangat terpaksa, aku membiarkan ibumu pulang sendiri. Ibumu sudah mengantuk dan besok pagi harus bekerja lagi.

Satu persatu penanya yang sudah ditentukan mengajukan pertanyaan. Kita lewatkan beberapa saja dulu. Saat giliran Dita Indah Sari, aku berharap dia akan menanyakan sesuatu yang cukup keras untuk orang sekaliber dia. Ternyata tidak. Dita bertanya bagaimana cara JK mengatasi PHK yang semakin marak. JK menjawab diplomatis, bahwa PHK tak akan terjadi jika perusahaan tak punya alasan untuk mem-PHK buruh-buruhnya. Jadi yang perlu dilakukan, menurut JK, menguatkan daya saing perusahaan-perusahaan tersebut sehingga mereka tetap bisa menjalankan roda produksinya. Kira-kira begitu. Saya tidak hafal.

Ada juga dua orang artis yang sudah disiapkan untuk bertanya, Wulan Guritno dan Riza siapa itu namanya. Mereka mendapat kesempatan bertanya di segmen yang membicarakan peran JK dalam mengatasi berbagai konflik sosial di Indonesia.
Diakui atau tidak, JK memang sangat berperan dalam memadamkan beberapa konflik besar di Indonesia. Mulai dari konflik Poso, Ambon, hingga Aceh-GAM. Semua tuntas –setidaknya reda– dengan sentuhan tangan dinginnya.

“Tapi saya tidak pernah mengharapkan dapat Nobel,” kata JK. Penonton tepuk tangan. Tahulah kita siapa yang dia sindir.

Giliran Pak Thamrin Amal Tomagola yang bertanya. Aku juga mengharapkan muncul pertanyaan keras dari sosiolog UI yang sangat aku kagumi ini. Menyangkut keputusan JK bersanding Wiranto, mungkin? Sekadar mengingatkan, pada tahun 2001 Thamrin Amal pernah digugat oleh Wiranto atas tuduhan pencemaran nama baik. Saat itu, Thamrin mempublikasikan temuannya menyangkut keterlibatan Wiranto dalam kerusuhan SARA di Ambon. Wiranto marah dan mengugat Thamrin Rp.100 milyar. Beruntung, gugatan tersebut ditolak pengadilan atas pertimbangan bahwa apa yang diungkapkan Thamrin adalah temuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Kembali ke soal pertanyaan. Setelah “memberi kuliah singkat” mengenai betapa cocoknya karakter JK dengan karakter bangsa ini, Thamrin Amal bertanya apa yang perlu dilakukan bangsa ini untuk menghindari konflik terjadi kembali. Terlalu sederhana.

“Pertanyaan itu bisa dijawab dengan satu kata: KEADILAN!” kata JK. Lalu JK bercerita tentang warga Manggarai yang tidak jadi marah pada saat banjir besar melanda Jakarta beberapa waktu lalu, karena pintu air Manggarai akhirnya dibuka dan banjir pun meluap hingga ke Menteng. Kemarahan mereda karena mereka merasa sependeritaan dengan warga Menteng.

Sempat melintas pikiran nakal di kepalaku, kalau begitu kenapa tidak jadi negara komunis saja yang benar-benar sama rata-sama rasa, Pak… 🙂

Hal yang kedua untuk menghindari konflik, kata JK, adalah KEMAKMURAN.
Hal ketiga adalah PENEGAKAN HUKUM. Konflik akan terhindarkan jika semua orang mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum.

Dan tiba-tiba aku teringat pada seorang bocah, sebut saja namanya Ippang.

Ippang sama sekali tak ada hubungannya dengan JK, kecuali sama-sama lahir di Bone. Sebelum mengenalkan Ippang kepadamu, sebelumnya akan aku ceritakan sebuah sejarah pendek yang tak banyak orang mau ingat. Termasuk JK.

Kejadiannya di Bone, sekitar peralihan dekade 90-an ke awal 2000. Waktu itu Bone dan beberapa kabupaten di sekitarnya sedang dalam tensi tinggi. Kriminalitas merajalela. Pencurian terjadi dimana-mana. Ternak-ternak dan harta benda warga hilang. Warga hidup dalam ketidaknyamanan.

Lalu muncul sekelompok masyarakat yang kesal dengan situasi dan mulai bertindak. Mereka membentuk kelompok semacam pam swakarsa yang salah satunya mereka beri nama Forum Bersama atau Forbes. Kehadiran mereka dengan segera dielu-elukan warga sebagai juru selamat. Mereka mengincar semua kelompok dan orang-orang yang dianggap kriminal. Di Sinjai, kelompok semacam ini bahkan beberapa kali bentrok dengan polisi karena menuding polisi menjadi backing para pelaku kriminalitas itu.

“Kelompok Pembela Kebenaran” itu biasanya sudah menandai orang-orang yang mereka incar. Para kriminal mulai ketakutan dan bersembunyi. Hampir setiap hari ada saja orang yang diculik, dibunuh, lalu ditinggalkan begitu saja. Mereka yang mati itu pun dengan segera di-cap sebagai pelaku kejahatan yang mendapat balasannya.

Lambat laun, kelompok pam swakarsa ini makin jumawa dan merajalela. Mereka menjelma menjadi tak terkalahkan. Siapapun yang mereka tidak suka, bisa dengan mudah mereka singkirkan. Akhirnya tidak jelas lagi siapa sesungguhnya yang kriminal. Dan penegak hukum diam saja.

Saya bertemu Ippang saat umurnya sekitar 12 atau 13 tahun. Dia sedang berusaha menyelesaikan SD-nya saat itu. Untuk membiayai sekolahnya, Ippang bekerja menjadi pencuci mobil di sebuah tempat pencucian mobil di Bone. Saya sempat bertanya kenapa dia harus bekerja padahal dia masih di bawah umur, merujuk pada UU Perlindungan Anak. Tapi Undang-undang ternyata tidak selamanya berlaku. Ippang menolak berhenti bekerja, karena hanya dengan begitu dia bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Dan begitulah dia terus bekerja. Beberapa hari dalam seminggu tempat pencucian mobil itu menampungnya tidur dan menjamin makanannya, serta memastikan dia tetap bersekolah. Terakhir aku bertemu dengannya, dia sudah pakai seragam putih-biru.

Ketika bos-ku bilang, Pak JK menantang untuk menghadirkan siapa saja dan pertanyaan apapun dalam program Capres Bicara, yang terlintas di kepalaku adalah andai aku bisa membawa Ippang dari Bone ke studio ini.

Aku ingin Ippang menanyakan langsung kepada Pak JK, sang penyelesai konflik itu, orang yang datang dari kampung yang sama dengannya, yang mungkin pernah diniatkan untuk dia contreng kelak.

Aku berharap bisa memberi jalan pada Ippang untuk memuaskan tanyanya: mengapa pada suatu pagi dia menemukan ayahnya berada dalam lubang di tanah, hanya tertutup daun pisang, tewas dengan luka mengenaskan setelah dijemput oleh orang-orang yang menyebut dirinya pembela kebenaran?

“Padahal bapak saya bukan pencuri, tapi kenapa mereka membunuhnya…?”

Tapi Ippang harus menyimpan pertanyaannya. Pak JK sedang sibuk berkampanye, dan seperti yang dia bilang, negara Srilanka telah memintanya untuk menjadi konsultan penyelesaian konflik antara tentara pemerintah dan kelompok pemberontak Macan Tamil.

Dia akan makin jauh dari urusan remeh seperti itu. Dia tak punya waktu untuk memikirkan seorang anak yang mempertanyakan hukum semacam apa yang membuat ayahnya terbunuh. Bukan di Poso, bukan di Ambon, bukan di Aceh, apalagi di Srilanka.

Di Bone, Puang! Di Bone dia terbunuh.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)