Mengapa Kisah Seperti Ini Harus Terus Dibagi….


Rabu (27/7) pagi, Firna Larasati sudah sibuk berkemas dan merias diri di rumah orangtuanya di Sumurjurang, Kecamatan Gunungpati, , Jawa Tengah. Hari ini ia harus tampil sedikit berbeda. Ini hari yang istimewa untuknya, dan juga untuk kedua orangtuanya,

Firna akan mengikuti acara wisuda di kampusnya, .

Perjuangannya berkuliah selama 3 tahun 10 bulan sudah membuahkan hasil. Ia kini adalah sarjana Ilmu Politik yang lulus dengan IPK 3,77.

 

 

Foto: FB Danang Cahyo Roesdiatmoko
Foto: FB Roesdiatmoko

 

“Tekadnya sangat kuat. Kami selalu katakan ke Firna agar tidak malu hidup pas-pasan, karena banyak atau sedikit rejeki yang kita terima, semuanya dari Allah,” kata Siti Suswanti, ibu Firna. Suswanti boleh berbangga, ia yang hanya seorang cuci bersama suaminya Misianto yang seorang , berhasil mengantarkan putrinya ke salah satu tonggak keberhasilan.

“Kadang kami dapat uang 50 ribu sehari. Kadang dapat lebih sedikit, tapi juga sering kurang. Yang penting bisa sekolahkan anak,” kata Misianto, ayah Firna.

Sejak remaja, Firna sudah biasa membantu ayahnya, menyortir barang-barang bekas semisal botol, kardus, kertas, dan logam. Dia tidak takut tangannya kotor dan tidak malu dilihat teman-temannya saat bergumul dengan onggokan sampah di depan rumahnya.

Di sela-sela kuliah dia juga masih melakukan pekerjaan serupa. Ia juga mengajar di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bekerja di toko, dan sesekali menjadi penulis. Firna masuk Universitas Negeri Semarang lewat program khusus bagi anak-anak pintar dari keluarga tidak mampu.

Pada tahun kedua kuliah dia memperoleh beasiswa 600 ribu rupiah sebulan.

“Saya tidak malu terlahir miskin. Saya malah tertantang untuk bisa membuktikan bahwa orang miskin juga bisa meraih pendidikan tinggi,” ujar Firna.

Firna yang saat ini berusia 22 tahun bercita-cita menjadi dosen dan sedang berusaha mencari beasiswa S2 di luar negeri. Kampusnya berjanji akan membantunya.

Firna bertekad mengentaskan keluarganya dari jurang kemiskinan, “Saya tidak mau Bapak dan Ibu menderita lagi…”

Danang Cahyo

Danang Cahyo

jurnalis, tinggal di Semarang. Bersama istrinya mengembangkan bisnis sambal dengan merk "Sambal Oedel".
Danang Cahyo