Mahasiswa Surabaya Bikin Alat Pendeteksi Durian Matang

Img: freeimages.com
Img: freeimages.com


Bisa jadi karena sering tertipu saat membeli , seorang mahasiswa membuat alat kematangan buah durian.

Alat ini hanya butuh waktu sekitar 3 menit untuk menentukan apakah buah durian sudah matang atau belum.

Jagad Lanang, mahasiswa Sekolah Tinggi Managemen dan Teknik Komputer di , ini menyadari betapa indera manusia itu terbatas. Sehebat-hebatnya penciuman seseorang, tidak selalu bisa mengetahui kematangan buah durian.

Jagad membuat alat ini dengan memanfaatkan sistem  (e-nose) deret sensor gas semikonduktor atau TGS. Sensor gas semikonduktor ini, dengan jaringan syaraf tiruannya, bisa mendeteksi aroma atau gas yang dikeluarkan oleh buah. Sistem ini memang bukan temuan baru. Sebelumnya, metode e-nose ini sudah pernah dipakai oleh peneliti Arief Soedarmaji dan Rifah Ediati dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mendeteksi kematangan buah tropika. Hasil penelitian mereka bisa dibaca di sini.

Seorang dosen Teknik Elektro dari ITS, Muhammad Rivai, juga pernah mengembangkan sistem e-nose ini pada tahun 2009. Rivai memanfaatkan sensor Quartz Crystal Microbalance untuk temuannya. Sebagaimana dikutip dari laman ITS (its.ac.id), peraih riset Indonesia Toray Science Foundation ini bahkan sudah berhasil mengembangkan e-nose hingga 32 sensor.

Kembali ke alat pendeteksi buah durian yang dibuat oleh Jagad. Ira Puspasari, dosen pembimbing Jagad, menyatakan alat ini masih perlu penyempurnaan.

“Alat tersebut hanya bisa mendeteksi buah durian montong dan lokal, belum bisa dipakai untuk duah durian impor,” tutur Ira kepada Yanuar Qomaruddin, kontributor Transmedia Surabaya.

Sip. Ditunggu penyempurnaannya ya, Bu. Durian Bangkok menunggu.

M Isfarani

anak magang di The River Post. Tugas utamanya sebenarnya bikin kopi dan beli nasi. Masih belajar menulis.