Serunya Tinggal di Kompleks Manula

manula


Seorang teman yang sharing lomba menulis Menggunjing Tetangga memberikan pengantar, “Sebenarnya enggak enak banget nih judul lombanya tapi apa boleh buat maunya penyelenggara begini.” Terprovokasi oleh infonya segera mengklik link yang diberikan. Beugh ini mah bergunjing dalam cara yang positif, mbaknyah mungkin ga membaca secara tuntas.  Ini menggunjing tetangga dalam cara yang positif. Tidak mudah menemukan manusia so dewa begini, manusia yang masih berkutat untuk hidupnya sendiri yang pas-pasan tapi bisa berbuat banyak bagi sesama. Seorang ibu penjual yoghurt keliling yang mendirikan TPA. Seorang juru parkir yang membuat TK.  Saya yakin jika banyak manusia yang berbuat seperti ibu dan tukang parkir tersebut maka jumlah orang miskin akan makin berkurang. Sebab pendidikan akan memampukan individu untuk menggapai tangga yang lebih tinggi dalam dunia kerja. Whoooa ngomong apa sih kan ntuh TK dan TPA?  Ya, kan jika banyak manusia yang berbuat seperti ibu tersebut maka sekolah gratis yang dibuat akan makin bervariasi dan berjenjang.

Ada sih SMP gratis di lingkungan rumah.  Tapi bagaimana mau ngebahas jika dari 27 siswa sudah berkurang jadi  7 siswa?  Sebelum jadi jahara karena menggunjing  mending cerita pengalaman saya di kompleks  hari Sabtu (27/08). Pagi-pagi dah jalan aja ke kampung di belakang kompleks, ada risoles enyak-enyak dengan isian sayuran dan kulit yang moist ga kering kerontang seperti risolesnya tukang gorengan. Jam 7 pagi saat yang pas banget buat dapatin risoles yang baru diangkat dari penggorengan, empat risoles yang endut-endut  hanya merogoh kocek Rp. 5.000.-, selain risoles saya juga beli soun goreng Rp. 3.000.- semangkuk. Usai dari situ mampir ke warung tetangga yang terletak tepat di depan rumah, eh disapa sama pemilik rumah yang merupakan ibunya pemilik warung. Pemilik rumah merupakan guru SD saya dulu dan pernah jadi guru SD anak saya juga, beliau sekarang berusia 75 tahun.  Memang di rumah bu guru tinggal juga 5 dari 6 anaknya yang semua sudah berkeluarga sekaligus beranak-pinak. Jangan sangka beliau tinggal empet-empetan sembari kipas-kipas keringat. Rumahnya (luas tanahnya) 800 m2, jadi ya pastinya lega wong petakan aja cuma 20-30m2 kan?

Baru ngobrol sebentar, bu guru bertanya, “Nak, hari ini sarapan apa?”. Saya langsung mengangkat kantung plastik kresek tembus pandang berisi risoles. Eh beliau langsung minta satu, anaknya langsung menjerit, “Mamaaa, malu ah.”

Sebaliknya saya malah jadi ingat almarhum ibu yang juga suka begitu, minta makanan dengan malu-malu. Kami ngobrol berdua sembari menikmati risoles, risoles habis saya sodorkan lagi plastik kresek. Bu guru mengambil sepotong lagi, anaknya menjerit tapi pasrah. Bu guru sebelumnya memastikan saya tidak akan menyesal jatah sarapan berkurang, “Ah gak papa tante, kan saya masih punya soun goreng. Mau separoan?”.

Bu guru tergoda tapi anaknya langsung melarang hehehe. I love you bu guru sembari pamitan.

Hanya  sebentar menikmati pagi yang senyap di rumah sudah ada keriuhan lagi. Ada pak RW dan rombongannya datang dengan mobil  membawa aneka panganan untuk acara 17 Agustusan di kompleks yang sudah berlangsung sejak hari Minggu (20/8) lalu.  Karena aneka makanan dititipkan di carport saya jadi mereka memberikan sebagian bagi penghuni rumah….YAY.  Perhelatan peringatan kemerdekaan RI diselenggarakan di jalan sebelah rumah yang ditutup portal.

 

Lucunya hari Jumat, Sapon ART bu Rajak sibuk memetik  daun jambu klutuk di rumah. Katanya buat bersihin kuku bu Rajak karena mau ikutan lomba menari hari Sabtu tersebut. Saya jadi bingung, “Loh daun jambu kan buat bikin telur pindang jadi coklat. Gimana bisa buat kuku jadi bersih.”

Sapon menjawab, “Iya kata ibu sih gitu mana saya yang disuruh membersihin. Belum lagi nyiapin lomba tumpeng.”

Hah jadi bu Rajak seperti putri gitu ya? Saya jadi ketawa membayangkannya soalnya bu Rajak sudah berumur 65 tahun.

Karena kisah kuku berdaun jambu ini saya jadi penasaran nonton bu Rajak mau nari apa sih, sembari nenteng smartphone untuk mengabadikannya.  Tahunya ini bukan nari tradisional atau modern tapi tarian senam yang harus pakai baju olahraga dan  sepatu sport. Ibu Rajak satu grup sama tante Riris yang gesitnya ampun-ampunan padahal usianya 75 tahun. Saya mampir ke rumah bu Rajak yang berada di sebelah rumah, mereka sedang sibuk berbantahan masalah kostum.

“Udah percaya ma gue pake scraf merah putih ini, kita pasti menang, “kata tante Riris. Kenyataannya mereka dapat juara dua. Juara satunya yang senam dengan semangat 45 seperti di foto.

Nah uniknya pas saya sibuk mengabadikan sembari  berpindah-pindah posisi ternyata pak RW yang sudah sepuh dan para ibu-ibu dengan kamera masing-masing ngikutansaya wara-wiri. Usai mengabadikan beberapa momen, saya kembali ke rumah beristirahat sekitar dua jam sebelum dipanggil pakai TOA.

“Mbak Tari harap datang ke lokasi pertandingan tumpeng. Mari kita bersantap bersama.”

Belum cukup memanggil pakai TOA,mereka masih meminta mbak Preh – ART saya untuk memanggil ke dalam rumah. Siapa sih yang mau nolak makan tumpeng, buru-buru saya meluncur ke TKP. Engga tahunya sampai di sana saya diminta mengabadikan penyerahan hadiah lomba memasukan paku ke botol, lomba makan kerupuk dan lain-lain, owalah.

Begitulah keakraban di kompleks kami padahal saya dan beberapa penghuni senior jelas beda generasi tapi  komunikasi berjalan akrab. Kompleks ini awalnya merupakan kompleks perumahan pegawai  di zaman Bapak saya yang sudah beralih jadi perumahan pribadi tentunya dengan membeli ke perusahaan.  Rumah era lama pastinya dengan luas yang beda dengan perumahan sekarang. Saya tetap tinggal di rumah tersebut setelah orangtua meninggal. Kompleks dengan penghuni senior ini sudah berbuat banyak, berawal dari pembuatan sebuah Taman Kanak-Kanak. Yang mengalami kemajuan dari tahun ke tahun dan sekarang merupakan TK unggulan dimana calon murid baru harus masuk waiting list. Sebagian kecil pendapatan yang diperoleh dari TK tersebut dipergunakan sebagai modal koperasi simpan pinjam yang sekarang  total assetnya mencapai Rp. 150 juta. Ada sebuah masjid besar yang berawal dari bangunan sederhana dan berkembang terus sesuai donasi yang diterima. Banyak kegiatan rutin yang dilakukan dan siapa sangka teman saya yang mukim di Bekasi rutin mengikuti pengajian di sana.

Ada arisan rutin  sebulan sekali yang setorannya ringan, arisan tersebut juga menjadi ajang komunikasi sesama warga  bahkan warga yang sudah pindah dari kompleks banyak yang masih ikutan. Tak hanya sekedar arisan, sebagian dana dialokasikan pada DASOS alias Dana Sosial yang diberikan pada peserta arisan yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit.

Demikianlah  dinamika kompleks, saya banyak belajar dari para senior citizen ini.

 

Penulis:

Dapinah

Mother. Blogger, Cyberpreneur

 

–Artikel ini diikutsertakan dalam yang diselenggarakan oleh The River Post – Berbagi Hanya yang Baik

Artikel dalam Topik Ini : << Cerita dari Rappocini, Tentang Semangat Memaslahatkan MasyarakatArit Widowati, Laktivis Pendakwah ASI >>