Semua Karena (Bude) Umi…

DSCF3591


Namanya Umi Khalsum. Usianya hampir delapan puluh tahun, namun masih nampak seperti enam puluhan tahun. Orang-orang biasanya memanggil dengan sebutan Bu Um atau Bude Um. Beliau tinggal sendiri di rumah berukuran sangat minimalis dan kurang layak bila disebut sebagai rumah sehat. Beliau tinggal di kampungku yang secara kultural begitu akrab khas perkampugan Indonesia, bahkan tetangga-tetangga terdekat jika ditelusur masih ada hubungan kekerabatan entah karena hubungan darah atau karena perkawinan. Malah, Bude Um, jika ditelusur beliau ini masih kerabat denganku juga. Jadinya, Budeku Tetanggaku, begitulah kira-kira. Beliau menghabiskan hari-harinya dengan menjahit pakaian sebagai nafkahnya sembari menikmati hidangan siaran tivi mungil yang harus diputar-putar lebih dulu antena internalnya agar gambarnya jelas. Bagiku beliau sebenarnya bukan penjahit, karena sangat jarang beliau menerima pesanan dari kain dijadikan baju atau celana. Yang lebih sering beliau memperbaiki pakaian-pakaian tetangga yang rusak atau robek untuk dijahit ulang dengan ongkos kerja yang minim. Lebih mirip servis pakaian menurutku.

Sebenarnya Bude Um juga tidak sendiri sepi begitu saja meskipun faktanya beliau tinggal seorang diri. Ada cucu langsung beliau yang sudah berkeluarga tinggal di seberang rumah. Namun, sang cucu dan istrinya sangat jarang berkunjung meski hanya menempuh beberapa langkah saja. Bude Um yang selalu ceria, penuh senyum merekah dan ramah kepada semua orang bahkan cenderung lugu inilah yang akan kuceritakan. Kalau sudah ngobrol dan diskusi tentang kehidupan, obrolan kami sangat seru dan menyenangkan. Saking serunya bahkan mirip obrolan dengan sahabat tetap dalam koridor kesopananku pada beliau. Sikapnya yang terlalu sabar, terlalu “nriman”, terlalu lugu inilah yang tak kusukai dari Beliau. Karena karakter Bude Um yang begitulah, membuat beliau kerap dikibuli orang, dibohongi orang dan dipermainkan orang. Aku marah pada perilaku orang-orang yang begitu tega pada Bude Um dan aku juga marah pada Bude Um yang terlalu sabar. Harusnya Bude Um jangan seperti itu. Orang-orang begitu tega pada orang miskin seperti Bude Um. Ya, menurutku Bude Um memang tergolong miskin dan ini harus dibantu meskipun beliau selalu merasa tak perlu dibantu.

“Eh, Le..Bude ini tidak miskin lho, jangan salah kamu..”kata Bude pada suatu ketika. Bude Um selalu memanggilku dengan sebutan “Thole” (Bahasa Jawa yang artinya anak laki-laki)

“Loh kok bisa ?Wong Bude seperti ini..”

“Buktinya Bude masih menjahit tiap hari, masih bekerja, ya to..”

“Iya tahu, tapi penghasilan Bude berapa ?Cuma segitu kan..naah orang-orang itu tidak takut dosa sudah memperlakukan Bude seperti itu..”

“Iya, memang segitu, tapi Bude masih bisa makan sehari tiga kali, masih bisa bayar listrik, belum kalau tetangga yang mengirim makanan atau camilan, atau juga makanan yang kamu kirim buat Bude..hayoo ya kan…kalau orang miskin itu susah makan, kelaparan..lha kalau Bude..alhamdulillah selalu kenyang..nah, satu lagi, Bude masih bisa bikinin kamu kopi tiap kali kamu ke sini ya to?hehehe…”

Aku cuma garuk-garuk kepalaku yang tak gatal. Kadang aku cuma bisa geleng-geleng kepala kalau sudah beediskusi seru seperti ini dengan Bude Um. Bude Um selalu tertawa terkekeh seperti tak ada beban berat di hidupnya padahal, aku tahu persis kondisinya sangat berat. Tapi itulah Bude, orangnya selalu ikhlas, dan memang seperti itulah orang yang ikhlas, beban terasa tidak berat dan memiliki nyali dan keberanian luar biasa dalam menghadapi kehidupan. Tanpa takut kehilangan tanpa takut tak mendapat bagian. Tapi tetap saja tak masuk akal bagiku pada sikap Bude Um yang selalu memaafkan orang-orang yang sudah menerima servis jahitnya tanpa membayar padahal ongkosnya tak seberapa. Orang-orang itu keterlaluan dan Bude Um adalah super “aneh” !!

“Le, berarti orang-orang yang tidak membayar servis jahit Bude itu lebih membutuhkan uang daripada Bude, bisa jadi kondisinya jauh memprihatinkan daripada Bude, jadi Bude mikirnya begitu..berarti kondisi Bude masih lebih baik daripada mereka, alhamdulillah iya to..”

Beberapa waktu lalu Bude Um terjatuh di rumah dan tulang paha kanannya patah. Aku dan cucunya membawa ke dokter. Singkat cerita, Bude Um ngotot tidak mau dioperasi. Beliau lebih memilih rawat jalan sembari mengkonsumsi makanan-makanan yang disarankan untuk cepat merekatkan tulang yang patah. Sehari-hari beliau berjalan dengan menggunakan alat bantu jalan. Saat mengetahui ini, pikiran saya melayang. Bagaimana dengan kemampuan usia tua Bude Um menghadapi patah tulang ini ?Apa fisik tuanya mampu bertahan ?Bukankah tulang tua lebih lama penyembuhannya ?Lalu bagaimana dengan pesanan jahitan yang sudah diterima Bude Um ?Apa Bude Um sanggup menyelesaikan jahitan sedangkan selama ini kaki beliaulah yang turut andil dalam menjahit. Kalau tak bisa menjahit, lalu bagaimana dengan penghidupan Bude Um ke depan ?Anaknya sendiri yang secara ekonomi sebenarnya mampu untuk membantu ibu kandungnya justru bertahun-tahun seperti melupakannya. Apalagi cucunya yang tinggal di seberang..meski sudah berkeluarga, nyatanya Bude kadang-kadang masih membantu memberikan uang pada cucunya. Aku sendiri ?Secara ekonomi, aku sendiri belum mampu secara rutin membantu Bude Um, tapi kalau sesekali, insidental dan kadang-kadang ketika ada rejeki lebih, aku selalu membantu Bude Um. Jutaan pikiran buruk dan kekhawatiran tentang Bude Um berkecamuk bergumul bergulat dalam otakku. Kupikir-pikir Bude Um orang yang hebat. Bagaimana tidak hebat, beliau yang miskin seperti itu masih bisa membantu cucu dan istrinya dan para tetangga dan beliau tidak pernah khawatir sedikitpun akan kekurangan. Kalau aku, sudah pasti tak bisa bersikap seperti itu. Pernah terlintas pikiran ekstrem di benakku, apakah Bude Um sudah “tidak waras” ?

Hampir satu bulan Bude Um tidak menjahit. Kabar itu aku terima dari cucunya saat aku bertugas di luar kota. Hampir tiap hari aku memikirkan Bude sambil berdoa untuk kesembuhan dan cepat pulihnya Bude. Tak lupa aku berdoa agar Bude Um “tobat” untuk tidak terlalu baik kepada orang yang akibatnya justru tidak baik bagi Bude Um. Dan doaku yang terakhir itulah yang tidak dikabulkan Allah. Ya Allah, tolong kasihani Bude Um…

Salam kusampaikan dengan takzim di pintu depan rumah mungil yang sangat bersahaja. Tak ada jawaban seperti biasanya. Aku langsung masuk dan duduk. Di depanku terhampar mesin jahit dengan seonggok perlengkapannya dan beberapa kain yang tergeletak di meja sebelahnya. Tivi mungil masih menyala menyiarkan acara berita siang. Jawaban salamku terdengar dari kamar yang berada di balik tembok aku duduk. Gegas aku masuk, namun sudah terhadang senyum sumringah Bude yang masih mengenakan mukena sembari berjalan menggunakan alat bantu. Betul-betul hebat Bude Um. Tulang kaki patah masih saja sholat, sedangkan banyak orang-orang yang sehat dan sempurna secara fisik justru malah meninggalkan sholat.

“Le, tahu tidak…sejak Bude jatuh dan patah tulang, Bude banyak mendapat hikmah..”

Hah ?Hikmah ?Memang banyak yang bilang selalu ada hikmah dibalik peristiwa termasuk musibah. Tapi bagi Bude ?Beliau sudah miskin, jatuh dan patah tulang lagi. Bagiku ini sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ah, sudahlah Bude..jangan terlalu menghibur diri, tidak baik, begitu batinku.

“Pertama, hampir satu bulan Bude tidak menjahit. Berarti Allah menyuruh Bude untuk istirahat, ambil cuti seperti orang-orang yang kerja kantoran hehehe..Nah, masih mau bantah kan?Kamu tahu sendiri Bude tiap hari menjahit dari pagi sampai malam, sakitpun yang lalu-lalu tetap saja menjahit, istirahat cuma pas sholat, makan dan mandi dan tidur malam, ya kan ?’

“Kedua, Allah memberi rejeki pada Bude yang Bude tidak duga sama sekali..itu pesanan menjahit banyak, menumpuk..Nah, pasti mau mbantah juga “kakinya Bude kan sakit mana bisa menjahit..” begitu kan ?Kemarin, Bude ngetes kaki Bude untuk menjahit, eh Alhamdulillah bisa dan awal-awalnya sempat sakit sedikit, lalu sudah terbiasa dan hilang.Jadi seharian kemarin Bude menjahit dan hasilnya ini lihat, bagus kan ?Hehehe..khusus hari ini Bude istirahat lagi buat menemani kamu sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang luar biasa ini..belum pernah Bude menerima pesanan sebanyak ini sewaktu sehat..”

Aku manggut-manggut sembari berpikir keras meskipun awalnya aku kurang setuju dengan pendapat beliau. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun juga usia beliau jauh di atas usiaku dan beliau sudah teruji oleh jaman dan itulah yang membuatku yakin bahwa ilmu pengetahuan Bude Um soal kehidupan jauh diatasku. Logikaku berkata begitu. Kalimat terakhir Bude di siang itulah yang membuatku terhenyak dan jantungku berasa berhenti berdegup. Sangat menohok ulu hatiku dan setelah kupikir memang benar. Aku harus mengakuiya sebagai kebenaran dan berhenti membantah dan berhenti merasa paling benar.

Musibah ini makin membuka hati dan pikiran Bude Um, bahwa dirinya masih banyak kekurangan terutama dalam hal ibadah dan perilaku kebaikan. Semua olah gerak pikiran dan tubuh seyogyanya didasarkan atas niat ibadah dan berharap ridha Allah, dan Bude Um merasa dirinya masih banyak yang perlu dibersihkan di hatinya. Dengan musibah ini, Bude Um merasa Allah memerintahkan dia untuk lebih menata dan membersihkan hati. Dengan patahnya tulang kaki, membuat Bude Um lebih konsentrasi kepada Allah, bekerja sepenuh hati, terhindar dari ajakan tetangga yang sedang berkunjung ke rumahnya untuk menggunjing tetangga lain, terhindar dari upaya ghibah atau bahkan fitnah, karena peluang melakukan perilaku tak elok tersebut sangat besar saat Bude Um sehat dan saat para tetangga bertandang untuk memberi pesanan, mengambil pesanan atau mengantar camilan untuk Bude Um. Aku banyak dosa karena meladeni ajakan tetangga menggunjing tetangga yang lain meskipun cuma berkata “Oh ya ?”, “Masak sih,” dan aku tak pernah mengingatkan mereka untuk berhenti menggunjing tetangga,begitu pengakuan dosa Bude Um padaku siang itu.

Ya Allah, terima kasih telah Kau berikan aku seorang kerabat yang berilmu tinggi dalam kehidupan dan telah mengingatkan aku agar selalu introspeksi diri karena selama ini aku selalu mengumpat musibah dan selalu menganggap tak punya dosa saat musibah menimpaku. Terima kasih Bude Um-ku, Tetanggaku.

 

Penulis:

Catur Caesaria Hadi Nugroho

 

–Artikel ini diikutsertakan dalam yang diselenggarakan oleh The River Post – Berbagi Hanya yang Baik

Artikel dalam Topik Ini : << Sttt! Ada Relawan Tuhan di BajangErna, Sang Pendekar Lingkungan >>