Pak Mursal yang Menginspirasi Pak Joko

pak mursal


Malam ini, ketika jam dinding di rumah saya telah menunjukkan pukul dua puluh lewat tiga puluh menit dan saya yang berada di dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang menyapu jalan. Maklum saja, jarak dinding kamar saya tidak berjauhan dengan sebuah gang kecil yang cukup ramai dilalui orang, sehingga dari dalam kamar, saya bisa mendengar apa yang terjadi di luar rumah.

Terdorong oleh rasa ingin tahu siapa yang sedang menyapu di luar sana padahal hari sudah malam, saya melangkah ke luar rumah. Dari teras, saya bisa melihat sosok yang sedang menyapu. Beliau adalah Pak Joko.

Pak Joko adalah tetangga saya. Rumahnya hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari rumah saya. Tangan kanan Pak Joko memegang sebuah sapu yang digunakan untuk membersihkan sampah yang mengotori jalan di sekitar rumahnya. Tak hanya malam ini saya melihat Pak Joko menyapu jalanan di sekitar rumahnya, hampir setiap pagi, saya melihat beliau beraksi dengan sapu di tangannya.

Pak Joko bukanlah orang yang pertama yang sering menyapu jalanan di sekitar rumah tempat tinggal saya. Jauh sebelum Pak Joko melakukannya, ada tetangga saya lainnya yang bernama Pak Mursal yang lebih dahulu melakukan aksi seperti yang dilakukan oleh Pak Joko sekarang. Bahkan lebih hebat lagi. Jika Pak Joko hanya menyapu jalanan dan membersihkan sampah di sekitar rumahnya, maka Pak Mursal, selain menyapu dan membersihkan sampah di sekitar rumahnya, beliau juga membersihkan sampah di sekitar rumah tetangganya, seperti jalan di depan rumah saya, serta mengangkat sampah yang berada di dalam selokan agar tidak menghambat aliran air.

Sebagai sedikit gambaran, berikut adalah kondisi lingkungan di sekitar rumah saya. Rumah saya berada di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Tepat di depan rumah ada sebuah lapangan bulu tangkis yang berpagar tembok lumayan tinggi, sehingga siapa pun tak bisa melihat apa yang dilakukan orang di balik tembok tersebut.

Di salah satu sisi tembok, tumbuh beberapa Pohon Glodogan yang cukup tinggi dengan daun yang cukup lebat. Jika tertiup angin, Pohon Glodogan tersebut akan bergoyang-goyang mengikuti arah angin. Bersebelahan dengan Pohon Glodogan, menjulang pohon lain dengan daun yang lebih rindang. Jika saya tidak salah dengar dan ingat, nama pohon tersebut adalah Pohon Rambutan Irian.

Jika Pohon Glodogan memiliki daun yang kuat sehingga tidak mudah rontok jika tertiup angin, maka tidak demikian halnya dengan Pohon Rambutan Irian. Setiap hari, ada saja daun Pohon Rambutan Irian yang menguning atau tua. Daun-daun tua tersebut kemudian tertiup angin hingga rontok dan berserakan di jalan bahkan ada pula jatuh ke dalam selokan.

Saya dan juga beberapa tetangga yang rumahnya berdekatan dengan lapangan bulu tangkis, sepertinya tak ambil pusing dengan kondisi tersebut. Tak ada di antara kami yang berinisiatif untuk membersihkan jalan dan selokan secara rutin setiap hari atau setidaknya melakukan kegiatan bersih-bersih secara bergiliran dengan jadwal yang ditentukan.

Namun tidak demikian dengan seorang lelaki paruh baya, Pak Mursal namanya. Rumah beliau jaraknya sekitar lima puluh meter dari rumah saya. Lebih jauh dari rumah Pak Joko dan lebih juga jaraknya dari lapangan bulu tangkis di mana jalan dan selokannya sering dipenuhi oleh daun-daun yang berjatuhan dari Pohon Ramburan Irian.

Saya sering kali saya melihat Pak Mursal membersihkan dedaunan kering yang rontok di jalan, bahkan mengeluarkan daun-daun yang jatuh ke selokan beserta aneka macam sampah lainnya. Padahal bagian jalan atau selokan yang dibersihkan beliau bukanlah jalan di sekitar rumah beliau.

Sependek pengetahuan saya, tak ada iuran kebersihan yang diberikan untuk Pak Mursal. Untuk masalah sampah, sudah ada petugas sampah yang mendapat iuran dari setiap rumah. Namun yang diangkat tukang sampah hanyalah sampah-sampah rumah tangga dan tidak termasuk sampah yang berada di jalan atau di dalam selokan. Saya yakin dan seyakin-yakinnya jika Pak Mursal melakukan kegiatan bersih-bersih tersebut tanpa pamrih.

Sungguh banyak sedekah yang telah beliau berikan kepada banyak orang. Sebab membersihkan jalan atau selokan dari sesuatu yang kotor dan membahayakan –selokan jika tidak dibersihkan akan menyebabkan tersumbat dan banjir—merupakan sebuah sedekah. Ditambah lagi, banyak tetangga, termasuk saya, yang merasa senang dan terbantu dengan apa yang dilakukan oleh Pak Mursal.

Sayangnya, tak ada sesuatu yang mampu menyenangkan orang lain. Termasuk kegiatan bersih-bersih yang dilakukan oleh Pak Mursal. Ternyata, ada salah seorang tetangga yang merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan Pak Mursal dan melakukan protes.

Mungkin karena tak ingin terjadi keributan berkepanjangan, akhirnya Pak Mursal memutuskan untuk menghentikan aksi bersih-bersih tanpa pamrih yang sebelumnya selalu di beliau lakukan.

Keputusan Pak Mursal tersebut tentu saja sangat disayangkan oleh para tetangga. Mereka juga menyalahkan apa yang dilakukan oleh salah seorang dari mereka yang memprotes kegiatan yang dilakukan Pak Mursal. Pada akhirnya, Pak Mursal tetap ada keputusannya. Selama beberpa waktu, tak ada lagi orang yang bersedia melakukan apa yang telah dikerjakan oleh Pak Mursal.

Hingga kemudian, Pak Joko mulai melakukan kegiatan bersih-bersih yang pernah dilakukan oleh Pak Mursal sebelumnya. Meski apa yang dilakukan oleh Pak Joko saat ini tidak ‘sehebat’ yang dilakukan oleh Pak Mursal, namun sudah cukup untuk membuat jalan dan lingkungan di sekitar tempat saya tinggal menjadi lebih bersih.

Entah benar atau tidak, secara langsung atau tidak langsung, apa yang pernah dilakukan oleh Pak Mursal telah menginspirasi Pak Joko dengan kegiatan bersih-bersihnya saat ini. Mungkin, di hari-hari berikutnya, akan lebih banyak lagi tetangga Pak Mursal yang juga terinspirasi seperti Pak Joko. Mungkin juga diri saya yang saat ini hanya mampu untuk menuliskan cerita ini.

*****

Penulis

Nama : Rifki
FB : rifki.jampang
Twitter : @rifki_jampang
–Artikel ini diikutsertakan dalam yang diadakan oleh The River Post – Berbagi Hanya yang Baik

Artikel dalam Topik Ini : << Erna, Sang Pendekar LingkunganNenek Rus Sang Tukang Pijat Artis >>