Gedung belajar MIS Al-Hidayah Sitinjo yang dikepalai Ibu Berutu sebelum mendapat izin operasional
Gedung belajar MIS Al-Hidayah Sitinjo yang dikepalai Berutu sebelum mendapat izin operasional


Kebersamaanku dengannya hanya sebentar. Bahkan bisa dikatakan sangat-sangat sebentar. Secara kebetulan aku berkenalan dengan beliau saat salah satu komunitas yang aku ikuti mengadakan kegiatan bakti sosial ke yang beliau pimpin.

Namanya Sariani Berutu. Beliau adalah seorang kepala sekolah di sebuah MIS (Madrasah Ibtidaiyah Swasta) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Sekolah yang ia pimpin baru berdiri pada tahun 2014 silam. Yah, sekolah yang ia pimpin memang masih balita. Tapi ada sisi kehidupan lain dari beliau yang menarik perhatianku, hingga tak tahan rasanya untuk mendengar cerita langsung dari beliau. Gayung bersambut, beliau pun tak keberatan saat aku dan salah seorang teman memintanya menceritakan ulang kilas balik perjuangan perjalanan hidupnya.

Sama seperti kebanyakan anak sekolah lain, di usia sekolahnya Ibu Berutu juga seorang anak yang punya dan hobi tertentu. Beliau dulunya bercita-cita menjadi seorang Polwan (Polisi Wanita) dan punya hobi berolahraga. Sangat mungkin jika kita tilik dari kacamata sinkronisasi. Seseorang yang punya hobi berolahraga, bercita-cita menjadi Polwan.

Namun kita harus mengamini pernyataan orang bijak, bahwa “Bumi adalah panggung sandiwara”, kita sebagai pelakonnya, dan ada sesuatu yang bertindak sebagai sutradaranya, Dialah Tuhan. Kita boleh merencanakan ending seperti apa untuk sandiwara yang kita perankan, tapi keputusan alur cerita ada di tangan Sang Sutradara. Demikian pulalah yang berlaku pada beliau.

Di awal, Ibu Berutu sempat tidak mendapat dukungan dari keluarga untuk menjadi Polwan. Bisa jadi karena beliau seorang muslimah berjilbab, kita tahu sebelumnya setiap Polwan mempunyai keharusan mengenakan rok dan berambut sebahu. Namun, orang tua mana yang akan mematahkan dan mengubur cita-cita anaknya.

Sampai akhirnya, di satu kesempatan pendaftaran Polwan di tahun 1995, dengan dukungan dari seorang sepupu, Ayah beliau merelakan sebidang tanah milik keluarga mereka di jual untuk keperluan pendaftaran tersebut. Tapi apa daya, sampai jadwal pendaftaran ditutup tak seorangpun membeli sebidang tanah yang ditawarkan. Maka menjuruslah jalan cerita, bahwa Polwan bukan takdir beliau.

Benarlah jika dikatakan, menerima kenyataan sangat menyakitkan. Setelah pendaftaran Polwan ditutup, datanglah orang yang bermaksud membeli tanah mereka dengan harga yang jauh lebih mahal dari yang ditawarkan. Kenyataan ini tentu akan menambah luka seorang anak yang melihat mimpinya telah kandas. Ayahnya memang tak lagi menjual tanah, tapi beliau mengaku ketika itu beliau sempat frustasi.

Seseorang mengajaknya mengadu nasib ke Medan. Sepenggal waktu Ibu Berutu pun berlalu di salah satu kota Metropolitan ini. Bisa jadi sepenggal waktu di kota ini menjadi masa terkelam yang pernah beliau lalui seumur hidup. Keberadaan di tempat yang baru ini menjadi pelampiasan rasa kecewa, sebagai perlawanan atas rasa kecewa akan takdir Tuhan.

Ibu Berutu yang sejak kecil dididik di sekolah yang bernafaskan agama Islam, dan telah mengenakan jilbab pada masa orang-orang menganggap jilbab itu sebagai benda asing. Kala itu tanpa ia sadari telah melakukan perlawanan pada Penguasa Takdir, melepas jilbabnya dan melakukan pekerjaan kasar sebagai buruh pabrik. Tanpa ia sadari, ia sedang mengkampanyekan pada khalayak, bahwa seperti inilah kerasnya kenyataan hidup.

Tapi keadaan ini tak berlangsung lama, karena Penguasa Takdir selalu punya rencana baik untuk setiap hamba-Nya. Sebagai makhluk yang percaya keberadaan-Nya, kita harus percaya itu. Tuhan itu Maha Baik, Maha Penyayang, bahkan pada hambanya yang secara manusiawi tidak layak mendapatkan kasih sayang sekalipun, Dia tetap Menyayangi hambanya. Hanya kita yang berprasangka kalau Dia sudah meninggalkan kita.

Begitulah, Tuhan menarik ulur garis kehidupan Ibu Berutu agar segera kembali ke garis takdir yang seharusnya, dalam waktu yang singkat. Hanya 3 bulan beliau dibiarkan bebas menentang dan melampiaskan rasa kecewanya. Karena ada sesuatu hal yang mengharuskan beliau untuk pulang ke kampungnya di Sidikalang setelah  3 bulan beliau di Medan.

Ibunya tentulah sangat berduka, berduka karena putri kesayangannya gagal meraih cita-citanya. Dan ia pun berduka saat melihat putri yang telah ia sekolahkan, dididik dengan didikan agama yang mereka anut selama 6 tahun, harus berakhir dengan seperti itu. Tapi seorang ibu selalu punya cara untuk membuat luka anaknya tidak terasa perih, meski sebenarnya ia pun sedang mengalami luka yang jauh lebih perih.

Hari itu, hari ketika Ibu Berutu kembali ke rumahnya di Sidikalang, ia telah menoreh sembilu di hati ibunya. Tapi ibunya memaafkannya, sebab ia tahu putrinya itu sebenarnya pun sedang terluka. Maka ia ambil obat pereda rasa perih di luka putrinya, dan obat itu cukup manjur dan menjadi alarm yang cukup keras, ketika satu hari kelak terfikir di benak Ibu Berutu untuk kembali menentang garis takdir yang telah ditetapkan Tuhan baginya.

Obat pereda perih itu adalah sebuah pertanyaan, yang hanya bisa dijawab oleh seseorang yang hatinya telah terpaut oleh keimanan, “Anakku, tidak adakah yang membekas setelah 6 tahun engkau ibu sekolahkan di sekolah agama?”

Pertanyaan itu masih terngiang di telinga Ibu Berutu hingga sekarang. Meski dituturkan telah melebihi 20 tahun silam. Terlebih saat beliau kembali merasakan putus asa di kemudian hari, pertanyaan yang sampai sekarang belum ia jawab melalui lisannya, mengiang dengan sangat keras, dan memaksanya untuk menjawabnya dengan aktifitas fisik yang menyatakan bahwa ia telah dididik dengan tuntutan syariat agama yang ia dan keluarganya anut, dimana salah satu syariatnya adalah larangan untuk berputus asa dari Kasih Sayang Tuhan sekalipun kita merasa Tuhan sedang memperlakukan kita dengan tidak adil.

Selanjutnya Ibu Berutu menerima tawaran dari salah satu adik Ayahnya untuk mengajar di satu daerah. Sedikitpun tak terlintas di hati ibu Berutu ketika itu ia akan mengajar di daerah terpencil. Sebab pamannya itu mengatakan bahwa mobil China (red, mobil bermuatan 4 orang dengan gerdang 2) telah masuk ke daerah itu. Dalam bayangan ibu Berutu, kalau sudah ada mobil yang sampai ke daerah itu pastilah daerah itu sudah ramai ditinggali penduduk.

Yah, daerah itu memang ramai ditinggali penduduk. Penduduknya ramai dengan ragam spesies, dari spesies manusia sampai spesies hewan jinak dan liar memenuhi daerah tempat Ibu Berutu pertama kali menulis sejarah hidupnya sebagai seorang guru. “Kalau kita lagi ngajar itu dek, dari jendela kelas akan keliatan monyet-monyet bergantungan. Bahkan mengintip ke jendela kelas. Seakan-akan mereka itu mau ikut belajar juga sama kita,” cerita Buk Berutu menggambarkan keadaan tempatnya pertama kali mengajar itu.

Beliau mengaku, di satu sisi beliau menikmati aktiftasnya mengajar. Tapi di sisi lain, hati kecilnya memberontak untuk segera pulang dan berhenti mengajar. Alasannya karena lokasi tempatnya mengajar, ditambah dengan pembelaan bahwa menjadi guru bukanlah cita-citanya. Sampai setelah mengajar selama 6 bulan, beliau sakit yang mengharuskannya pulang ke rumah orang tuanya di Sidikalang. Alasan inilah akhirnya yang menguatkannya untuk tidak kembali lagi ke tempat itu.

Apakah ibu Berutu berhenti mengajar?

“Ibu dulu cita-citanya jadi Polwan dek, tapi kita kan cuma berencana, Allah yang berkendak,” tutur beliau sebagai isyarat bahwa beliau telah menerima takdir profesinya sebagai pahlawan tanpa Tanda jasa itu.

Selanjutnya beliau melanjutkan program belajarnya dengan mengikuti program Diploma-2 yang telah di buka di Sidikalang. Sambil kuliah, ibu Berutu mengajar di SLTP Muhammadiyah Sidikalang dan Mts Swasta Sidikalang. Di sore harinya beliau mengajar lagi di sekolah MDA (Madrasah Diniyah Amaliyah).

Memasuki tahun 1999-2000 telah banyak sarjana yang mengajar di sekolah-sekolah di Sidikalang, termasuk di sekolah tempat Ibu Berutu mengajar. Meski demikian, Ibu Berutu yang hanya berbekal Ijazah D-2 bisa juga diangkat menjadi Kepala Bagian Kurikulum sekolah karena keseriusan komitmennya dalam menghasilkan generasi penerus yang cerdas dan disiplin. Sampai sebuah peristiwa tak terlupakan itu terjadi.

Ketika itu sekolah baru menerima seorang guru Bahasa Inggris lulusan terbaik dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Medan. Memasuki tahun ajaran baru, guru tersebut berpeluang dipromosikan untuk menggantikan posisi ibu Berutu sebagai Kepala Bagian Kurikulum. Tugas pertama beliau membuat jadwal mengajar guru-guru. Hampir semua guru yang lebih senior tapi berpendidikan lebih rendah mengeluh, karena setelah seminggu jadwal tidak kunjung selesai. Keluhan juga dirasakan ibu Berutu setelah jadwal selesai. Karena di rasa perlu, akhirnya ibu Berutu yang ketika itu masih mondar-mandir mengajar di tiga sekolah sekaligus mengutarakan ketidakpuasannya atas jadwal yang dibuat.

Ketidakpuasan yang disampaikan ibu Berutu dengan cara yang sangat santun mendapat respon yang sangat mengejutkan semua guru di sekolah. “Dibentaknya ibu dek, padahal ibu ngomongnya sudah sangat sopan. ‘Ibu itu cuma lulusan D-2. Ibu enggak tau kalau saya lulusan terbaik?’ gitulah katanya sama ibu,” cerita Ibu Berutu sambil mempraktekkan aksi si guru baru yang dimaksud.

“Ibu terpancing juga, ibu ambil kertas jadwal yang dia buat. Ibu koyakkan di depan dia. Sangat tidak pantas rasanya, walaupun pendidikannya lebih tinggi dari ibu, tapi kan ibu lebih tua dari dia. ‘Pak, walaupun saya cuma lulusan D-2. Tapi kalau cuma buat jadwal seperti ini saya bisa selesaikan dalam dua hari dan tidak mendapat komplain dari guru mana pun.’ Ibu bilang gitu.” Tambahnya lagi sambil mengenang peristiwa itu.

Aku yang masih menyimak cerita ibu Berutu pun tersulut emosi membayangkan guru baru yang dimaksud. “Ibu berterima kasih sama dia dek, gara-gara dia ngomong gitu sama ibu. Ibu jadi terfikir untuk melanjut kuliah lagi jadi sarjana,” jawab Bu Berutu saat kutanya apakah beliau menyimpan dendam.

Pada tahun 2003, STAIS Sidikalang membuka program S-1. Sambil mengajar, Ibu Berutu yang sudah dua tahun berprofesi sebagai istri ini, kembali kuliah. Di Agustus 2003, beliau diangkat menjadi PNS di MDA.

Semuanya berjalan dengan baik sampai tahun 2007. Dimana pada tahun ini keluar aturan bahwa MDA dikelompokkan sebagai sekolah nonformal dan guru PNS yang mengajar di MDA tidak akan masuk kualifikasi syarat sertifikasi guru. Tentu ini menjadi sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Sampai orang Dinas menyarankan untuk mensurvey MDA-MDA yang ada di Kabupaten Sidikalang yang layak dijadikan MIS. Saran ini pun dikerjakan serius oleh ibu Berutu dan 4 orang temannya yang berstatus sebagai guru MDA juga.

Pencarian dan perjuangan panjang terjadi. Sampai bertemu dengan BKM Alhidayah di kecamatan Sitinjo, kabupaten Sidikalang. Pengurus BKM yang dipimpin oleh bapak Pulungan menuturkan bahwa MDA yang dibawahi BKM Alhidayah memang direncanakan untuk dijadikan MIS. Namun, meski gayung telah bersambut, proses pendirian MDA menjadi MIS ini tentu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan.

Pada 2014 silam, dengan murid sebanyak 24 orang, 4 tenaga pengajar dan izin Operasional Sekolah yang tak kunjung selesai, MIS ini mulai melakukan aktifitas ajar-mengajar. Ibu Berutu mengaku ini masa-masa sulit. Bagaimana tidak, meski aktifitas sekolah telah berlangsung tapi izin operasional baru keluar 2 tahun kemudian. Artinya selama 2 tahun sekolah tidak dapat tunjangan dana apapun dari pemerintah padahal anak-anak tidak dibebankan biaya apapun untuk aktifitas ajar-mengajar.

Tiga bulan setelah mengajar, 2 orang guru mengundurkan diri. Satu orang kecelakaan dan trauma berkendara, karena jarak sekolah yang lumayan jauh dari kota Sidikalang. Satu orang karena sakit dan harus mendapat perawatan intensif.

Memasuki tahun kedua ibu Berutu dan seorang temannya berjuang bersama memperjuangkan anak-anak untuk tetap bisa sekolah. Mengajar dengan bergantian saat salah seorang ada keperluan di luar. “Lebih sering ibu itu yang mondar-mandir kelas satu sama kelas dua, karena kan ibu Kepala Sekolah, jadi Ibu sering ada urusan di luar yang mengharuskan tidak bisa mengajar anak-anak,” jelas Bu Berutu.

Sebelum izin Operasional keluar, ibu Berutu mangaku sempat putus asa dan memutuskan untuk berhenti. Terlebih saat mendapati pengurus BKM acuh tak acuh, walaupun sebenarnya mereka sangat menyokong dan punya andil besar dalam pendirian sekolah. Beliau semakin merasa sendiri ketika mendapati tekanan dari Dinas. “Itu proses paling berat selama pendirian sekolah ini, dek. Tapi ketika kembali ke sekolah, melihat anak-anak, semangat itu kembali lagi.”

Di akhir semester 4 izin operasinal sekolah yang ditunggu pun keluar. Dan baru tahun 2016 Dana BOS mengalir. Ketika ditanya bagaimana proses operasional berlangsung sebelum izin dan dana BOS keluar, beliau menjawab, “Dari kantong sendirilah, dek. Itulah kenapa kami masih mengajar gantian ketika salah satu berhalangan hadir, karena khawatir tidak sanggup menggaji guru honorer.”

“Sekolah ini berdiri karena karir Ibu terhambat, bahkan sampai hari ini ibu belum juga lulus sertifikasi. Padahal teman-teman ibu yang sepertinya tidak berjuang sekeras ibu, karirnya bisa mulus-mulus aja. Kadang-kadang kita memang merasa sudah baik, tapi rupanya Allah belum menilai kita baik. Karena itulah, ibu selalu berdoa agar diberi kesehatan, kekuatan dan semangat.” Tutup Bu Berutu mengakhiri ceritanya.

Ibu Berutu (kanan) sedang menerima bantuan dari Komunitas Garuda Muda Madani
Ibu Berutu (kanan) sedang menerima bantuan dari Komunitas Garuda Muda Madani

 

Yah, itulah ibu Sariani Berutu. Bisa jadi beliau adalah tetangga jauh yang entah kapan waktu akan mempertemukan kami kembali. Tapi kisah beliau seakan memberi pesan tersirat, bahwa Karir terhambat pun bukan halangan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Seperti yang telah beliau lakoni selama 3 tahun terakhir bersama murid-muridnya, Sang Pasukan Laskar Pelangi 2 dari Sitinjo.

===

Penulis:

Ana Nasir

FB: www.facebook.com/ana.nasir

Twitter: @Nurhasanahnasir

–Artikel ini diikutsertakan dalam yang diselenggarakan oleh The River Post – Berbagi Hanya yang Baik

Artikel dalam Topik Ini : << Mbah Sarpinah Sang Wonder WomanTetanggaku Selebriti TV >>
http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/10/berutu2.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/10/berutu2-150x150.jpgEditor TheRiverPostSticky NotesCita-cita,Ibu,,,SekolahKebersamaanku dengannya hanya sebentar. Bahkan bisa dikatakan sangat-sangat sebentar. Secara kebetulan aku berkenalan dengan beliau saat salah satu komunitas yang aku ikuti mengadakan kegiatan bakti sosial ke sekolah yang beliau pimpin. Namanya Sariani Berutu. Beliau adalah seorang kepala sekolah di sebuah MIS (Madrasah Ibtidaiyah Swasta) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara....B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k
  •  
  • 5
  •  
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares