Cerita dari Rappocini, Tentang Semangat Memaslahatkan Masyarakat

 

TK Babul Jannah

Saya acap kali mendengar gagasan menarik dari Pak Haryadi, kakek pendiri TPA dan TK Babul Jannah ini. Beberapa kali menyimak uraiannya, saya bisa menyimpulkan kalau apa yang dilakukannya memang untuk kemaslahatan masyarakat sekitar, tanpa memikirkan keuntungan pribadi. Tak jarang ia rela merogoh koceknya sendiri untuk melaksanakan idenya.

Contohnya adalah ketika mendirikan TK Babul Jannah. TK tersebut didirikannya bersama almarhumah istrinya – Ibu Najmiah pada tahun 2011. Cerita lengkapnya bisa dibaca di Sekolah Ahad, Potret Dedikasi Guru Berjiwa “Lillahi Ta’ala”

Lomba 17an di TK Babul Jannah

Ketika itu, kedua suami istri ini prihatin dengan tidak adanya sarana bermain anak-anak di lingkungan kami. Mulanya, tak dipungut sama sekali uang pendaftaran. Hanya saja, anak-anak muridnya diminta mengisi “celengan” agar terbiasa menyisihkan uang untuk berinfak. Isi celengan itu nantinya dimanfaatkan kembali untuk kepentingan sekolah.

Namun, dalam usaha mendapatkan izin dari pemerintah, Pak Haryadi diharuskan memungut biaya pendaftaran kepada calon siswanya. Mulanya hanya dikenakan biaya Rp. 150.000 sekali bayar, selama bersekolah di TK Babul Jannah. Tidak ada uang bulanan. Sebagian dari uang yang disetorkan digunakan untuk membelikan siswanya perlengkapan menulis dan membaca.

Ngomong-ngomong tentang izin mendirikan sekolah, sekolah sederhana yang berlokasi di dalam gang ini punya izin resmi, lho. Saya sempat heran ketika ada kasus pelecehan seksual terhadap anak TK di sebuah sekolah internasional di Jakarta lantas kemudian ketahuan kalau sekolah tersebut tidak memiliki izin resmi. Ini bukti kalau Pak Haryadi memang serius untuk memberikan manfaat bagi lingkungan kami.

Kini, uang pendaftaran sudah mencapai Rp. 500.000. Masih sekali bayar, selama bersekolah di TK Babul Jannah. Tidak ada uang bulanan. Hanya saja uang tersebut digunakan untuk pengadaan 3 pasang seragam TK. Baru-baru ini, anak-anak TK Babul Jannah mendapatkan buku dan perlengkapan menulis usai memeriahkan lomba perayaan 17 Agustusan.

TK Babul Jannah hanyalah sebagian cerita tentang upaya Pak Haryadi. TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Babul Jannah yang sudah lebih dulu didirikannya juga punya cerita serupa. TPA itu tidak memaksakan pembayaran uang jasa bagi ustadz dan ustadzah yang mengajari anak-anak mengaji dan menghafal. Sebenarnya diharapkan para santri membayarnya dengan harga minim. Sepuluh ribu rupiah per bulan pun tak mengapa tetapi kakek yang sudah berusia sekira 65 tahun ini tak memaksakan santrinya untuk membayar.

TK Babul Jannah 2

Saat bulan Ramadhan lalu, Pak Haryadi dan TPA Babul Jannah menyelenggarakan Festival Anak Ramadhan di masjid Bani Haji Adam Taba’. Berbagai lomba digelar, di antaranya lomba tadarus, lomba adzan, dan lomba menghafal surah-surah pendek. Anak-anak selain santri Babul Jannah juga boleh mengikuti lomba ini. Senangnya mereka yang memenangkan perlombaan. Sebuah perusahaan yang menjadi sponsor mengundang mereka berbuka puasa bersama dan memberikan hadiah di kantor perusahaan tersebut.

Beberapa bulan lalu, Pak Haryadi menceritakan keprihatinannya kepada saya. Ketika itu, setiap waktu maghrib, sekira 5 – 10 anak berkeliaran di luar masjid. Mereka bermain sepatu roda atau melakukan permainan lainnya. Keriuhan mereka mengganggu jama’ah shalat. Terbersit rasa heran dalam benak saya. Orang muslim itu kan biasanya melarang keras anak-anak mereka berkeliaran di luar rumah pada waktu maghrib. Ini koq dibiarkan saja, ya, mereka ribut di luar masjid. Tidak disuruh pulang, juga tidak disuruh shalat.

Untuk mengatasi hal ini, Pak Haryadi berniat membuka kelas hafizh (menghafal Al-Qur’an) di masjid Bani Haji Adam Taba’ usai shalat maghrib, dilanjutkan usai shalat isya. Lagi-lagi, tidak dengan memungut bayaran sepeser pun. Anak-anak hanya diminta mengisi “celengan” sekadarnya agar terbiasa berderma. Kalau pun tidak mengisi celengan, mereka tidak dipaksa untuk melakukannya. Animo masyarakat memasukkan anak-anak mereka ke dalam kelas khusus ini ternyata cukup besar. Terbukti dengan banyaknya anak yang bergabung.

Secara perlahan, anak-anak yang bermain di sekitar masjid mulai berkurang hingga akhirnya hanya satu-dua anak usia sekolah dasar yang berkeliaran di sekitar masjid pada waktu maghrib. Sayangnya kegiatan ini belum berlanjut lagi sejak terhenti di bulan Ramadhan lalu.

Terhentinya kelas hafizh tidak lantas berarti berhenti pula upaya Pak Haryadi. Baru-baru ini, ia bersama Daeng Sese dan beberapa warga RW kami lainnya bergiat mengadakan perlombaan 17 Agustusan selama beberapa hari di halaman masjid. Lomba-lomba yang bermula dari dana urunan masyarakat sekitar itu berlangsung semarak. Perayaan itu akan berakhir pada tanggal 28 Agustus nanti, dalam bentuk pertunjukan seni “dari rakyat untuk rakyat”.

Bukan hanya itu, baru-baru ini, Pak Haryadi mengusahakan agar santri-santrinya bisa mengikuti perlombaan 17 Agustusan antar TPA semakassar yang berlangsung di TPA lain. Tak lupa diantarkannya formulir untuk putri saya dan menyebarkannya kepada santri-santrinya yang lain. Pengalaman lomba berharga diperoleh putri saya saat itu. Cerita lengkapnya bisa dibaca di tulisan berjudul Selamat Nak, Satu Lagi Pelatihan Kehidupan Telah Kau Lalui.

Yang saya tuliskan di atas hanyalah sepenggal cerita tentang semangat memaslahatkan masyarakat dari seorang Pak Haryadi. Cerita ketulusannya sesungguhkan jauh lebih banyak daripada ini. Ada satu kalimatnya yang membuat saya tercenung. Kira-kira begini (saya tidak bisa menuliskannya kembali dengan persis sama), “Saya cuma berharap dengan berbuat kebaikan untuk mayarakat, berkah akan turun dari langit.”

Berkah dari Allah, tentunya akan turun kepada masyarakat yang orang-orangnya senantiasa berbuat baik dan saling memberi manfaat kepada sekitarnya. Pak Haryadi, walaupun tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak pernah memikirkan untung-rugi dalam melakukan hal-hal bermanfaat. Ia telah mengajarkan saya banyak hal. Semoga saja berkah dari langit turun di lingkungan kami dan menghindarkan kami dari berbagai hal buruk di zaman ini.

 

Penulis:

Mugniar Marakarma
Blogger di www.mugniar.com
Twitter: @Mugniar
–Artikel ini diikutsertakan dalam yang diadakan oleh The River Post – Berbagi Hanya yang Baik
Artikel dalam Topik Ini : << “Orang Tak Berguna” di Dusun BangunrejoSerunya Tinggal di Kompleks Manula >>