Berkaca Pada Keceriaan dan Semangat Anak-anak SDIT KIDS Timika

smart1


Sebagai walimurid dari anak sulung saya yang bersekolah di SDIT SMART KIDS TIMIKA-PAPUA tak jarang mengharuskan saya sebagai orangtua untuk ikut datang beberapa kali dalam sepekan ke sekolah dalam rangka berbagai hal. Seperti menyelesaikan uang administrasi anak, mengambil seragam, mengantar bekal anak yang suatu kali pernah ketinggalan, pengambilan raport, dan menanyakan ke wali kelas terkait masalah yang dihadapi anak selama mengikuti KBM di kelasnya. Ketika berkesempatan berkunjung ke sekolah, sering saya meluangkan waktu untuk mengamati kegiatan anak-anak murid yang bersekolah di sana selama jam istirahat berlangsung. Terkadang juga pas saya ke sekolah, mereka para anak-anak murid ini sedang melakukan kegiatan ekstra olah raga, karate, atau kegiatan belajar di luar kelas; menanam bunga, hafalan surat-surat jus 30, belajar sholat, dan lain sebagainya.

smart2
Ada kesan tersendiri manakala mata ini menikmati wajah-wajah polos mereka yang over fress, yang penuh semangat, dan keceriaan begitu jelas terpancar di setiap sudut-sudut mata dan bibir mereka. Meskipun sesekali ada suara tangis di antara salah satu anak namun itu tak berlangsung lama, yang bermusuhan, yang sedang berselisih tersebab hal apapun dalam sekejab sudah berdamai kembali tanpa ada aura dendam kesumat di hati masing-masing anak yang sedang bermasalah tersebut. Mereka berbaur kembali, berkejar-kejaran, bermain bersama, bermain peran/drama, ada yang pura-pura jadi polisi-pencuri dan sebagainya dengan suara tawa yang renyah, lepas, bebas, dan tanpa dibuat-buat. Sosok-sosok yang masih belia namun memiliki sejuta makna pada setiap senyuman dan kata-kata yang terkadang terlontar begitu saja dari bibir-bibir mereka.

smart3
Pernah suatu kali waktu saya datang ke sekolah hendak membayar SPP anak, saat itu siang hari hari menjelang dhuhur. Cuaca memang sedang bersahabat, cerah luar biasa, langit biru menghampar luas tanpa sedikitpun awan menutupinya. Cerah, cerah sekali. Akan tetapi saya lebih tertarik pada pemandangan yang luar biasa yakni mereka anak-anak -entah kelas berapa,yang secara berkelompok, bergotong royong dengan kekompakan yang luar biasa eratnya antar sesama kawan mengangkat kayu tangga bekas bangunan yang berada di tengah halaman dan di angkat oleh mereka ke tepian gedung sekolah. Tempat yang kiranya lebih menyamankan dari ancaman roboh ketika anak-anak sedang bermain di tengah lapangan. Di bawah terik matahari yang begitu panas mereka bergerombol seperti semut sedang membawa bahan makanan yang akan di bawa ke tempat persembunyian paling aman selama musim dingin, diiringi dengan suara hiruk pikuk semangat ‘45, tawa riuh mengiringi kerja sama mereka. Seolah-olah tak ada sisa kelelahan meskipun keringat mereka bercucuran, baju seragam mereka basah oleh peluh namun tak ada keluh kesah, suara-suara sumbang menggerutu, kesal, teriak-teriak, ataupun ungkapan capek dan sebagainya.

smart4

Justru sebaliknya mereka dengan serempak dan kompak bertanya pada gurunya seusai menjalankan misinya mengangkat tangga kayu tersebut ‘’Pak ustadz, ada lagikah yang bisa diangkat? Kita paling senang kerja ramai-ramai pak ustad, seru bingiit’’. Saya yang mendengarnya tertawa geli sembari menutup mulut, terharu dengan tingkah polah anak-anak hebat ini. Saya yakin tanntangan mereka untuk mengangkat apapun yang bisa diangkat saat itu bukanlah isapan jempol belaka atau permintaan yang sifatnya mengelu-elukan akan tetapi sebuah kejujuran bahwa mereka sangat menikmati acara gotong royong yang menurut mereka heboh dan menyenangkan sekali. Cerita punya cerita ternyata setelah saya menelusuri bertanya pada salah satu guru yang saya temui, ”Maaf, Ustadzah memang ada apa gerangan anak-anak beramai-ramai angkat tangga kayu itu?”. Lantas ustadzah tersebut menjelaskan bahwa mereka ( anak-anak) sedang mendapatkan punishment dari kepala sekolah sebab mereka melepas sepatu alias bertelanjang kaki saat bermain main di halaman sekolah di jam istirahat sedang berlangsung.

Halaman sekolah yang tak steril dari benda benda tajam seperti batu yang tajam, pecahan kaca, paku paku berkarat dan sebagainya menjadi alasan kuat pihak sekolah melarang anak-anak bertelanjang kaki saat bermain di halaman sekolah. Namun ada saja anak-anak yang terkadang lupa atau mengabaikan peraturan tersebut. Biasanya satu dua anak yang berjenis keamin laki-laki. Beberapa juga ada anak perempuan yang selesai dari kamar mandi belum sempat memakai sepatu tapi sudah bermain kejar-kejaran dengan anak lain.

smart5
”Momen mengangkat tangga kayu tersebut juga sebagai punisment bagi anak-anak yang masih membandel saat dilarang memanjat pohon kersen yang ada di tengah-tengah lapangan sekolah”, lanjut ustadzah tersebut menjelaskan. Pihak sekolah pun sangat beralasan mengapa anak-anak di larang memanjat pohon kersen tersebut yakni banyak sekali ranting-ranting kering yang mudah patah. Selain itu, tak sedikit pula yang patah hingga membentuk ujung lancip yang sangat membahayakan anak-anak tentunya. ”Oleh sebab itu, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kita pihak sekolah memberi sangsi pada anak yang tak megindahkan peraturan tersebut yaitu dengan memberikan punisment yang sifatnya mendidik dan memberi efek jera”, kepala sekolah SDIT SMART KIDS memberi penjelasan tambahan.

Akan halnya namanya anak-anak SDIT SMART KIDS yang memiliki tingkat keaktifan yang tinggi, sehingga terkadang mereka justru tertantang dengan bentuk hukuman itu sendiri. Akan tetapi bukan dengan begitu mereka berinisiatif untuk melanggar rambu-rambu yang menjadi ketetapan sekolah. Cuma akan halnya manusia yang terkadang pernah lalai, pun begitupula dengan anak-anak. Hanya mereka tahu konsekwensi apa yang akan diterima jika mereka melanggar peraturan sekolah. Mereka akan mempertanggungjawabkan dengan lapang dada dan penuh keceriaan bukan lari menghindar apalagi menangis. Berdasarkan cerita para ustad ustadzah di sana, belum pernah ditemui ada anak yang mengambek atau marah, menangis saat mendapat punishment dari sekolah namus malah sebaliknya. Penuh semangat menerima hukuman yang ditimpakan kepadanya dan anak anak lain pun menyoraki dengan semangat pula.

Pada kegiatan sekolah menanam bunga mereka murid laki-laki dan perempuan juga saling bekerja sama mencangkul tanah yang akan dibuat untuk media menanam bunga. Kedua tangan mereka tanpa sungkan bergumul dengan tanah berlumpur dan memasukkannya ke dalam botol-botol bekas aqua. Menanam benih-benih bunga dan meletakkannya di depan kelas mereka masing-masing. Saya yakin mereka adalah anak orang-orang berada, tapi mereka jauh dari sifat manja. Mereka begitu leluasa mengekspresikan diri dengan lingkungan di sekolah. Apapun bisa mereka pergunakan untuk wahana belajar.

Begitu pula ketika pelajaran sholat atau hafalan surat-surat jus 30 berlangsung, baik di dalam ruangan kelas atau di luar kelas. Oya sekolah SDIT SMART KIDS ini tak hanya melulu menerapkan proses belajar di dalam kelas namun sekali dua kali dalam sepekan ada pelajaran yang di lakukan di luar kelas agar anak-anak tak bosan. Salah satunya pada jam hafalan surat dan sholat yang dilakukan di teras kelas atau di bawah pohon nan rindang. Oh betapa gempitanya antusiasme mereka dalam membaca surat-surat dan bacaan gerakan sholat, keras sekali meskipun kadang ada panjang pendeknya yang salah namun itu tak mengurangi sedikitpun semangat mereka dalam belajar dan menghafal. Anak-anak begitu enjoy. Mereka juga tak kecewa ataupun marah saat para pembimbing menegur atas kekeliruan bacaan Al quran atau gerakan sholat yang sedang mereka pelajari.

 

Penulis:

Asih Zakiyya Sakhie

FB:  Zakiyya sakhie

twitter: @smartshopping10

 

–Artikel ini diikutsertakan dalam yang diselenggarakan oleh The River Post – Berbagi Hanya yang Baik

Artikel dalam Topik Ini : << Astuti Farida, Pelopor Bank Sampah dan Aktivis Lingkungan WonosoboManisnya Berbagi Bersama >>