Layang-layang yang Tak Pernah Terbang

Ilustrasi Layang-layang. Img:freeimages.com
Ilustrasi Layang-layang. Img:freeimages.com

Sebenarnya aku hanya ingin layang-layang kecil. Layang-layang biasa, berbentuk kotak tak teratur yang lebarnya pas ketika disampirkan di punggung. Di jalan di depan dan di belakang rumah, layang-layang kalah perang berjatuhan. Tapi aku tak boleh ikut mengejar. Ibu khawatir kendaraan yang berseliweran tak sengaja melanggar, atau betisku baret kena pagar kawat berduri. Lagipula kompetitor tak boleh diremehkan. Kawan-kawanku mengejar layang-layang putus seolah itu warisan terakhir dari nenek yang wajib diselamatkan.

Suatu kali, Bapak memergokiku memandang takjub pada sebuah layang-layang besar yang sedang mengudara. Pasajang pararang, layangan biawak. Karena bentuknya memang seperti reptil berekor panjang. Aku hanya terpesona, sama sekali tak meminta. Aku tahu, Bapak juga tidak mahir membuatnya. Lagipula, layang-layang seperti itu terlalu besar untuk tubuhku.

Besoknya, sepulang dari tempatnya bekerja, Bapak menghampiriku.
“Hari minggu besok, kita ke rumah Pak Bahtiar. Dia bikin sesuatu untukmu,” kata Bapak.

Dan ketika hari minggu itu tiba, aku, kelas 1 SMP, membonceng Bapak ke rumah Pak Bahtiar. Pak Bahtiar teman kerja Bapak. Setahuku ada dua orang Pak Bahtiar di situ, tapi mudah saja membedakannya, karena Pak Bahtiar yang satu lagi berperut buncit.

Di tempat tujuan kami, Pak Bahtiar sudah menunggu. Dia sebentar mempersilakan kami dan kemudian kembali duduk di lantai melanjutkan mengerjakan sesuatu di hadapannya. Benda dari kertas minyak warna-warni itu sedikit lagi selesai. Masih ada beberapa bagian yang perlu diberi lem dan ditunggu hingga kering.

Tak perlu menunggu lama, layang-layang itu sudah berdiri di depanku. Berbentuk burung garuda. Lebih tinggi dari badanku, dan rentang sayapnya kira-kira selebar aku berdiri berjejer dengan empat orang temanku.
“Mudah-mudahan kamu cukup besar untuk menerbangkannya,” kata Pak Bahtiar. Bapak tertawa melihatku melongo.

Tak bisa kulukiskan betapa senangnya hatiku saat itu. Aku punya layang-layang besar, dan mungkin terbesar yang pernah terbang di sekitar rumah kami.

Setibanya di rumah, masalah muncul. Ibu melarangku menerbangkannya. “Kamu bisa terbawa!” kata Ibu. “Simpanlah dulu, tunggu sampai kamu sudah cukup besar.”

Membayangkan diriku terbawa layang-layang dan mendarat di sawah orang, membuatku mematuhi larangan ibu. Layangan itu akhirnya meringkuk di dalam gudang. Tak jadi terbang. Hingga musim layangan di tahun berikutnya. Dan tahun berikutnya lagi. Dan tahun berikutnya lagi. Hingga aku lupa bawah benda itu pernah ada.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah dewasa, untuk suatu keperluan aku masuk ke gudang dan tak sengaja melihat layang-layang burung garuda itu. Dia rupanya masih di situ, terhimpit dan menua sendirian. Beberepa bagian sambungan kertasnya mulai terkelupas, koyak, dan warnanya tak lagi sama seperti ketika pertama kali aku meninggalkannya di situ.

Menelusuri lekuk-lekuk kerangka bambunya, seperti melihat kenangan bermain-main. Sedih juga menyadari bahwa dia tak pernah benar-benar melaksanakan tugasnya untuk mengangkasa. Tapi mungkin dia memang sudah ditakdirkan seperti itu. Melihatnya, aku berusaha menghadirkan bayangan seorang ayah bernama Pak Mukrim yang mungkin bercerita tentang anaknya yang ingin punya layangan. Lalu seorang teman kerjanya yang lebih seperti sahabat menawarkan diri untuk membantu. Pak Bahtiar, ayah dari beberapa orang anak itu, merelakan waktunya sepulang kerja, terbungkuk-bungkuk mengukur kertas dan meraut bambu, membuatkan layangan yang tak dijual bebas. Untuk anak orang lain.

Hingga kini, setiap melihat layang-layang di langit –layangan apa saja, tak perlu yang besar- aku selalu teringat pada layang-layang burung garuda-ku itu. Layang-layang itu memang tak pernah terbang, tapi dia sudah melakukan tugasnya yang lain. Menunjukkan padaku bahwa persahabatan itu ada, keikhlasan itu ada. Bahwa orang baik itu ada.

Anakku River, kuharap suatu hari kamu pun akan belajar pada apa saja, bahkan pada sesuatu yang sekilas tampak gagal.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim