WP_20160309_07_14_08_Pro (2)


–untuk Desanti Sarah

Saya menulis ini di dini hari jelang subuh, saat mesjid belum mengumandangkan adzan. Barusan saya terbangun tiba-tiba dan merasa seperti 7 tahun lalu.
Salah satu subuh terpenting dalam hidupku, di mana aku buru-buru mandi, shalat subuh, dan menunggu tukang rias datang.

Tukang rias? Iya, itu satu-satunya saat saya membiarkan seseorang mencoreng-coreng wajahku. Di lain waktu, tidak akan.
“Cuma dikasih bedak sedikit,” kata ibu tukang rias. “Supaya tidak jomplang.”

Saya mengerti yang dia maksud. Bertahun-tahun jadi kameramen, saya tahu seseorang perlu bedak dengan nomor tertentu supaya lighting kamera cocok di wajahnya. Supaya white balance dan skin tone-nya pas. Ini wajib pada foto pernikahan, supaya seorang pria tidak terlihat seperti dakocan di samping istrinya yang putih mengkilap.

Hari ini, 7 tahun lalu, memang hari penting kita, Sayang. Kita akan banyak difoto dan disyuting kamera. Itulah hari kita menikah.

Dan subuh ini saya mencoba mengingat kembali betapa meriahnya dada dan kepalaku saat itu.

Kemudian teringat, oh ini sudah 7 tahun. Tahun yang krusial, menurut ilmu psikologi. Konon ada namanya “Seven Years Itch”, sebuah fase di mana kebahagiaan pernikahan akan mulai menurun. Sindrom ini berdasarkan statistik internasional yang menunjukkan tingginya angka perceraian di tahun ketujuh pernikahan.
Menurut psikolog, setelah bertahun-tahun menikah, pasangan suami istri mulai menemukan pola dan ritme yang semakin jelas. Bersamaan dengan itu, jebakan rutinitas juga mulai muncul. Masing-masing sibuk sendiri. Istri sibuk mengurus anak yang beranjak besar, suami sibuk dengan karirnya (yang mungkin juga ikut menanjak).

Tapi, itu kan menurut statistik. Selalu ada kemungkinan kita tidak termasuk dalam himpunan itu.
Lagipula banyak yang harus kita kerjakan. Insya Allah, di tahun ketujuh ini, kita akan berempat. Ada satu mahluk kecil yang sedang tumbuh dalam dirimu, yang bersiap datang menggenapkan kebahagiaan kita.
Juga sebuah “anak ideologis” yang sudah duluan hadir dan menyita perhatian kita.
Jadi, mungkin kita memang akan cukup sibuk tahun ini.

Sibuk saling mencintai. 😊

Lalu apa hubungannya dengan judul “Kiat Agar Bisa Bangun Sebelum Subuh”?

Sebenarnya tidak ada. Itu cuma buat gaya-gayaan, karena konon menurut ilmu SEO, tulisan di internet gampang ditemukan mesin pencari kalau mengandung kata “kiat”.
Tapi sekiranya memang kau percaya, saya punya kiatnya. Kiat agar bisa bangun sebelum subuh adalah: pikirkanlah bahwa hari itu engkau akan bertemu dengan seseorang yang bersamanya kau akan melewati tahun-tahun terindah dalam hidupmu.
Kiat itulah yang saya terapkan pada suatu dini hari, 7 tahun lalu.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/03/WP_20160309_07_14_08_Pro-2-1024x575.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/03/WP_20160309_07_14_08_Pro-2-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's Note--untuk Desanti Sarah Saya menulis ini di dini hari jelang subuh, saat mesjid belum mengumandangkan adzan. Barusan saya terbangun tiba-tiba dan merasa seperti 7 tahun lalu. Salah satu subuh terpenting dalam hidupku, di mana aku buru-buru mandi, shalat subuh, dan menunggu tukang rias datang. Tukang rias? Iya, itu satu-satunya saat saya membiarkan seseorang...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k