Keuntungan Bekerja di Hari Libur

Bekerja tidak dengan jam normal orang kantoran, berarti ada saatnya kita akan kebagian harus bekerja di hari libur atau di jam-jam ajaib lainnya. Saya sendiri tak masalah, karena memang sudah dari awal tahu kalender pekerjaan ini nggak ada tanggal merahnya.

Jadi saya selalu berusaha menikmati dan mengambil keuntungan dari hal itu. Seperti pagi tadi, saya berangkat kerja dengan santai, dan berpapasan dengan orang-orang yang baru pulang joging di Minggu pagi. Saya adalah tipe pengendara motor yang memaknai berkendara seperti bercinta. Kalau tidak terpaksa, buat apa terburu-buru. Pelan dan lama pasti lebih nik… eh, maaf. Masih terang, ya?

Sengaja berangkat sedikit lebih pagi, agar punya banyak kesempatan untuk memikirkan banyak hal yang belum selesai sejak hari kemarin. Soal bakpao di jidat Setnov yang disebut Fredrich Yunadi itu, apakah jenis bakpao yang susah dilepas kertasnya sehingga kadang-kadang ikut kemakan oleh insan-insan yang kurang waspada.
Dan juga beberapa hal yang membuat hati patah. Mungkin seperti hati Mbak Suci yang tak tahu bahwa Mas Sunu suaminya ternyata sudah menikah dengan Ummi Pipik, saat mereka berdua -Mbak Suci dan Ummi Pipik- berangkat umrah bareng. Dunya oh dunya…

Saya juga masih terus memikirkan wawancara mas Mohammad Istiqamah Djamad di Rolling Stone kemarin. Jujur, sebagai fans yang mengikuti perkembangan Payung Teduh sejak album pertama, penyebab keretakan yang disebut Mas Is itu juga bikin hati patah. Padahal, baru beberapa minggu lalu saya bertemu Mas Comi Aziz Kariko, dan dibuat gembira dengan kabar bahwa album baru mereka akan keluar Desember nanti. Tapi begitulah. Barangkali memang benar adagium yang mengatakan bahwa band keren adalah band yang retak kemudian bubar. Sekadar menyebut contoh: My Chemical Romance, Oasis, Sore, Banda Neira, Kangen Band… Eh yang terakhir itu, maaf, kepencet.

Adapun kerugian bekerja di hari libur, adalah jelas kehilangan waktu untuk bermain-main bersama keluarga. Atau kalau kebetulan ada acara-acara keluarga seperti arisan yang biasanya dihelat di akhir pekan, kita sudah pasti tidak bisa ikut. Dan yang tidak ikut biasanya namanya tidak akan keluar di kocokan. Kalaupun keluar, pasti dianulir.

Tapi sekali lagi, tak masalah bagiku. Lagipula besok saya cuti. Kebetulan ibuku datang dari kampung, dan saya minta izin untuk menemani beliau beberapa hari untuk melihat keberhasilan pembangunan Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Ahok. Dan mungkin akan saya ajak ke IKEA juga. Kemarin sudah lewat situ tapi saya cuma tunjukin gedungnya sambil bilang “Ma, itu kantornya Desan.” 😀

Desan yang saya maksud adalah Desanti Sarah. Dia itu istriku, menantunya ibuku. Begitu kira-kira.
Jangan bosan di bagian cerita ini ya. Desan punya olshop River’s Corner, jualan baju bayi dan juga sekalian terima jasa titip (jastip) belanja produk-produk tertentu. Salah satu yang pasarnya paling besar adalah produk IKEA, The Body Shop, Ace Hardware, Toys Kindom, dan satu lagi yang nanti akan saya ceritakan di akhir. Kebetulan semua tempat itu tokonya dekat dengan rumah kami.

Oya, mau cerita sedikit soal foto di postingan ini. Minggu lalu saat temani Desan belanja titipan teman di IKEA, saya bertemu sepasang suami istri ini. Sudah cukup berumur kalau melihat warna rambut mereka. Namun kalau menilik pakaiannya yang modis dan sporty, saya duga mereka adalah pasangan yang keren di masa mudanya. Di masa tua saja masih keren begitu.

Si bapak sedang sibuk membongkar lemari. Jadi begini, di IKEA itu ada bagian namanya As Is. Di situ khusus barang-barang ex display (bekas pajangan) atau yang discontinue (tidak diproduksi lagi). Harganya sangat miring, bisa sampai 80 persen diskonnya. Saya juga sering dapat barang bagus di situ. Tapi ya karena pada umumnya adalah ex display, maka harus dibongkar ulang supaya tidak makan tempat kalau mau dibawa pulang. Di IKEA, hampir semua proses belanja kita lakukan sendiri, termasuk mengangkat barang. Itulah kenapa barang yang lebih bagus kualitasnya bisa lebih murah dibanding toko sebelah, karena kita tidak harus membayar pegawai untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan sendiri.

Sepasang orangtua ini baru saja membeli dua lemari ex display. Si bapak membuat saya takjub, karena dengan cekatan bisa mengubah lemari itu menjadi lembaran-lembaran papan dalam waktu sekejap.

Namun si Ibu ini yang membuat saya lebih takjub. Sebelumnya saya lihat ia mencari-cari colokan untuk menge-charge handphone. Lalu saya tunjukkan sebuah colokan stop kontak. Colokan itu letaknya bukan di dinding tapi di tempat pengetesan lampu yang artinya memang bisa dipakai siapa saja. Tapi saya lihat si Ibu ragu-ragu. ia sudah mendekat tapi kemudian mundur lagi.

“Kenapa, Bu?” tanya saya. “Itu bisa dipakai kok, Bu,”
“Iya, saya mau minta izin dulu sama pegawainya,” katanya sambil tersenyum.

Di tempat umum, saya sudah lama tidak bertemu dengan orang yang memegang kaidah seperti dia. Orang yang merasa meskipun punya hak, tapi tak ingin haknya itu mengiris hak orang lain. Saya doakan mereka berdua sehat selalu dan bahagia.

Hampir setiap hari kita disuguhi pemandangan orang-orang yang “trespass” hanya karena merasa memiliki hak publik. Beberapa hari lalu saya juga bertemu sepasang suami istri di sebuah supermarket. Sang suami memarkir mobilnya melintang sampai mengambil jatah parkir tiga mobil. Setelah berbelanja, mereka meninggalkan begitu saja troli belanjaan di area parkir tanpa ada upaya untuk meminggirkannya. Memang sih parkiran lagi sepi dan troli itu nanti juga akan ada yang beresin, tapi kan apa salahnya memudahkan orang lain yang datang setelah kita.

Saya jadi ingat sebuah cerita Paman Yusi Avianto Pareanom mengenai “kasih sayang murni”.
“Di dunia yang semakin keras dan juga sering keji ini kau sepantasnyalah bersyukur jika menjumpai situasi yang memaksamu mengakui bahwa kasih sayang murni antara dua manusia masih nyata ada. Saya menjumpainya kemarin lusa saat naik angkot dari Stasiun Depok Baru menuju rumah. Di samping kanan saya duduk perempuan dan laki-laki umur tiga puluhan yang saya yakin pasangan. Sebelum mobil berangkat, si laki-laki membuang botol minuman dan sampah lainnya ke jalan. Karena saya dulu ikut pramuka, saya menegurnya. Ia bilang bahwa tak ada tempat sampah di angkot. Saya jawab, kenapa tidak nanti saja setelah turun. Si perempuan menukas, ah nanti juga diambil pemulung. Aduh, alangkah manis dan serasinya mereka. Saya menghabiskan sisa perjalanan dalam diam dan membatin bahwa beberapa orang memang beruntung mendapatkan pasangan sehati yang saling melengkapi untuk menghadapi kerasnya dunia.”

Demikian saya copas mentah-mentah dari laman Facebook Paman YAP tertanggal 3 Mei 2016.
Oya, tadi saya bilang mau kasih tau nama satu lagi gerai besar yang akan menjadi objek jastip baru si Desan kan? Namanya Decathlon. Jaringan toko peralatan olahraga internasional ini baru buka di Indonesia dan tokonya pas di samping IKEA. Selama ini banyak kawan yang sampai menitip beli barang Decathlon di luar negeri. Barangnya memang bagus dengan harga bersaing. Sekarang jadi lebih mudah.

Kemarin sempat lihat flyernya. Tertulis “60 sports under one roof”. Peralatan olahraga apa pun yang kamu cari, mungkin ada di situ. Tapi saya tidak tahu apakah olahraga hati seperti yang sedang ditekuni Kalis Mardiasih saat ini, ada termasuk.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim