Artikel ke 2 dari 3 artikel dalam Topik : AADC2

Foto: Still Image dari Official Trailer AADC2/ Miles Film
Foto: Still Image dari Official Trailer / Miles Film

Jika kamu hendak menonton AADC 2, persiapan yang paling penting adalah mental. Tanggalkan atribut “kritikus” dan “filmmaker”-mu di luar pintu bioskop. Masuklah ke bioskop bersama hantu masa lalu, siapkan hatimu untuk dihajar oleh kenangan. Siapkah kamu untuk mengingat persahabatanmu yang diwakili oleh Cinta, Milly, Karmen dan Maura? Siapkah kamu untuk mengingat ketika pertama benar-benar merasakan jatuh cinta yang diwakili oleh dan Cinta? Siapkah kamu untuk baper? Film AADC 2 menjual satu hal: nostalgia. Selamat buat cewek-cewek yang berhasil menarik pacarnya nonton film bergenre chick flick ini. Namanya juga chick flick, tentu film ini target penontonnya adalah perempuan. Lebih luas lagi, target penontonnya adalah orang yang menonton AADC 14 tahun yang lalu. Jika kamu (terutama para cowok) mengharapkan lebih dari itu, silakan tonton film lain dengan tema yang lebih berat. Sebab jika tidak, kalian bisa tiba-tiba mejelma jadi kritikus dadakan.

Saya ingat demam Rangga dan Cinta 14 tahun yang lalu. Sejak Rangga muncul, cowok yang doyan mojok sendiri bersama buku itu bisa dikategorikan keren. Cowok yang bawa-bawa pulpen dan note book dan jarang ngomong itu kesannya untouchable, misterius, and that makes him cool. Jangan lupa juga, gara-gara AADC, buku Aku karya Sjuman Djaja yang berpuluh tahun menghilang di pasar, dicetak ulang dan jadi best seller. Ingat? Kover Aku  bergambar Chairil Anwar. AADC punya andil besar mempopulerkan kembali sastra terutama . Banyak cewek yang dulu pernah merasa ingin punya pacar kayak Rangga yang pendiam, misterius, jago bikin . Miskin gapapa, yang penting punya idealisme. Jika Rangga adalah , maka karakternya adalah: aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang. Tsaaah…!

Nah, sebagai mantan ABG yang pernah baper gara-gara puisi, saya di sini mau ngomong soal puisi yang ada di tiga film AADC. Tiga? Iya, tiga. Kan ada mini drama-nya Line, kita sepakati saja AADC Mini Drama Line itu disebut ‘film’ ya, bukan iklan. Khusus di sini saja kok. Kenapa saya memasukan mini drama Line ke sini juga? Alasannya sederhana, sebab di situ juga ada puisinya. Pertama-tama, harus digarisbawahi, bahwa saya ini bukan penyair, apalagi kritikus sastra. Jadi, jangan berharap saya bakal mengkritisi dengan teori-teori njlimet yang nama teorinya saja saya enggak tau. Kalau ada nyangkut-nyangkut dikit sama filmnya, harap maklum, wong puisinya nempel di film. Saya akan berbicara sebagai penikmat film AADC, AADC Mini Drama dan AADC 2, juga sebagai penikmat buku-buku puisi.

Para Penyair di Balik Puisi Rangga

Kebiasaan saya, jika saya menyukai satu puisi, maka saya akan mengingat baitnya. Entah kenapa bait itu akan nempel di kepala saya, berulang-ulang dan menjadi semacam perenungan. Sesederhana itulah barometer saya soal puisi yang saya suka atau biasa saja. Bagi saya, AADC secara general, adalah satu-satunya film yang berhasil membawa puisi “turun gunung”. Puisi bukan lagi sejenis hiburan sunyi bagi orang kesepian dan yang menyimpan kesedihan atau amarah. Tetapi puisi telah menjelma menjadi semacam kegiatan yang sophisticated. Berkat AADC, nama Chairil Anwar yang cuma muncul di pelajaran Bahasa Indonesia, kini disebut-sebut di kalangan remaja. Tidak cuma itu, nama Sjuman Djaja yang cuma dikenal di kalangan filmmaker, kini populer kembali.

Ada tiga penulis puisi di dalam semua film AADC, mereka adalah Rako Prijanto, copywriter Line yang namanya saya tidak tahu, dan M. Aan Mansyur. Jika ditanya bait puisi apa yang paling saya ingat dari semua film AADC, maka saya akan menjawab: Pecahkan saja gelasnya biar ramai,// biar mengaduh sampai gaduh./ Bait ini muncul di AADC (2002), di dalam puisinya Rangga yang menang lomba puisi di sekolah. Bait lain yang lumayan populer adalah: Perempuan datang atas nama cinta./ Ini adalah bait puisi yang aselinya ditulis oleh Rako Prijanto.

Siapakah Rako Prijanto itu? Bukan, dia bukan penyair. Kalau belum tahu, saya kenalkan (meskipun saya juga tidak kenal langsung). Dia adalah sutradara, filmnya antara lain Ungu Violet, 3 Nafas Likas dan yang terbaru adalah Terjebak Nostalgia yang masih dinanti tanggal mainnya. Saat AADC diproduksi, Rako memegang posisi astrada mendampingi Rudi Soedjarwo, sutradara AADC. Meskipun penulis skenario AADC, Jujur Prananto, sedikit banyak juga menulis sastra, tetapi puisi-puisi di AADC adalah milik Rako Prijanto, yang sama sekali tidak dikenal sebagai penulis sastra/penyair.

Berbeda dengan dua film layar lebarnya, dalam AADC Mini Drama (2014), hanya ada satu puisi di ujung film, itu pun relatif pendek dibandingkan dua film AADC lainnya:

Detik tidak pernah melangkah mundur,

Tapi kertas putih itu selalu ada.

Waktu tidak pernah berjalan mundur,

Dan hari tidak pernah terulang.

Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru.

Untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Love. Life. Line.

Ketika mini drama ini muncul, bait yang paling sering dikutip penggemar AADC di banyak socmed adalah: Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru,// untuk semua pertanyaan yang belum terjawab./ Ini adalah satu-satunya puisi yang dibacakan campuran oleh kedua tokoh Cinta dan Rangga. Paragraf pertama di-voice over oleh Cinta, sedang paragraf ke-2 dan ke-3 hingga bait untuk semua pertanyaan yang belum terjawab di-VO oleh Rangga. Lalu, ditandaskan oleh keduanya berbarengan di bait love// life// line./ Tidak ada lagi puisi yang dibacakan campuran oleh kedua tokoh baik di AADC maupun AADC 2.

Saya pribadi, tidak suka dengan paragraf pertama (jika saya editornya, pasti sudah saya coret).  Tetapi paragraf ke-2 dan ke-3 menurut saya dahsyat. Kedua paragraf tersebut sangat smooth untuk masuk ke subjek utama, yaitu iklan. Saya bahkan jadi memaafkan kata ‘line’ yang ada di bait terakhir, sebab masuk dengan pas ke dalam puisi. Tidak berkesan hard sale sama sekali. Jenius copywriternya! (Or should I say “penyairnya”?) Sayang saya tidak tahu sama sekali Si Copywriter AADC Mini Drama ini. Jadi saya tidak bisa memberi keterangan apa-apa tentang dia. Ada yang tahu?

Di kalangan peminat sastra, sekitar akhir 2015 menjadi bergairah, sebab satu penyair muda disebut-sebut sebagai penulis puisi AADC 2 (2016). Dia adalah M. Aan Mansyur, puisinya kerap beredar di media cetak, buku-buku puisinya di antaranya Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita, Melihat Api Bekerja, dan yang terbaru Tidak Ada New York Hari Ini. Judul yang terakhir berisi puisi-puisi yang ada dalam AADC 2. Dari judulnya saja sudah ketahuan, bukan? Ada kata ‘New York’, kota di mana Rangga menuju ketika dia pergi dari Jakarta 14 tahun yang lalu.

Aan mempublikasikan satu image promo di socmed berisi sebait spoiler puisi Rangga sebelum akhirnya AADC 2 keluar. Bait puisi itu adalah: Lihat tanda tanya itu,// jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi./ Dari bait ini semacam petunjuk bahwa Rangga akan muncul untuk merebut cinta Cinta sekali lagi. Melalui puisi, tentu saja, seperti yang sudah-sudah.

Puisi dalam Film

Dalam AADC (2002) ada tiga puisi utuh yang masuk ke dalam film. Puisi pertama adalah  Aku Ingin Bersama Selamanya, puisi Cinta tentang persahabatannya. Puisi yang pertama ini, saya sama sekali tidak ingat. Sejujurnya, bagi saya puisi ini buruk. Pantas saja kalah lomba cipta puisi.

Puisi yang kedua adalah Tentang Seseorang, puisi Rangga yang menang lomba cipta puisi di sekolah. Cinta terus membawa puisi ini kemana-mana, meresapkannya ke dalam dada, dan akhirnya dalam satu kencan, Cinta menyanyikan puisi Rangga. Siapa yang bisa lupa dengan bait: Bosan aku dengan penat,// dan enyah saja kau pekat./ Seperti berjelaga bila kusendiri./ Bait ini dilagukan Cinta menjadi lirik bagian reff. Keluar dari bioskop, musikalisasi puisi Tentang Seseorang terus menempel.

Di akhir film AADC, Cinta menerima satu puisi dari Rangga sebagai perpisahan yang berjudul sama dengan judul filmnya, Ada Apa Dengan Cinta?, yang baitnya di antaranya berbunyi: Aku pasti akan kembali dalam satu purnama// Untuk mempertanyakan kembali cintanya./ Kalimat ini semacam clifhanger bahwa kelak asmara Cinta dan Rangga akan nyambung lagi.

Thanks to AADC Mini Drama (2014), kata ‘purnama’ kemudian berkembang menjadi benang merah antara AADC, AADC Mini Drama dan AADC 2. Adegannya di ruang tunggu bandara, Rangga mengira Cinta tidak mau menemuinya dan tiba-tiba secara epic dia muncul di belakang. Ini adegan yang memberi harapan untuk penggemar AADC garis keras. Cuma ada satu dialog yang diucapkan Cinta di adegan ini: “Jadi beda satu purnama di New York sama di Jakarta?” Penonton langsung akan merujuk pada bait puisi Ada Apa dengan Cinta?-nya Rako yang ada di AADC. Kemudian disambunglah dengan puisi Love. Life. Line. yang seolah menjawab bagaimana lanjutan kisah asmara Cinta-Rangga: Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru.// Untuk semua pertanyaan yang belum terjawab./

 Ketika AADC 2 (2016) tayang, saya sungguh berharap bisa menemukan kembali romantisme puisi dalam sekulenya. Setiap adegan Rangga galau, puisi muncul sebagai Voice Over. Setiap kali itu pulalah saya memasang kuping rekat-rekat untuk mendengar bait per bait. Cukup bagus, bahkan mungkin pilihan diksinya lebih kaya dan rangkaiannya lebih bagus dari puisi di AADC dan AADC Mini Drama. Tentu saja, ini karena Aan adalah penyair betulan, dibanding dua orang sebelumnya. Tetapi, ketika saya keluar dari bioskop, tidak ada bait yang saya ingat secara utuh. -Kecuali tentu saja: Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. Itu pun karena sebelumnya Aan sudah mengunggah image promo AADC 2 dengan kutipan bait tersebut.- Selain itu, cuma ada satu, itu pun saya tidak ingat utuh, cuma menangkap kalimat: dingin dikenang. Ini nyantol di kepala saya karena ini bait terakhir dalam puisi ke-2kalau tidak keliru- dalam film AADC 2. Memang, saya cukup terhibur dengan baper nostalgia yang ditawarkan sebagai jualan, unyu-unyunya kena banget. Tetapi romantisme puisi di AADC 2 jauh dari harapan saya. Ini gawat, pikir saya. Sebab saya tahu betul kemampuan Aan dalam mengolah kata. Apa yang salah?

Kenapa puisi-puisi Rako di AADC dan puisi Si Copywriter di AADC Mini Drama lebih mudah diingat penonton? Saya pun diharuskan melihat latar belakang ketiga penyair. Rako adalah filmmaker, sedang Si Copywriter adalah pembuat iklan. Ketika mereka menulis, sedikit banyak keduanya menyadari siapa konsumennya, dan apa tujuan kalimat itu dirangkai. Tetapi lain halnya dengan Aan. Saya tidak menyalahkan Aan, tentu saja. Dia melaksanakan tugasnya sebagai penyair dengan sangat baik. Tetapi karena latar belakangnya bukanlah filmmaker, tentu dia tidak punya kesadaran siapa konsumennya. Bagi Aan, jauh di alam bawah sadarnya, konsumennya adalah pembacanya, bukan penonton film AADC 2.

Tunggu dulu…sebetulnya, hal ini bisa terselesaikan jika saja ada adegan di dalam film yang mendukung puisi yang bersangkutan untuk diingat. Saya lantas diharuskan melihat kembali alur cerita AADC 2. Saya baru ngeh, tidak ada tempat dalam plot skenario yang memberi ruang bagi puisi-puisi M. Aan Mansyur untuk berdiri di tengah alur. Tidak ada adegan yang memberi ruang bagi puisi untuk menonjol. Dalam skenario yang ditulis Mira Lesmana dan Prima Rusdi tersebut, semua puisi di-voice over ketika Rangga sedang galau.

Hey, bagaimana dengan AADC Mini Drama (2014)? Bukankah itu juga cuma di-voice over. Iya, itu betul, tetapi AADC Mini Drama adalah iklan yang ditayangkan di YouTube, media yang bisa dibuka berulang-ulang secara gratis oleh siapa pun. Itu sebabnya puisi Love. Life. Line. mudah nyangkut di kepala penonton. Sedang AADC 2 (2016), kau harus bayar tiket ke bioskop jika ingin menonton lagi. Meskipun saya yakin banyak penggemar garis keras AADC 2 yang menonton beberapa kali, ini terbukti dengan penjualan tiket yang meroket. (Ngomong-ngomong soal penjualan tiket, saya girang sekali ketika dengar sudah sampai 1 juta penonton. Sorry, OOT. )

Oke, balik lagi ke puisi:

Dalam film AADC (2002), hanya ada satu kali puisi di-voice over (atau dinarasi), yaitu puisi Ada Apa dengan Cinta? di adegan penutup. Rangga di AADC tidak pernah sekalipun digambarkan galau, dia adalah remaja yang menyimpan bara amarah, penyendiri, dan yakin dengan pilihan hidupnya. Dia bukan karakter yang gundah gulana lantas nulis puisi. Sangat berbeda dengan karakter Rangga di AADC 2 yang penuh dengan kegalauan. Runtuh sudah karakter Rangga Sang binatang jalang dari kumpulan yang terbuang.

Sebagai penulis skenario, Jujur Prananto memberi ruang dalam alur cerita untuk puisi agar tidak sekedar jadi tempelan. Caranya? Dibacakan, diadegankan, didialogkan. Dengan kata lain, masuk dalam bagian cerita, dan tidak sekedar ditempel menjadi voice over. Ada adegan Cinta yang membaca bahkan memusikalisasikan puisi Tentang Seseorang, dan diulang beberapa kali. Itu sebab saya selalu ingat dengan bait pecahkan saja gelasnya biar ramai, dst.

Puisi M. Aan Mansyur sama sekali tidak buruk. Tetapi mungkin terlalu kompleks dan terlalu panjang untuk di-VO film. Voice over itu sifatnya hanya didengar sekali yang kemudian lewat begitu saja. Sayang, bukan? Padahal puisi butuh ruang untuk direnungkan, dirasakan. Mira Lesmana dan Prima Rusdi mungkin terlalu sibuk mengatur plot, sehingga lupa memberi ruang untuk puisi-puisi yang menjadi esensi karakter Rangga. Puisi-puisi Aan tentu akan lebih menonjol di bukunya, Tidak Ada New York Hari Ini. Sialnya ketika menulis ini, saya belum punya buku tersebut, apa yang saya tulis di sini berdasarkan dari film yang sudah saya tonton, bukan berdasarkan buku. Tetapi jika kamu sudah punya buku Tidak Ada New York Hari ini, maka kamu punya kemewahan untuk menimang-nimang puisinya, membaca ulang, meresapi, kemudian jadi baper.

Sebetulnya, teori mengulang kalimat sudah dilakukan di AADC 2 dalam media yang berbeda, yaitu ketika mengunggah image promo M. Aan Mansyur dengan kutipan lihatlah tanda tanya itu, dst. Dan terbukti kan, kalau bait kutipan puisi inilah kemudian yang paling diingat. Sayangnya, tidak ada wadah yang serupa dalam filmnya. Membuat puisi-puisi di AADC 2 menjadi dingin dikenang.

 

Artikel dalam Topik Ini : << AADC2 dan Formula Film LarisA-Z untuk Dagangan #AADC2 >>
Ratih Kumala

Ratih Kumala

lahir di Jakarta, tahun 1980. Ia menyelesaikan studi dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo.

Buku pertamanya, novel berjudul "Tabula Rasa" (Grasindo 2004, GPU 2014), memperoleh
hadiah ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, "Genesis" (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, "Larutan Senja", (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul "Kronik Betawi" (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagai cerita bersambung di harian Republika 2008. Novelnya "Gadis Kretek" (GPU, 2012) yang masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –"Cigarette Girl" (GPU, 2015), serta bahasa Jerman –"Das Zigarettenmadchen" (culturbooks publishing, 2015).

Selain menulis novel dan cerita pendek, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini tinggal di Jakarta bersama suaminya, penulis Eka Kurniawan, dan putrinya Kidung Kinanti Kurniawan.
Ratih Kumala

Latest posts by (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/05/puisi-rangga-e1462523782727.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/05/puisi-rangga-150x150.jpgRatih KumalaArts & CultureAADC2,puisi,Rangga,Ratih KumalaJika kamu hendak menonton AADC 2, persiapan yang paling penting adalah mental. Tanggalkan atribut “kritikus” dan “filmmaker”-mu di luar pintu bioskop. Masuklah ke bioskop bersama hantu masa lalu, siapkan hatimu untuk dihajar oleh kenangan. Siapkah kamu untuk mengingat persahabatanmu yang diwakili oleh Cinta, Milly, Karmen dan Maura? Siapkah kamu...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k