Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Nak, tadinya aku berharap hujan turun lagi malam ini. Gerah rasanya seharian tadi. Mungkin karena aku lumayan banyak berkeringat. Dua kali rit ke kantor. Rit kedua naik sepeda. Rit pertama tadi yang jalan kaki, ke kantor lalu ke Pasar mampang terus ke tukang jahit untuk memperbaiki baby carrier. Itu baby carrier untukmu, Nak. Aku ke tukang jahit untuk menguatkan jahitan kancingnya, supaya kuat menyangga tubuhmu nanti. Kata Bu Dokter tadi, beratmu sekarang sudah 3,4 kilogram, dan sudah masuk ke jalan lahir. Alhamdulillah, sejauh ini baik dan normal saja.

Tadi kunjungan terakhir kami ke dokter Sri Pudiastuti di Medical Centre. Besok kita akan ke Bandung, Nak, beramai-ramai. Ibumu ingin melahirkan kamu di sana, biar dekat dengan ibunya, katanya. Biasalah, perempuan, mereka selalu merasa lebih aman bila dekat dengan ibunya. Tak apa-apa ya, Nak. Bandung juga keren kok di akta kelahiran. Setidaknya lebih keren daripada tempat lahirku: Watampone. Di mana itu? Jauh dan sering tidak ditulis di peta Indonesia. Kamu akan tahu kelak bila masih ada pelajaran Geografi di sekolahmu.

Tadi sama dokter Sri, kami minta didoakan. Minta didoakan semoga semuanya lancar. Dokter Sri itu baik, meski agak kaku. Setidaknya selama 8 bulan periksa dan konsultasi kehamilan ke dia, kami tak pernah ada kesulitan. Dokter Sri selalu kasih harapan-harapan baik yang tentu saja penting untuk psikologi ibu hamil. Kalau aku bilang agak kaku, ya mungkin itu perasaanku saja. Mungkin aku sedikit subjektif karena pernah ditolak waktu aku minta nomer handphone-nya. Tapi its ok kok. Kami bisa memakluminya.

Bubar periksa, kami tidak langung pulang, Nak. Aku dan ibumu singgah dulu nongkrong di tukang kerak telor yang mangkal di depan Rumah Sakit JMC. Selama 8 bulan mondar-mandir ke JMC, baru kali itu kami melihatnya.
“Sering kehalang mobil…” katanya waktu aku tanya kenapa baru melihatnya di situ. Namanya Pak Rahmat, dan seperti kepada tukang-tukang kerak telor lainnya, aku memanggilnya Babe. Bertahun-tahun dia berjualan di pojok parkiran RS. JMC itu. Jika parkiran penuh, Babe akan semakin tak terlihat. Malam tadi tak terlalu ramai, jadi kami bisa leyeh-leyeh. Ibumu duduk di tembok pagar, aku duduk di besi pembatas ban. Babe Rahmat duduk di antara kami, sambil mengipas-ngipas tungkunya.

Sebelum berjualan di sini, Babe berjualan di Monas. Di Monas dia berhenti setelah ongkos angkutan dari rumahnya di Pejaten Barat semakin mahal, dan rematik mulai mendera badannya.

Bila rematiknya kambuh, “Sakitnya terasa sampai di sini,” kata Babe sambil menunjuk bagian perutnya. Dia bukannya tidak mencoba berobat. Babe bahkan pernah memeriksakan diri ke dokter JMC, tapi tidak banyak perubahan. Tubuh 68 tahun itu mungkin sudah susah bereaksi dengan obat apapun.

Babe bercerita soal sakitnya atau soal hari-hari di mana tak ada satupun pembeli, semuanya dengan ekspresi yang sama. Tersenyum. Itu benar-benar senyum. Senyum yang sama seperti saat dia bercerita tentang cucu-cucunya. Babe Rahmat tak pernah sinis terhadap , rupanya.

Aku tiba-tiba ingat bapakku almarhum. Bapakku juga murah senyum. Seumur hidupku, tak pernah aku berhasil tahu kapan dia mengalami masa-masa sulit. Semua masalah dilaluinya dengan senyum, kadang disertai lelucon-lelucon garing yang membuat kami merasa berdosa bila tidak ikut tertawa.

Aku rindu cerita-cerita bapakku. Demi Allah, andai kamu bisa melihatku sekarang, Nak, mataku basah saat menulis ini…

Ironis ya, Nak. Bapakku yang selalu mengajarkanku arti tertawa riang justru lebih sering aku ceritakan dengan haru biru. Itu karena aku merasa berutang sangat banyak padanya. Utang tak terbayar sebagai konsekuensiku memilih jalan pedang ini. Halah! 🙂

Kenapa aku tulis ini, sederhana saja sebabnya. Aku ingin kelak engkau bisa mengenangku seperti aku mengenang bapakku. Berilah aku waktu untuk belajar. Seperti bapakku, aku ingin jadi ayah yang baik, yang tak pernah menyentuhkan kulit tangannya ke badan anaknya dalam keadaan marah. Apakah lagi yang lebih berarti bagi seorang pria selain saat ketika anaknya dengan ikhlas menulis “I’m just a happy kid”, dan istrinya menulis “I’m a happy wife”. Subhanallah. I so wish this would happen to me, Son!

Jadi begitulah, Nak. Tadinya aku berharap hujan turun malam ini. Hingga tadi, sebelum aku bertemu tukang kerak telor di depan Rumah Sakit JMC itu. Babe Rahmat yang tanpa henti mengipasi tungku dan berkali-kali meminta maaf karena telah membuat kami menunggu, telah mengajari kami satu lagi sudut pandang kebahagiaan.

Dia guru kami malam ini. Dan sungguh sangat tak berterima kasihlah kami jika mengharapkan hujan turun. Babe Rahmat masih akan di sana hingga tengah malam. Tanpa atap.

Adapun kami yang berharap turun hujan, seringkali hanya menginginkan romansa dan sedikit melankoli.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/02/hujan-850.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/02/hujan-850-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's NoteJakarta,KehidupanNak, tadinya aku berharap hujan turun lagi malam ini. Gerah rasanya seharian tadi. Mungkin karena aku lumayan banyak berkeringat. Dua kali rit ke kantor. Rit kedua naik sepeda. Rit pertama tadi yang jalan kaki, ke kantor lalu ke Pasar mampang terus ke tukang jahit untuk memperbaiki baby carrier. Itu...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k