Tulisan ini dibuat oleh Eddi Kurnianto a.k.a mas Didit, di-copy-kan padaku saat kami duduk sebaris di kelas sebuah workshop penulisan. Catatan ini mungkin ditulisnya pada saat istirahat setelah Jumatan. Mungkin. Atau dia mencuri-curi waktu di sela-sela materi yang disampaikan oleh Salman Aristo. Katanya ini amanah, jadi saya posting di sini. Terima kasih banyak, Mas Didit…

River,
Saya baru saja bicara pada bapak dan ibumu siang tadi..
Ibumu berharap kamu bisa pintar seperti ayahmu, walau saya sendiri merasa ibumu tak kalah pintar dari ayahmu. Mereka berdua orang pintar, walau tak bisa matematika. Ayahmu berharap kamu bisa melanjutkan perjalanannya dengan lebih terarah. Seperti namamu yang bisa diartikan seperti sungai yang perjalanannya telah memiliki arah. Bersyukurlah kamu, River, karena ayahmu sudah menyiapkan petunjuk-petunjuk kecil dari petualangan hidupnya yang besar. Percayalah, River, petunjuk itu sangat berharga. Ayahmu sudah berjalan jauh, ia telah memetik banyak buah dari pengalamannya dan ibumu selalu mendoakanmu.

River,
Sayangilah orang tuamu, nak. Mereka bisa menuntunmu dengan kecerdasan mereka, dengan kasih sayang mereka dan tentunya dengan doa mereka. Saya juga akan titip doa buat kamu, pada mereka. Saya berdoa agar kamu bisa berkembang lepas, menjadi dirimu sendiri. Tumbuh dengan kelebihanmu sendiri. Tak apa-apa kalau kamu jago matematika, karena saya yakin kamu cerdas. Its in your blood.
Itu doa dari pamanmu, nak. Jadilah anak baik yang soleh ya…?! Belajarlah dari ibumu. Agama adalah prinsip teringgi. Semoga kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau.. apapun yang kamu inginkan..

Kamu tak harus jadi sungai, nak, walaupun namamu adalah River. Kamu memang pasti harus mengalir malalui pengalaman-pengalamanmu, tapi kamu bisa memilih jadi pohon yang kokoh. Atau malah hutan… Pamanmu ini tak akan mau memaksamu menjadi apapun, nak. Jadilah apa yang kau inginkan. Tapi bukan yang diinginkan orang lain. Jadilah orang yang membanggakan buat dirimu sendiri, tak perlu dibanggakan orang lain.
Jangan mau menurut pada orang lain kalau tak sesuai prinsip mu,
River sayang. Belajarlah dari ayahmu yang hanya mau membengkokkan prinsipnya untukmu.

River,
Jangan lupa satu hal. Selamatkan kenanganmu di masa kecil. Karena untuk tumbuh menjadi Pohon yang besar dan kokoh, kamu akan membutuhkan kenangan itu sebagai akarmu.

River, surat ini akan saya titipkan pada ayahmu. Syukur-syukur kalau disampaikan dulu pada ibumu, tapi yang pasti surat ini adalah amanah ayahmu untuk disampaikan padamu.|

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

Fauzan MukrimRiverFloTulisan ini dibuat oleh Eddi Kurnianto a.k.a mas Didit, di-copy-kan padaku saat kami duduk sebaris di kelas sebuah workshop penulisan. Catatan ini mungkin ditulisnya pada saat istirahat setelah Jumatan. Mungkin. Atau dia mencuri-curi waktu di sela-sela materi yang disampaikan oleh Salman Aristo. Katanya ini amanah, jadi saya posting di...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k