River dan Ayahnya. Foto: Fauzan Mukrim
River dan Ayahnya. Foto: Fauzan Mukrim

Itu aku yang di sebelah kiri, Nak. Dulu. Kira-kira saat seumuranmu sekarang. Aku memegang (ataukah kotaknya saja? –aku tidak ingat betul) milik ayahku. Sama seperti kau sekarang. Kamera ayahku itu mereknya Kodak, sedang yang kau pegang itu Canon.

Kau ingin memotret apa, Nak?
Aku tidak tahu banyak. Aku medioker soal kamera. Amatiran. Tapi kalau kamu tidak keberatan, sini aku ajarkan ilmu dasar kamera. Bener, dasar-dasarnya saja ya.

Aku pertama belajar kamera foto di kampus. Ada mata kuliahnya. Kalau tidak salah 3 SKS. Aku juga pernah ikut kursus dasar BCOP (Basic Course of Photography) di KIFO dan selanjutnya belajar dengan bergaul dengan senior dan teman-teman di UKM Foto-Unhas. Jebolan KIFO dan UKM Foto sangar-sangar jagonya. Sekadar menyebut beberapa nama, ada Bang Yusuf Ahmad yang sekarang kerja untuk Reuters dan Bang Luhur Hertanto di Detikcom.

Tidak sampai menguasai kamera foto, aku beralih belajar kamera video. Ini semata karena tuntutan pekerjaan karena aku bekerja di sebuah stasiun TV. Tapi sering dalam penugasan, aku membawa kedua-duanya, kamera foto dan video. Masing-masing menurutku punya karakter. Beberapa peristiwa tampak lebih bagus bagus di kamera foto, dan beberapa peristiwa lain tampak lebih bagus di kamera video.

Dalam mengambil gambar, aku diajarkan bahwa jarak adalah penting, sampai ada semacam ketentuan bahwa bila gambarmu kurang bagus berarti kamu kurang dekat dengan objek. Komposisi juga penting, ini tentang di mana kamu harus meletakkan objek gambarmu agar terlihat indah di mata.

Guru-guruku untuk perangkat ini sangat banyak. Tak terhitung. Namun dari semua ajaran-ajaran mereka, ada satu hal yang selalu aku simpan baik-baik.

Angle atau level. Kamu bisa saja mengambil gambar dengan high-angle seperti yang banyak dilakukan oleh-oleh alay-alay jaman sekarang ketika memotret diri sendiri untuk foto fesbuk. Dari sudut pengambilan gambar semacam itu, mata akan terlihat lebih bulat, pipi lebih tirus dan tentu saja akan memberi kesan lebih cantik dan imut. Padahal sebenarnya high-angle itu lebih sering digunakan untuk membuat objek gambar kita terkesan powerless, tak berdaya, sub-ordinat, ringkih dan minder. Sudut pengambilan ini –dalam bahasa gambar berita– biasanya diperuntukkan bagi kriminal dan koruptor. Naikkan kamera sedikit lebih tinggi dari kepala mereka sehingga botaknya bisa terlihat.

Sebaliknya adalah low-angle. Sudut pengambilan gambar ini berguna untuk membuat objek tampak lebih berwibawa, berkuasa dan berenergi. Mengambil gambar binaragawan atau kaleng Milo, paling cocok dari angle ini.

Di tengah-tengah itu semua ada eye-level. Yaitu kamu mengambil gambar objek dengan ketinggian kamera setara tinggi matamu. Objek akan tampak apa adanya, seperti yang kita lihat dengan mata biasa. Botaknya tidak begitu terlihat dan demikian pula lubang hidungnya.

Inilah sebenarnya dasar sekaligus esensi ilmu kamera, Nak.

Eye-level itu mengajarkan kita tentang keseimbangan, kesetaraan. Eye-level membuat kita memahami fungsi memanjat atau fungsi berlutut sebagaimana diperlukan.

Kita punya kawan, Nak, beliau seorang ayah yang sangat rendah hati. Suatu kali kami bertemu dalam sebuah acara yang dihadiri banyak orang. Beberapa orangtua membawa -anak. Kawan kita ini dikenal dan mengenal banyak orang. Saat acara hampir usai, beberapa orang yang ingin pulang duluan menghampirinya untuk pamit. Semua disalaminya dengan ramah.

Tapi ada yang satu hal yang menarik perhatianku. Jika orang yang datang menyapanya membawa anak kecil, kawan kita ini pasti akan berlutut menyalami dan mencium tangan si anak kecil itu. Dan selalu seperti itu.

Saat punya kesempatan ngobrol berdua, aku menanyakan itu kepadanya.
“Rasulullah selalu memuliakan anak kecil,” katanya.

Lalu berceritalah beliau bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya dan anak kecil lain yang ditemuinya.
Setiap kali berhadapan dan berbicara dengan anak kecil, dia akan selalu berusaha untuk menatap mata si anak itu dalam posisi yang sejajar, eye-level. Itulah mengapa dia hampir selalu berlutut bila ada anak kecil yang menghampirinya. Ini penting agar si anak tidak merasa berhadapan dengan orang lebih besar darinya.

Dia juga bercerita tentang bagaimana dia akan menghentikan apa pun kegiatannya bila anaknya datang menghampiri atau menanyakan sesuatu.

Seringkali ada orangtua yang terlalu sibuk dengan gadget-nya, ketika seorang anak datang bertanya maka dijawab seperlunya saja, sering bahkan tanpa melihat mata sang anak. Semata-mata agar si anak tidak mengganggu lebih lama.

“Maka suatu hari sang anak akan tumbuh dengan perasaan bahwa Blackberry ibunya, atau komputer ayahnya, jauh lebih penting daripada diri si anak itu sendiri,” katanya.

Aku tercenung, Nak. Sungguh betapa sering aku melakukan itu padamu. Maafkan aku.

Bertahun-tahun aku bergelut dengan kamera (meski tetap bego), tak pernah aku menyadari pentingnya eye-level, hingga aku dipertemukan dengan orang yang selalu berlutut setiap kali berbicara dengan anak kecil itu.

Terima kasih, Bang Fadly . Semoga Allah selalu menjagamu dan keluargamu…

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2012/11/me-and-my-son.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2012/11/me-and-my-son-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's NoteAnak,,KameraItu aku yang di sebelah kiri, Nak. Dulu. Kira-kira saat seumuranmu sekarang. Aku memegang kamera (ataukah kotaknya saja? --aku tidak ingat betul) milik ayahku. Sama seperti kau sekarang. Kamera ayahku itu mereknya Kodak, sedang yang kau pegang itu Canon. Kau ingin memotret apa, Nak? Aku tidak tahu banyak. Aku medioker soal...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    37
    Shares