Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Enam belas tahun lalu aku terbengong-bengong di ruang tunggu dokter mata.

Sedang bandel-bandelnya dan tiba-tiba seperti ditekuk sampai lumat. Hanya gara-gara kornea mata menebal dan melengkung sekian mili, dan semuanya lantas jadi kabur. Miopia. Harus pakai kacamata untuk melihat jelas lagi. Untuk bisa bandel lagi.

Lalu sekarang, hanya karena udara dingin atau minuman manis sedikit, jadi sering batuk-batuk. Alergi. Ini pun dulu tak pernah terpikirkan. Begadang nongkrong semalaman di pinggir jalan pun tak apa-apa. Berasa jagoan kayak ayam.

Sigh…
River, inilah ayahmu kini. Mudah lelah. Kadang-kadang aku harus menunda pulang dan tinggal lebih lama di kantor. Bukan apa-apa, Nak. Rasa lelah ini –seperti caraku mendapatkannya– harus aku cicil kembalikan lagi ke tempatnya semula tanpa harus membawanya pulang ke rumah.

Sering aku membayangkan diriku ini kayak baterai NiCad yang harus rajin-rajin dikosongkan supaya tetap berkinerja baik. Baterai NiCad adalah baterai rechargeable yang punya “efek memory”. Jika kamu pernah mengisi baterai sebesar 75%, maka suatu saat baterai ini akan lupa bahwa masih ada ruang sebesar 25% yang belum terisi. Begitupun sebaliknya, jika baterai diisi kembali padahal masih ada 25% di dalamnya, maka isian 75% akan dianggapnya 100% atau baterai terisi penuh. Itulah mengapa baterai NiCad harus rajin-rajin dikuras sebelum diisi ulang.

Untungnya baterai NiCad sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Sudah ada penggantinya yang lebih keren dan tahan banting, yaitu baterai Lithium. Baterai Lithium tidak punya “efek memory”, tapi sayangnya lebih mudah meledak.

Ah, sudahlah. Kamu tentu tak mau tahu ayahmu ini jenis baterai apa. Lithium atau NiCad, toh pada akhirnya yang kita butuhkan adalah sengatan listrik untuk menjadi berisi. Dan sengatan itu bisa berupa kacamata atau alergi di tenggorokan.

Apalah perumpamaan ini, Nak. Bingung juga aku dibuatnya. Intinya adalah, aku tak ingin pulang ke rumah dalam kelelahan, dan membuatmu kecewa karena tidak bisa menemanimu bermain mobil-mobilan atau menonton Thomas The Tank Engine.

Sesederhana itu, kalau kamu mau tahu.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2013/03/battery-640x480.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2013/03/battery-640x480-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's NoteEnam belas tahun lalu aku terbengong-bengong di ruang tunggu dokter mata. Sedang bandel-bandelnya dan tiba-tiba seperti ditekuk sampai lumat. Hanya gara-gara kornea mata menebal dan melengkung sekian mili, dan semuanya lantas jadi kabur. Miopia. Harus pakai kacamata untuk melihat jelas lagi. Untuk bisa bandel lagi. Lalu sekarang, hanya karena udara dingin...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k