Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Handphone-nya berdering. Dari nomor yang tak dikenalnya. Dia mengamati sebentar sebelum memutuskan untuk mengangkatnya.
“Iya, saya sendiri, Mas..”
Seseorang di seberang sana mungkin menanyakan apa betul dia berbicara dengan orang yang tepat.

Seperti biasa, nada suaranya tetap santun. Bahkan terlalu santun untuk orang yang berkali-kali menerima telepon tak dikenal yang menawarkan kartu kredit, peluang investasi, atau asuransi, yang entah bagaimana caranya selalu tahu data pribadi kita.
“Insya Allah kalau saya ada rezeki lebih, saya akan hubungi Anda,” begitu selalu caranya mengakhiri pembicaraan.

Kali ini dia berbicara agak lama. Dia tak berusaha mengakhiri pembicaraan dengan kebohongan-kebohongan yang umum semisal “maaf, saya lagi meeting” atau “maaf, saya sedang di jalan”.

“Mudah-mudahan lain kali bisa ya, Mas. Sekarang saya kayaknya belum perlu, dengan yang ini masih cukup. Terima kasih banyak. Salam sama keluarga, Mas.”

Aku ada bersamanya saat itu dan sempat bertanya itu telpon dari siapa. Dia menyebut nama sebuah perusahaan provider telekomunikasi.
“Bang, selalu seperti itu ya kalau menerima telepon penawaran gak jelas?” tanyaku.
Dia mengernyit.
“Maksud lo?”
“Biasanya kita buru-buru matiin atau cari alasan apa kek biar gak berlama-lama ngobrol,” kataku.

Dia tak segera menjawab, tapi tak juga terlihat seperti orang yang mencari-cari jawaban. Dia mengambil handphone-nya yang masih tergeletak di meja dan memasukkannya ke saku baju. Lalu kursinya digeser mendekat kepadaku.

“Gak tau juga gue. Cuma tiap kali dapat telepon kayak gini, gue selalu mikir, jangan-jangan gue orang keseratus yang dia hubungi. Jangan-jangan semua orang yang dia telpon sebelumnya menolak dengan kasar. Lo bisa bayangin, hidupnya pasti berat. Berapa lama sih? Paling lama empat atau lima menit. Dengan ngasih waktu buat dengerin dia bicara, meskipun pada akhirnya gue juga nolak, tapi setidaknya gue sudah berusaha gak bikin hari-harinya tambah berat…”

Aku tak berbohong, wahai anakku River. Orang yang aku ceritakan padamu ini benar-benar ada.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2011/09/call-centre.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2011/09/call-centre-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's Note,,Handphone-nya berdering. Dari nomor yang tak dikenalnya. Dia mengamati sebentar sebelum memutuskan untuk mengangkatnya. 'Iya, saya sendiri, Mas..' Seseorang di seberang sana mungkin menanyakan apa betul dia berbicara dengan orang yang tepat. Seperti biasa, nada suaranya tetap santun. Bahkan terlalu santun untuk orang yang berkali-kali menerima telepon tak dikenal yang menawarkan kartu...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k
  • 40
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    40
    Shares