foto: riverpost.id
foto: riverpost.id

Sebagai warga satelit , saya sebenarnya tak punya hak memilih . Tapi sebagai warga luar yang melintasi dan bekerja di pusat keramaian Ibu Kota, saya sedikit-sedikit punya haklah untuk mengomentari palagan pemilihan Gubernur yang sungguh susah untuk tidak dikomentari ini.

Setiap hari, saya bersama ratusan ribu warga sekitar Jakarta menyemuti Ibu Kota, berjuang berebutan di salah satu jalan terpadat yang menghubungkan Jakarta-Bekasi. Saya melintasi Jalan Basuki Rahmat, Jalan Abdullah Syafei, Jalan Casablanca dan berakhir di Rasuna Said.

Saya merasakan ada perubahan setelah Jokowi- mulai memerintah Ibu Kota. Jalanan di kiri-kanan Pasar Gembrong tak lagi semacet dulu. Penataan pedagang kaki lima penjual mainan anak-anak membuahkan hasil. Untuk ini, saya acungkan jempol untuk pasangan kepala daerah tersebut. Ada hal lain juga yang saya rasakan, tak lagi menggenangi kompleks sekitar jalanan menuju Rasuna, khususnya di kawasan Cipinang. Untuk yang ini, tentu bukan karena Pak Jokowi-Ahok, tapi karena adanya Kanal Timur yang direncanakan sejak zaman Belanda tapi diselesaikan oleh Pak Fauzi Bowo.

Pada jam sore pulang kantor, di tahun pemerintahan Ahok, Jalan Casablanca makin karena dibangunnya Kota Kasablanka, mall besar yang mentereng yang rajin disinggahi para pekerja kantor. Di zaman Pak Ahok pulalah, bakso murah dan enak di depan Gedung Staco yang ramai disinggahi para bikers, tergusur dan hilang ditelan bumi. Untuk semua hal ini saya tak akan menyalahkan Pak Ahok. Kota Kasablanka tentu dibangun sejak Pak Ahok masih jadi bupati di Belitung.

Di samping kiri kanan jalanan Kasablanka sekarang tersedia jalur pejalan kaki yang lebar. Setidaknya pada kota yang pengap ini, masih ada jalan yang memanjakan warga, meski tak bebas-bebas banget dari tukang tambal ban. Satu orang tukang tambal ban masih mangkal di depan kuburan Menteng Pulo, sesekali saya nambah angin motor di sana. Tapi penjual helm sudah tak ada lagi. Sekali waktu saya melihatnya diusir Satpol PP. Di daerah dekat perempatan Rasuna-Casablanca masih ada gerobak pedagang kaki lima. Satu orang jualan bubur kacang hijau, satu gerobak penjual ketoprak, satu gerobak penjual bubur ayam, sementara gerobak nasi uduk dan penjual comro sudah lama tak kelihatan. Kata tukang ketoprak mereka alih profesi jadi driver Gojek.

Jejeran penjual di samping pompa bensin Kuningan yang dekat halte Kemkes sudah hilang juga entah ke mana. Beberapa kali mereka hilang-muncul-hilang lagi selamanya, padahal tongseng di sana enak banget. Tetapi pada sore hari, masih banyak gerobak bakso malang, nasi goreng, dan siomai depan kantor. Di zaman Ahok, ada yang pergi dan ada yang bertahan. Memang begitulah kehidupan sejak Charles Darwin membuat teori evolusi.

Teman-teman saya yang ber-KTP Jakarta mengatakan bahwa pelayanan kelurahan di Jakarta semakin membaik sejak Ahok sebagai gubernur. Mereka takut kena damprat kalau menghambat pelayanan. Satu orang teman bercerita layanan akte kelahirannya selesai dengan cepat dan tanpa biaya, sementara layanan yang sama di kota sekitar Jakarta, lama dan… ah sudahlah.

Ada juga cerita-cerita bahwa gaji pegawai DKI bisa fantastis hingga puluhan juta. Pegawai DKI menjadi pegawai yang kaya dibandingkan dengan koleganya yang lain sesama PNS yang juga berkantor di Jakarta. Tampak pula hari-hari terakhir semakin banyak kita melihat Pasukan Oranye, para pekerja yang dibayar Pemerintah Provinsi DKI untuk membersihkan jalanan dan fasilitas publik. Kehadiran pasukan ini tampak mencolok dan menjadikan DKI memang semakin bersih.

Saya anggap Jakarta bisa semakin bagus jika Ahok kembali menjadi gubernur. Tapi posisi saya dalam pemilihan Gubernur Jakarta adalah indifferent, Ahok iya selain Ahok juga gak papa....

Sebagai pemantau, saya melihat ada banyak kandidat lain juga yang bisa menjadi pengganti Ahok. Tentu tak ada gubernur yang bisa sempurna, yang bisa sempurna hanya Andra and The Backbone. Saya tak bermasalah dengan cara Ahok berbicara, karena itulah gayanya. Hanya saja kadang saya tidak setuju dengan isi ucapannya, khususnya masalah kabel yang katanya sabotase. Saran saya buat Ahok, kalau mau terpilih, tak usah menyerang bayang-bayang. Dengan prestasi dan kerja keras yang sudah ada, dia bisa terpilih juga jadi gubernur. Masyarakat Jakarta adalah pemilih yang rasional dan pandai menimbang logika, tak mudah mereka terprovokasi oleh klaim yang tak masuk akal. Karena itu jugalah maka besar kemungkinan Ahok bisa terpilih kembali.

Artikel dalam Topik Ini : << Yang Mau dan yang Malu: Calon Presiden Keturunan Tionghoa

Ahmad Amiruddin

, blogger di www.taroada.com, asal Kadidi-Sidrap, tinggal di Bekasi

Latest posts by Ahmad Amiruddin (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/03/jakarta-sore-1024x575.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2016/03/jakarta-sore-150x150.jpgAhmad AmiruddinRecent PostsThe WorldAhmad Amiruddin,Ahok,Banjir,Gubernur,Jakarta,MacetSebagai warga satelit Jakarta, saya sebenarnya tak punya hak memilih gubernur Jakarta. Tapi sebagai warga luar yang melintasi Jakarta dan bekerja di pusat keramaian Ibu Kota, saya sedikit-sedikit punya haklah untuk mengomentari palagan pemilihan Gubernur yang sungguh susah untuk tidak dikomentari ini. Setiap hari, saya bersama ratusan ribu warga sekitar...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k