Gerhana Matahari 1983 dan Kisah Saribulang

Img: timeanddate.com
Img: timeanddate.com

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas gerhana matahari – yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5-10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

***

Ancaman kebutaan, kalau melihat gerhana matahari total dengan mata telanjang, rupanya tak mempan buat sebahagian orang. Kabar-kabar yang hinggap di mulut kanak-kanak kami mengabarkan ada beberapa yang menjadi “korban” akibat jahatnya peristiwa gerhana matahari itu. Sambil mengutuki “kebodohan” orang-orang yang tetap bandel menyaksikan gerhana meski diberi peringatan berulang-ulang oleh pemerintah, kami juga mengira-ngira bagaimana nasib mereka yang sudah terlanjur buta itu.

Efek “kebutaan” akibat gerhana rupanya menjadi pemantik munculnya cerita tentang Saribulang, anak perempuan yang tinggal di Beroanging. Kabar segera berhembus ke seluruh penjuru mata angin bahwa dia memiliki batu bertuah yang mampu menyembuhkan penyakit “buta” akibat gerhana itu. Batu sakti seukuran telur ayam ini konon dia dapatkan saat tertidur ketika peristiwa gerhana matahari itu terjadi. Ketika terbangun dan menemukan batu itu tergenggam di tangannya, gadis kecil itu memperlihatkan “temuan” itu kepada neneknya atau ayahnya. Oleh orangtua itu – yang awalnya tak percaya hal-hal mistis, segera melemparkan jauh-jauh ke sembarang arah. Anehnya, batu sakti itu selalu kembali begitu saja ke tangan Saribulang. Singkatnya, batu itu kemudian disimpannya di dalam seember air. Orang-orang di sekitarnya kemudian mendengar kisah batu itu, dan mulai berdatangan meminta “pertolongan” – seperti percikan, atau olesan air yang sudah dicelupi oleh batu sakti itu ke mata yang buta akibat gerhana.

Kisah kesaktian batu Saribulang ini nyaris sama persis dengan kisah dukun cilik Ponari. Nama Saribulang kemudian kondang di seluruh penjuru Makassar. Saya ingat namanya sempat diberitakan oleh koran lokal saat itu. Rumahnya yang sederhana menjadi ramai oleh pasien yang hendak mengobati kebutaannya. Saya sendiri sering naik ke dinding rumah untuk melihat keramaian itu. Beberapa kabar menyebutkan bahwa batu itu sangatlah sakti, membuat banyak orang buta bisa melihat kembali.

Saking penasarannya, saya dan teman-teman juga menyempatkan menjadi pasien untuk mendapatkan pengobatan meski tak buta akibat gerhana. Kata orang-orang, penglihatan akan semakin benderang selepas diperciki air dari batu sakti itu. Di rumah Saribulang, sambil menunggu giliran “diobati”, saya menyaksikan banyak baskom, ember dan jerigen yang berisi air. Saribulang sendiri tidak terlihat turun tangan langsung mengobati, melainkan melalui beberapa orang yang diserahi tugas memercikkan air, atau menyuruh sang pasien membenamkan kepala ke air sakti. Tak ada tarif atau biaya pengobatan yang dikenakan saat itu, kecuali kalau ada yang hendak menyumbang seikhlasnya. Seingat saya, tak ada perubahan berarti dari penglihatan kanak-kanak saya yang memang saat itu masih terang benderang. Namun cerita dari mulut ke mulut menyampaikan bahwa banyak pasien yang sembuh selepas diobati oleh batu itu.

Kisah Saribulang berlangsung beberapa bulan lamanya. Hingga kemudian tersiar kabar, batu tersebut hilang begitu saja. Entah dibuang oleh nenek Saribulang, yang tak tahan dengan keramaian karena batu itu, atau karena musabab lain. Yang jelas, Saribulang akhirnya mendapatkan kembali keceriaan kanak-kanaknya, dan tak disibuki lagi oleh para pasien yang menunggu disembuhkan. Hingga bertahun-tahun kemudian, acapkali membaca atau mendengar tentang peristiwa gerhana, ingatan saya kembali ke nama itu, Saribulang.

Artikel dalam Topik Ini : Gerhana Matahari, Kesalahan Einstein, dan Pentingnya Kritikus >>
Muhammad Ruslailang

Muhammad Ruslailang

Orang Bugis yang menetap di Abu Dhabi.
Tekun beribadah dengan membaca.
Muhammad Ruslailang