Suatu malam ketika melihatnya duduk sendirian, aku menghampirinya. Menyalaminya dan ikut duduk melantai bersamanya. Benar-benar di lantai, di bawah lemari kaca yang memajang banyak piala dan piagam. Beberapa kali aku lihat, dia memang suka duduk di situ. Mungkin dia merasa tidak cukup nyaman duduk di kursi. Tubuhnya memang tambun luar biasa, hampir dua kali lipat tubuhku.
Aku bilang, aku suka albumnya yang baru keluar, Tuhan Maha Dalang. Dia tersenyum dan mulai bercerita.
Dia sedang menunggu gilirannya tampil mengisi acara di salah satu program tengah malam. Sesekali, jika kami kehabisan bahan obrolan, dia memainkan okulele kecil berwarna hijau pudar miliknya.
“Banyak teman yang protes saya muncul di sini,” katanya. Aku hampir mengiyakan. Aku sebenarnya juga tidak setuju. Seniman hebat seperti dia tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu, menjadi bahan olok-olok.
Entah mengapa, ada rasa tidak rela. Beberapa kali aku memang melihat dua orang presenter yang merasa dirinya komedian itu mengeluarkan lelucon yang menurutku tidak pantas. Terakhir yang aku lihat sendiri, salah satu presenter acara itu mengolok-olok bulu hidungnya.

Mungkin aku salah. Mungkin dia memang tidak akan berada di situ jika bukan karena tubuhnya yang bisa menjadi bahan tertawaan. Barangkali memang tak ada yang peduli bahwa dia adalah seorang seniman istimewa, (mungkin) satu-satunya dalang suket yang ada di Indonesia.
“Menjadi dalang itu sering membuat kita merasa tinggi, sering ingin dihormati. Dengan muncul di sini saya mencoba melawan keinginan-keinginan seperti itu…” katanya yang segera membuatku terdiam.

Tak lama, seorang kru mendatanginya, memintanya untuk bersiap-siap. Aku menawarkan bantuan ketika dia mencoba berdiri. Kami berpisah tak lama setelah itu. Dia mengecek okulelenya, dan segera memakai kacamata plastik warna hijau seperti mainan anak-anak itu. Properti syuting yang sudah disiapkan untuknya.

Di bawah sorotan lampu dan kamera, dia mulai beraksi. Melihatnya memainkan wayang, membuatku memikirkan ulang apa yang tadi dia ucapkan. Bukan hanya dalang. Aku, seorang yang bahkan tidak menguasai satu alat musik pun, seringkali dihinggapi keinginan-keinginan seperti yang dia bilang. Ingin dianggap hebat, jago, dan sebagainya. Padahal sebenarnya tak ada juga yang bisa dibanggakan.

Dan rasanya aku tidak sendiri sebagai orang yang melulu ingin dimuliakan. Banyak orang yang baru punya kuasa tiba-tiba minta dihormati. Tak rela dia jika ada orang yang lebih tinggi hidungnya daripada dirinya. Baru punya kedudukan sedikit, kemana-mana minta dikawal voorrijder. Baru jadi anggota dewan, marah-marah dia jika tidak disambut ketika pulang kampung. Ada juga yang berlomba-lomba mengejar gelar, agar dianggap kerabat atau keturunan raja. Seolah-olah dia menjadi hina bila disamakan dengan orang biasa. Tidak cukup hanya menjadi VIP, kita ingin dicap sebagai VVIP atau bahkan VVVVVVVVVVVVIP.

Itulah manusia, Nak. Kepongahan adalah nama tengahnya. Karena merasa mulia, kita sering abai terhadap siapa pun yang kita anggap tidak penting. Harta, kedudukan, ketampanan, kecantikan, sering menggoda kita untuk membangun pagar imajiner yang memisahkan kita dengan sesama. Gak level! sering kita dengar orang-orang bilang begitu. Gak level, katanya, Nak. Seolah-olah kita ini tombol pengatur volume.

Suatu hari, Nak, kamu akan mendengar kisah seorang wanita yang nyaris tiap hari muncul di acara infotainment, mencibiri orang-orang yang dia gosipkan. Lalu Allah membalik keadaannya dengan seketika, dan membuatnya menjadi bahan gosip yang tak akan pernah orang lupakan. Begitulah cara Allah mengingatkan kita. Tak ada yang abadi, Nak.

Ada banyak kisah yang mengajarkan kita agar tidak tergelincir. Bahkan ketika kita merasa telah menjadi seorang ahli ibadah, tidak serta merta kita terbebas dari hukum kesombongan. Tadi sore, aku mendengarkan seorang guru bercerita. Tentang hadits Qudsi yang menggambarkan perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT. Sang hamba itu protes karena dia dimasukkan ke neraka padahal dia merasa telah cukup beribadah. Lalu Allah menunjukkan “kesalahan” sang hamba.

Jika suatu kali ada seorang yang sakit datang kepadamu dan engkau mengabaikannya, jika suatu hari ada orang miskin yang datang kepadamu dan engkau tidak mempedulikannya, jika suatu hari ada orang teraniaya yang datang kepadamu dan engkau tidak melapangkannya, maka engkaulah sang hamba yang diceritakan dalam hadits Qudsi itu.

Anakku River, kisah ini aku ceritakan kepadamu untuk kau ambil hikmahnya. Kamu masih muda, insya Allah kamu lebih mudah menerima anjuran. Berbeda dengan kami yang sudah tua ini. Lemak-lemak jiwa sudah menumpuk sedemikan gendut. Pintu hati kami nyaris sudah tertutup oleh nafsu dan keinginan dunia.
Tak seperti orang yang aku ceritakan di awal tadi, tubuhnya memang tambun, tapi jiwanya kesat dan tak berlemak. Namanya Slamet. Bila kamu sempat, dengarkanlah lagu dan syair-syairnya. Ada di kotak CD ayah.

Nak, ini cerita yang lain lagi. Seorang kawanku, yang baru pulang dari perjalanan bekerja, membawakan aku cerita ini. Ada seorang anak muda, dulunya dia gitaris band papan atas Indonesia. Penggemarnya bejibun. Lalu dia bertemu dengan sebuah buku yang mengubah hidupnya, judulnya “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”. Setelah itu dia berhijrah. Dia keluar dari grup musik yang membesarkannya. Dia lalu berangkat khuruj ke Pakistan, India dan Irak. Setelah pulang, dia telah menjadi seseorang yang berbeda.

Dia tetap bermain musik, tapi kali ini musiknya berisi ajakan untuk mengingat Allah dan mencintai sesama. Sering, ketika mengajak orang untuk beribadah, dia menerima cibiran dan penolakan. Tentu beda rasanya, karena dulunya dia adalah orang yang disanjung-sanjung di atas panggung.
“Gak apa-apalah, kita kan mau belajar. Yang penting bagaimana supaya agama ini tidak direndahkan. Untuk diri sendiri direndahkan, gak papalah. Kita merasa bahwa penolakan itu menempa kita supaya sabar, istiqomah, supaya ikhlas..” begitu katanya.

Jadi begitu, Nak. Akan ada suatu masa kita menghadapi situasi dimana kita merasa direndahkan orang lain. Jika itu terjadi padamu. Ingatlah cerita ini. Tak perlu kita membalasnya dengan membuat diri kita seolah-olah lebih tinggi. Karena toh kita tidak tahu ukurannya. Kita hanya akan jadi balon yang terpompa berlebihan.

Adapun anak muda yang aku ceritakan belakangan ini, telah mengganti namanya menjadi Salman.
Mari kita dengarkan lagu dan syair-syairnya. Aku bawa pulang CD album terbarunya. Judulnya “Selamatkan”. Aku pinjam dari teman yang baru pulang dari Jogja. Semoga dia lupa, dan kita punya dua CD yang bagus di kotak CD kita. 🙂

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

Fauzan MukrimRiverFloSuatu malam ketika melihatnya duduk sendirian, aku menghampirinya. Menyalaminya dan ikut duduk melantai bersamanya. Benar-benar di lantai, di bawah lemari kaca yang memajang banyak piala dan piagam. Beberapa kali aku lihat, dia memang suka duduk di situ. Mungkin dia merasa tidak cukup nyaman duduk di kursi. Tubuhnya memang tambun...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k