Dua Ayah yang Tidak Ngobrol Bola

Ilustrasi. img:freeimages.com
Ilustrasi. img:freeimages.com

Aku bertemu kawan lama. Seorang kawan yang sempat pergi lama dan kini kembali lagi. Dia seumuran aku. Sudah menikah dan punya dua orang putri. Dia periang dan lelucon-leluconnya sering membuatku tertawa.

Kami sering ngobrol tentang anak kami masing-masing. Aku yang punya anak laki-laki, sering ingin tahu bagaimana rasanya membesarkan anak perempuan. Begitu pun dia sebaliknya.

Kawanku ini, aku tak tahu dia menyimpan duka yang dalam. Setidaknya sampai beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba dia bilang, “Ada anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya, tapi ada juga orang tua yang menjadi ujian bagi anaknya. Itulah gue.”

Setelah sebelumnya dia bilang betapa iri dia padaku yang sangat menyayangi ayahku, dia lalu bercerita.
“Gue nggak punya kebanggaan apa-apa sama bapakku. Ibuku sudah nggak ada. Kalau sekiranya boleh memilih, gue ingin bapakku saja yang mati duluan.”

Aku menangkap sinar dendam di matanya yang biasa jenaka itu. Dan aku memilih diam membiarkannya terus bercerita. Lagipula aku tak bisa memberi respon apa-apa. Aku tak punya pengalaman berseteru dengan ayahku sehebat itu. Bukannya kami tak pernah berseteru. Pernah, tapi itu tak mengurangi cintaku pada ayahku. Kami selalu bisa menyelesaikannya dengan baik.

“Umur enam tahun,” kawanku melanjutkan sambil meniru gerakan menarik gesper dari celana, “gue sudah kebal. Kesalahan sedikit saja bisa membuat badan gue habis dihajar gesper. Bener. kalau sekiranya sekarang gue harus mengalaminya lagi, gue sudah kebal. Gue sudah hapal bagaimana caranya mengatasi rasa sakitnya.”

Aku ingat kamu, Nak. Umurmu tiga tahun sekarang. Aku tak bisa membayangkan 3 tahun lagi, misalnya, melayangkan ikat pinggang ke badanmu. Pasti sakit sekali. Kesalahan apa yang diperbuat seorang anak sehingga harus menerima hukuman sedemikian?

“Kesalahan-kesalahan sepele. Kalau dia tidur, tak ada yang berani bersuara. Kalau sampai dia terbangun, dia akan menghajar siapa pun yang telah mengganggu tidurnya. Kalau sudah begini, ibu cuma bisa menenangkan. Ibu, serapuh-rapuhnya, menjadi tempat kami bersaudara berlindung…”

Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca. Situasi yang tidak menyenangkan.

“Sekali-sekalinya kami berpelukan, itu waktu Ibu wafat. Saat itu gue sadar, cuma dia yang sekarang gue miliki. Tapi setelah itu, dia kembali seperti biasa. Seperti bapak yang kami kenal. Dia bahkan tidak hadir di pemakaman ibuku. Entah apa alasannya.”

“Di mana dia sekarang?” akhirnya aku memberanikan diri bertanya hal yang sederhana yang tak terlalu beresiko sekiranya salah ditanyakan.

“Di Surabaya. Sendirian. Anak-anaknya tak ada yang tahan tinggal bersamanya. Kami seperti menunggu antrian saja untuk dimusuhi Bapak. Bulan ini kakak gue, bulan depan bisa gue yang dimusuhinya. Bulan depannya lagi, adikku. Begitu terus bergantian.”

Dia mencoba tersenyum, menghadirkan kembali raut biasa di wajahnya. Sungguh, dia memang lelaki yang kuat. Hidup yang keras tidak membuatnya menjadi cengeng. Dia bercerita ini seperti sedang menukil kisah di Majalah Tomtom.

Sekali waktu, aku pernah menonton seorang guru spiritual menasehati muridnya yang galau. Aku pun menirunya. Mudah-mudahan dia belum pernah mendengarnya. Maka aku pun menanyakan, “Bro, di bayanganmu, kira-kira seperti apa ini bakal berakhir?”
“Gue nggak tahu,” katanya.
“Ya, misalnya, kalian berpelukan dan sama-sama mengakui kesalahan. Lalu berjanji untuk melalui hari seterusnya dengan lebih baik. Ente punya kekuasaan untuk melakukannya sekarang.”

Dia tersenyum.
“Percuma. Sampai hari ini pun, sampai anak-anakku sebesar ini, dihitung jari dia menengok cucunya.”

Aku terdiam, menantikan kejutan-kejutan lain dari ceritanya.
Lalu entah dari mana asalnya, tiba-tiba aku merasa diriku seperti Mario Teguh.
“Menurutku, dia tetap ayah terbaik.” kataku.
“Lho kok bisa?”

Dan Mario Teguh dalam diriku pun telah mengambil alih.
“Tak banyak orangtua yang berani menempuh jalan yang ditempuh bapakmu itu, Bro. Aku dan kamu pun, yakin, tak akan mau mengambil peran seperti dia. Dia mengambil resiko terbesar sebagai seorang ayah. Dia berani tidak populer. Dia membiarkan dirinya dimusuhi habis-habisan oleh anak-anaknya demi satu pelajaran berharga. Pelajaran mahal yang tak akan kau lupakan. Pernahkah terpikir olehmu, bahwa dia melakukan ini untuk melatih jiwamu. Dia mengajarimu bergerak berlawanan arah. Apa yang telah kamu alami itu akan membuatmu menyayangi anak-anakmu dengan kadar yang luar biasa, karena kamu tahu betapa tidak nyamannya menjadi anak yang tersakiti. Kamu menyayangi anak-anakmu, kan?”

Dia mengangguk.
“Sangat….” katanya.
“Berarti dia berhasil. Dia ayah yang baik,” kataku. Lalu kami sama-sama diam. Mencerna apa yang barusan kami ucapkan dan dengarkan. Aku heran sendiri, dan berusaha mengingat-ingat tadi sebelumnya makan apa. Jangan-jangan ada yang iseng menaruh jamur tlethong di nasi bungkusku.

Ini jarang-jarang, soalnya. Dua orang pria, sama-sama ayah, seharusnya ngobrol tentang bola. Bukan beginian.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)