Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Di pameran buku tadi, tiba-tiba aku berpikir tentang kekekalan. Sebabnya mungkin karena sebuah judul buku yang sekilas tertangkap mataku saat aku lewati. Tentang surga yang belum tentu kekal. Hufp! Pameran yang ramai. Tapi buku yang aku cari tidak ketemu. Aku datang sehari lebih cepat, rupanya. Buku tentang Muhammad yang ditulis oleh Tasaro GK itu baru mau di-launching besok.

Kekal, Nak. Utopia manusia modern. Manusia tahu itu tak mungkin, tapi mereka tak pernah berhenti mengejarnya. Seperti MJ yang tidur di dalam tabung oksigen murni dan mandi dengan air mineral karena takut terinfeksi kuman yang akan membuatnya mati. Atau Howard Hughes yang enggan bersalaman dengan orang dan selalu dikelilingi lusinan kotak tisu, dengan alasan yang sama.

Toh mereka juga mati pada akhirnya. Mungkin mereka memang tidak pernah berharap bisa kekal. Mereka hanya ingin hidup lebih lama, sebagaimana kita semua.

Lalu untuk apa hidup lama?

Soe Hok Gie pernah menyitir perkataan seorang filsuf, “yang paling beruntung adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan yang paling sial adalah yang berusia tua.” Sadis. Kenapa gerangan filsuf itu mengidentikkan kesialan dengan usia yang panjang?
Jawabannya bisa jadi ada di sekeliling kita.

Di persimpangan lampu merah, bayi-bayi diterpa panas diajak mengemis. Lelap digendongan entah siapa. Jika kamu sempat melihat mereka, bayi-bayi itu nyaris selalu tertidur seolah tak terganggu oleh panas matahari, lengking klakson dan raungan mesin. Ada yang bilang itu karena mereka memang sengaja dibuat tidur. Cukup dengan dicekoki beberapa buah tablet penurun panas, itu sudah setara obat bius dosis menengah.

Seorang kawan yang skeptis pernah bertanya, jika semua anak yang lahir sudah dibekali rezekinya masing-masing, lantas kenapa mereka ada di jalan? Kenapa mereka harus ikut menanggung derita yang disebabkan oleh orang-orang dewasa sebelum mereka? Adilkah itu?

Kawanku itu akhirnya memutuskan menunda menikah dan memiliki anak sampai dia benar-benar yakin punya bekal cukup untuk anak yang akan dilahirkannya kelak.

Aku sih tidak sebegitunya, Nak. Mudah-mudahan aku dimasukkan dalam golongan orang yang nekat. Aku melamar ibumu dengan modal gaji satu bulan, dan semuanya lancar-lancar saja. Alhamdulillah, kami terberkahi oleh fleksibilitas sistem ekonomi Indonesia, yang memungkinkan kami masih bisa mengutang ke orangtua bila kehabisan duit.

Banyak orang, Nak, yang membuat perasaan sial berbanding lurus dengan usia mereka. Seolah-olah hidup adalah rantai derita yang tak putus-putusnya. Kadang-kadang setiap momen menyakitkan itu mereka beri tanda. Aku pernah bertemu bayi yang diberi nama Gusuriyanto oleh orangtuanya. Dari nama itu kita bisa menebak kejadian apa yang menyertai lahirnya si bayi. Orangtuanya kehilangan tempat tinggal karena tergusur. Miris, Nak.

Kemarin aku ngobrol dengan seorang office boy di kantor. Dia cerita tentang kelahiran anaknya. Proses persalinan istrinya ditolong bidan, tapi tiba-tiba sang istri kehilangan tenaga sebelum sang jabang bayi keluar. Bidan menyerah dan menyarankan istrinya segera dibawa ke rumah sakit untuk operasi.

Mendengar kata operasi, temanku si office boy itu kaget bukan main.
“Paling sedikit dua belas juta itu, Mas!” katanya. “Darimana saya bisa dapat uang sebanyak itu…”
Kekalutannya mengganda. Dia harus memikirkan keselamatan istri dan anaknya, dan sekaligus memutar otak untuk mencari pinjaman.

Dalam kondisi nyaris putus asa, dia lalu berbisik di telinga istrinya yang sudah kepayahan, “Ma, tolonglah berusaha sekali lagi, anak ini harus lahir normal…”

Dibisiki begitu, sang istri seperti mendapat tenaga baru. Temanku itu lalu meminta ke bidan untuk mencoba sekali lagi.

“Saya ikut bantu, Mas, saya pegang paha istri saya kuat-kuat!” katanya.
Singkat cerita, sang bayi akhirnya berhasil dilahirkan. Temanku si OB itu gembira bukan main. Dua belas juta rupiah tak jadi keluar.

Dia pun memberi tanda terima kasih kepada istrinya dengan sesuatu yang sangat mahir dia lakukan, “Saya bikinin teh manis, Mas. Limabelas gelas semuanya! Supaya tenaganya cepat pulih.” Begitu dia mengakhiri ceritanya. Selain aku, ada tiga orang lain yang mendengar ceritanya itu. Dan kami semua tertawa. Entah menertawai apa.

Segala puji bagi Allah. Insya Allah, kita ini keluarga bahagia, Nak, yang tak akan pernah merasa sial. Setelah kau lahir, kami bisa membawamu keluar dari Rumah Sakit dalam keadaan gembira. Ibumu menggendongmu, dan aku mencarikan taksi.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/03/peaceful-rest-639x426.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/03/peaceful-rest-639x426-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's Note,Di pameran buku tadi, tiba-tiba aku berpikir tentang kekekalan. Sebabnya mungkin karena sebuah judul buku yang sekilas tertangkap mataku saat aku lewati. Tentang surga yang belum tentu kekal. Hufp! Pameran yang ramai. Tapi buku yang aku cari tidak ketemu. Aku datang sehari lebih cepat, rupanya. Buku tentang Muhammad yang...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k