Di Bawah Asuhan Bang Jack

Foto: Ogi Fathuzzaman
Foto: Ogi Fathuzzaman


Harmoko kabur dari rumahnya di Bengkulu beberapa tahun yang lalu. Bocah delapan tahun ini menggelandang sebagai anak jalanan di berbagai kota hingga kemudian bertemu dengan Yandi Viyana. Di bawah bimbingan Yandi, Harmoko belajar membaca Al-Quran. Kini ia sudah hampir menghafal 5 juz.

Zaki Amiludin lebih miris lagi ceritanya. Ia bahkan tidak bisa mengingat orangtuanya. Yang ia ingat, ia bertemu dengan seorang ustadz di Bandung dan kemudian membawanya ke Tasikmalaya bertemu dengan Yandi.

Yandi atau akrab disapa adalah warga Kampung Condong, Kecamatan Cibereum, Tasikmalaya, Jawa Barat. Tahun 2011, ia resah melihat begitu banyak anak jalanan dan yatim piatu di sekitarnya. –yang pernah menjalani hidup sebagai preman ini– semakin resah karena tak sedikit di antara mereka yang berperilaku menyimpang. lalu memutuskan berbuat sesuatu.

Ia mengumpulkan anak-anak jalanan, anak dengan dandanan punk, dan bocah-bocah pengamen yang ia temui di sekitar lampu merah. Hanya bermodal niat baik dan sedikit kenekatan, Bang Jack menampung mereka semua untuk belajar agama di rumahnya.

Bang Jack dan anak asuhnya di Pesantren Laskar Langit -- Foto: Ogi Fathuzzaman
Bang Jack dan anak asuhnya di Pesantren Laskar Langit — Foto: Ogi Fathuzzaman

 

“Banyak orang berpikir menyelesaikan permasalahan anak jalanan dengan cara memberi rumah singgah, tapi kita ingin mencoba cara berbeda. Solusinya, anak jalanan harus diputus mata rantainya, dengan diberi kenyamanan, kesibukan dan kegiatan,” kata Bang Jack sebagaimana dituturkan kepada Ogi Fathuzzaman dari Transmedia.

Di luar dugaan Bang Jack, anak-anak jalanan ini ternyata bisa belajar dengan cepat. Akhirnya semakin banyak anak jalanan yang berhasil ia rangkul,  hingga jumlahnya mencapai 40 orang.

Bang Jack bersama beberapa rekannya kemudian mencoba membangun pesantren, yang kemudian diberi nama Pesantren Laskar Langit. Nama Laskar Langit dipilih karena pada awalnya anak-anak jalanan ini belajar di luar ruangan tanpa atap. Hanya beratapkan langit.

Niat baik Bang Jack segera menyebar ke mana-mana. Seorang dermawan kemudian mengulurkan bantuan dengan mengizinkan Bang Jack menempati bangunan bekas pabrik kain miliknya sebagai tempat belajar santri-santri Pesantren Laskar Langit.

Setelah lebih dari lima tahun, kini hampir semua anak asuhnya sudah mampu menghafal Al-Quran dengan tingkat bervariasi. Beberapa santrinya bahkan sudah khatam menghafal 30 juz, dan menjadi juara di sejumlah kompetisi hafalan.

Selain mengajarkan ilmu agama, Bang Jack bersama pengelola Pesantren Laskar Langit juga membekali anak asuhnya dengan ilmu kewirausahaan. Bang Jack menggandeng pabrik-pabrik, peternak, dan ahli pertanian untuk berbagi keahlian di bidang masing-masing. Bang Jack berharap, dengan begitu, mereka kelak bisa mandiri setelah keluar dari pesantren.

Bagi para santri, awalnya tidak mudah untuk tinggal di pesantren ini. Iwan misalnya, anak jalanan asal Jakarta ini sudah terbiasa hidup tanpa aturan. Namun di pesantren ini, ia harus belajar berdamai dengan banyak peraturan, seperti dibatasi menonton televisi dan lain sebagianya. Ia pun merasa kesulitan saat pertama kali belajar mengaji. Namun ia bertahan. Meski bertahun-tahun hidup di jalanan, jauh di lubuk hatinya, ia sesungguhnya punya keinginan seperti anak-anak lainnya. “Saya ingin bangga….” katanya.

Selama tinggal dan menimba ilmu di Pesantren Laskar Langit, semua kebutuhan santri ini ditanggung oleh pesantren. Meski harus menghidupi banyak santri, namun pengelola Pesantren Laskar Langit tak pernah meminta bantuan dari mana pun, apalagi dari pemerintah. Semua keperluan mulai dari biaya operasional hingga bahan makanan, datang dengan sendirinya dari para dermawan.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim