#dearRiver: Resolusi Nombok Dong!

Foto: Andrew D. Bernstein/Getty Images


#dearRiver
Awal tahun, lebih dari 20 tahun yang lalu. Saya punya resolusi tahun baru. Saya ingin bisa slam dunk. Waktu itu saya sedang senang-senangnya bermain . Dan bagi kami para remaja saat itu, slam dunk alias “nombok” (melesakkan bola ke ring basket dengan melompat dan kadang diakhiri dengan bergelantungan) adalah prestasi tertinggi seorang pemain basket, sekaligus cara paling ekspres agar bisa dikagumi cewek-cewek.

Tinggiku saat itu sekitar 178 centimeter, sementara tinggi ring basket dari lantai menurut standar FIBA adalah 3,05 meter. Rasanya agak mustahil mencapainya. Apalagi teman sepermainanku dulu hampir tidak ada yang bisa slam dunk. Kotaku kota kecil, anak-anak yang gizinya bagus juga bisa dihitung jari. Kalau tidak kurus, ya agak obesitas seperti saya. Seingatku cuma ada satu orang yang pernah memamerkan keahlian slam dunk-nya di lapangan di alun-alun itu. Dia pindahan dari Riau dan konon sempat bermain di Kobatama. Namanya R, dan bila tidak sedang bermain basket, ia menjadi penerjemah bahasa Arab bagi pendakwah-pendakwah Timur Tengah yang datang ke kota kami.

Tapi sebenarnya bukan dia yang membuatku tertantang. Saya percaya bisa slam dunk setelah membaca tentang Spud Webb.

Spud Webb adalah salah satu pemain basket terpendek dalam sejarah NBA. Tingginya “hanya” 5 kaki 7 inchi atau 170 centimeter. Delapan centimeter lebih pendek daripada saya.
Tapi hebatnya, pada tahun 1986, ia memenangkan kontes slam dunk yang diadakan di Dallas’ Reunion Arena. Spud Webb saat itu membuat banyak orang seperti kembali menemukan jalan mimpinya. Termasuk saya.

Setelah membaca artikel tentang dia (waktu itu belum ada Youtube jadi kami tidak bisa melihat visual aksinya) saya semakin termotivasi.

Kemudian setelah latihan berbulan-bulan dengan penuh semangat, saya akhirnya bisa juga melakukan “slam dunk”. Hanya saja dengan cara yang berbeda. Bila slam dunk asli melesakkan bola dari atas ke bawah, saya melakukannya dengan arah yang berlawanan: dari bawah ke atas. 😀

Boleh saja kamu menganggapku gampang menyerah, Nak. Tapi kamu harus tahu, seandainya bukan karena khawatir risiko turun berok, niscaya sampai sekarang saya masih akan terus mencoba sampai bisa. Bukan karena ingin terlihat keren. Itu semua sudah berlalu. Saya cuma kadang berpikir, sesekali mungkin kita memang harus kembali menjenguk keinginan-keinginan yang pernah kita anulir. 

Btw, apa pun olahraga yang kau tekuni nanti, saya harap kamu bisa melakukan “slam dunk” dengan cara sebagaimana seharusnya. 🙂

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim