#dearRiver

Kamu sudah tahu, saya sesungguhnya agak berat menceritakan padamu kisah-kisah seperti ini. Karena, jujur saja, rasanya agak “mengkhianati” tujuanku berbagi cerita denganmu, yaitu untuk senang-senang dan tertawa-tawa. Tapi ada kalanya yang seperti ini memang harus diceritakan, demi untuk berharap bahwa ini tidak terjadi lagi di masa kau besar nanti.

Minggu lalu, waktu mudik ke kampung, kita sempat bertemu Maha. Ia bersama ayahnya dan adiknya, Suar, datang ke rumah untuk bertemu Om Ary. Iya, Maha itu anak kecil yang pernah saya ceritakan di sini. 

Kalau tak keberatan, saya ulang sedikit. Ada sebuah band, FSTVLST namanya –dulunya bernama Jenny. Band indie ternama asal Jogja yang salah satu albumnya ”Hits Kitsch“, dinobatkan sebagai album terbaik oleh majalah Rolling Stone Indonesia di tahun 2014. Di album itu, ada satu lagu di mana Farid Stevy Asta, sang vokalis, seperti merepet antara sedih dan marah.

“Di masa kau terlahir, orang-orang seakan berlari terburu-buru ke arah yang sama, tapi bertabrak-tabrakan. Saling menginjak, dan tidak menghiraukan arah yang tidak tertera di lambang mata angin, arah yang juga tidak tertera di warisan kebajikan dan ingatan nasihat, arah yang ternyata tidak ada yang tahu itu di mana. Kau terlahir, di masa maha, chaos.”

Lirik lagu yang berjudul “Hal-hal Ini Terjadi” itu pada awalnya adalah sebuah surat yang Farid tulis untuk seorang anak kecil yang sedang berulangtahun pertama. Anak itu adalah Maha.

River (baju biru), Suar (baju kuning), Maha (baju Merah).

 

Dan selalu saja, sepenggal lirik itu yang teringat setiap kali saya berpikir dunia macam apa yang akan kami warisi untuk kalian kelak. Untuk anak-anak kecil seperti kamu dan adikmu Rain, Maha dan adiknya Suar, dan anak-anak lain di seluruh dunia. Dunia yang bahkan saat kau lahir pun, seperti disebut Farid: orang-orang sudah saling bertabrakan, menginjak, dan tidak peduli arah mata angin.

Dua malam lalu, saya dapat jatah tugas shift siang menuju malam. Sudah siap-siap pulang sambil menunggu Mbak Emy yang akan menggantikan saya bertugas. Berita sepi, maklum masih suasana cuti bersama. Orang-orang yang kalendernya normal, sebagian besar masih di kampung halaman menikmati opor ayam.
Lalu Mas Niki datang ke mejaku, tumben-tumbenan. Dia ini salah satu bos, juga mentor, tapi dalam beberapa situasi sering memposisikan dirinya sebagai “musuh” saya. Saya tak tahu, mungkin karena sebagai sesama orang Sulawesi, dia merasa ketampanannya tersaingi. Padahal saya mah biasa aja.

“Sudah diijoin?” tanyanya.
”Apa yang mau diijoin?” saya balik bertanya. Saya lihat di monitor komputerku, belum ada materi baru yang warnanya merah dan harus dibikin ijo atau approve. Terakhir setengah jam yang lalu, makanya saya nganggur dan nonton Youtube. Itu memang salah satu tugas saya, memastikan semua berita yang dibuat oleh reporter, koresponden, dan produser yang akan tayang di tipi ini, tidak bakal menyebabkan masalah di kemudian hari. Kalau tidak ijo, tidak boleh tayang. Kalau misalnya sampai ada terguran dari KPI atau tuntutan hukum dari orang yang keberatan dengan berita kami, maka bagiankulah yang paling pertama akan menanggung malu.

Mas Niki lalu menunjukkan foto di handphone-nya, dari grup WA. Ada gambar orang terkapar di jalanan dengan kepala bersimbah darah. Aduh! Apa lagi ini? Saya membatin. Informasi awal, orang itu baru saja membacok dua polisi di mesjid Mabes Polri. Buset! Kandang macan diserang, pikirku. Alamat bakal kerja keras lagi ini….

Lalu informasi masuk pelan-pelan hingga akhirnya tiba pada bagian yang cukup terang. Orang itu terduga teroris, baru saja menusuk leher dua polisi dengan pisau di Mesjid Falatehan, Kompleks Peruri, sekitar 300 meter dari Mabes Polri. Masalahnya mereka baru saja sama-sama shalat berjamaah. Sinting! Orang macam apa yang membacok sesama orang beribadah. Ia konon masih sempat berteriak-teriak “Thaghut! Thaghut!” dan yel-yel khas takfiri lainnya sebelum lari ke arah terminal Blok M dan dihujani tembakan oleh polisi yang mengejarnya. Dan begitulah caranya dia tewas.

Saya tercenung lama. Mengerikan sekali berita ini. Jauh lebih mengerikan dari berita ISIS kemarin yang mengebom Mesjid An-Nuri di Mosul.
“Harus nusuk polisi dulu ya buat masuk surga,” kata seorang rekan yang duduk tak jauh dari saya, “Padahal kan kalau mau ngerasain surga, bisa nusuk yang lain,” katanya getir tapi mencoba berkelakar. Ia tentu ingat pada orang yang ia tinggalkan di rumah.

Lalu malam itu, saya terlambat pulang. Arah pulang ke rumah kebetulan melewati TKP (Tempat Kejadian Perkara), dan saya memutuskan singgah. Masih ramai di sana, polisi bersenjata masih berjaga-jaga. Mobil-mobil SNG stasiun TV sudah berbaris. Lampu kamera sudah menyala, para wartawan siap melaporkan untuk kantor masing-masing.

Tak lama kemudian, iring-iringan mobil bersirene datang. Rotatornya menyilaukan mata. Kapolda turun dan langsung dicegat oleh para wartawan. Ia pakai batik, barangkali ia sedang di kondangan saat mendengar kabar anak buahnya diserang. Saya belum melihat tim dari kantorku, mungkin masih di jalan. Jadi saya menyalakan handphone, sekadar jaga-jaga kalau sekiranya ada hal penting yang diomongkan oleh Pak Kapolda.
Yang diomongkan Pak Kapolda rupanya sudah seperti informasi yang beredar, kecuali dua tambahan informasi baru. Bahwa dua polisi yang jadi korban adalah anggota Brimob dan sudah dipindahkan dari RSPP ke RS. Polri Kramat Jati, serta soal nama pelaku Mulyadi yang masih diverifikasi.

Di TKP, malam itu….

 

Agak lama saya nongkrong di situ. Wartawan semakin banyak. Saya coba mengirim video hasil rekaman handphone saya itu ke kantor tapi ternyata jaringan internetnya tidak bagus. Jadi saya simpan sendiri untuk saya. Hampir tengah malam, saya nyalakan lagi motor dan melaju pulang.
Sampai di rumah, kalian semua sudah tertidur. Saya tonton lagi “hasil liputan” tadi. Gambarnya jelek, low light dan audionya hancur. maklum Windows Phone edisi lama. Kalau ibumu lihat, dia pasti ngetawain. Dia pernah jadi camera person beberapa tahun, matanya agak-agak sensitif kalau lihat gambar jelek.

Dan saat itulah saya ingat lagi pada Maha dan lagu yang ditulis Farid untuknya. Babak pertama dari maha chaos sepertinya sudah mulai. Sudah sering kita mendengar seseorang disakiti oleh-oleh orang dekat. Anak yang disiksa ibu, istri yang dihajar suami, menantu yang ditindas mertua, dan lain-lain. Tapi ini semacam rasa sakit yang lain.

Adakah yang lebih menyakitkan daripada dipenuhi perasaan was-was bahwa orang yang berdiri shalat di shaf belakangmu adalah orang yang akan menghunjamkan belati ke lehermu?

Selalu dalam kejadian seperti ini, hal yang paling pertama hilang dari diri kita adalah rasa saling percaya. Dan bentuk dunia penuh welas asih seperti yang diimpi-impikan oleh Gandhi dan Karen Armstrong, akan semakin utopis.

Ini sangat menyedihkan, Nak. Padahal baru saja kita dihibur oleh berita anak SMA yang dapat THR dari tantenya, atau yang mudik ke Soppeng dan singgah di Lejja.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2017/07/WhatsApp-Image-2017-07-02-at-11.36.19-AM-1-1024x575.jpeghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2017/07/WhatsApp-Image-2017-07-02-at-11.36.19-AM-1-150x150.jpegFauzan MukrimRecent Posts#dearRiver Kamu sudah tahu, saya sesungguhnya agak berat menceritakan padamu kisah-kisah seperti ini. Karena, jujur saja, rasanya agak 'mengkhianati' tujuanku berbagi cerita denganmu, yaitu untuk senang-senang dan tertawa-tawa. Tapi ada kalanya yang seperti ini memang harus diceritakan, demi untuk berharap bahwa ini tidak terjadi lagi di masa kau besar nanti. Minggu...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k