Sebelum November Berakhir

Dalam wawancara dengan majalah Tempo edisi 28 November 2011 kemarin, saat ditanya soal keadilan bagi korban Santa Cruz, Ramos Horta, presiden Timor Leste, menjawab: “Itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kami melihat ke depan, tidak ke belakang…”

Butet Manurung Sokola Rimba

Soal Sudut Pandang

Aku terkejut melihat apa yang kamu tunjuk. Di bagian mata sapi itu memang tampak ada jejak-jejak air yang menetes turun. Seperti menangis. Bukan sekali ini aku melihat pemandangan seperti itu, tapi kali ini terasa luar biasa karena aku harus menjelaskan padamu tentang sesuatu yang tak benar-benar aku mengerti. Suatu hari nanti bisa saja kamu memakai sudut pandang vegetarian dan mempertanyakan kenapa orang harus membantai hewan-hewan.

Norman Kamaru

Norman dan Pak A

Briptu Norman hadir untuk menyampaikan pesan bahwa nasib tak ubahnya jalan raya yang tak bisa kita tebak kelokannya. Bermula dari seorang petugas jaga pada sebuah kantor polisi di propinsi baru mekar, Norman pulang sebagai sosok yang dielu-elukan, bertengger di atas kendaraan Barakuda dan melambai kepada khalayak dengan posisi tangan sejajar tubuh persis Putri Indonesia.

“Kids Will Be Kids”

Bagi Ibu Sumarsih, betapapun sang anak telah gugur belasan tahun yang lalu, tak ada yang berubah. Wawan tetap seorang anak baginya. Seorang anak yang berhak mendapatkan limpahan cintanya.

Melihat matanya yang lembut dan rambutnya yang memutih itu, aku kembali dibuat percaya pada sebuah hal yang tanpa sadar sering terlupa. Aku dan Bu Sumarsih beda agama, tapi kami satu “keyakinan”, keyakinan pada kekuatan cinta seorang ibu.