Kasur

Jika Aku Menjadi namanya, Nak. Sudah cukup lama juga program ini tayang di stasiun tempat kerjaku. Seingatku ide awalnya dikerjakan oleh Mas Satrio Arismunandar. Episode…

Itu Apa?

Padahal Allah SWT sendiri bersumpah. Dia yang Maha Kuasa bersumpah demi Masa. Al Ashr. Bahwa kita manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Kecuali orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Demikian Adanya

Itulah seorang ayah, Nak. Kadang hanya kebanggaan dari keluargalah yang diharapkannya. Mungkin karena usia tua, kami jadi semakin kehilangan fungsi. Suatu hari nanti, kami mungkin tak bisa lagi kau andalkan untuk memasang hammock atau menyalakan trangia-mu.

Ulasan Sepakbola

Seketika aku sadar bahwa ada orang yang terancam kehilangan pekerjaan. Di tengah-tengah kami berteriak-teriak tadi seperti orang kesurupan menonton bola, rupanya ada orang yang resah memikirkan hari esoknya seperti apa. Dia berjalan di antara kami, memunguti sampah dan kotoran di bawah kaki kami, dengan hatinya yang mungkin tak karuan. Beredar dari kantong sampah satu ke kantong sampah yang lain.

Renungan Mantan Kiper

Besok malam timnas kita akan berjuang mati-matian untuk membela negara. Di leg kedua pertandingan final Piala AFF 2010 ini, timnas setidaknya harus menang 4-0 melawan Malaysia. Mari kita dukung Firman, Bepe, Gonzales, Irfan, dan lain-lain. Kalah atau menang, mereka adalah semacam jihadi. Mereka tak takut patah tulang, demi untuk memberikan kegembiraan kepada kita, para penontonnya. Mereka sudah merelakan masa muda mereka yang berharga, untuk berkeringat dan berpeluh di rumput hijau. Tak seperti banyak anak muda, yang hanya bisa marah-marah dan memaki satu sama lain.

Bacaannya Yang Kami Rindukan

Suara seperti bacaannya itulah yang bertahun-tahun aku cari. Tak pernah kami sempat merekamnya sebelum dia pergi. Dan ketika rindu itulah, sering aku mendatangi mesjid entah di mana, berharap sang imam membaca surah seperti caranya. Kerinduan. Hanya itu yang ingin aku lepaskan.

Malaikat yang Terinjak Sayapnya

Salah satu sebab aku menjadi wartawan, adalah karena ingin menyamai perjalanan bapakku. Bapakku pernah mendatangi banyak tempat, dan aku ingin seperti dia. Setiap tiba di tempat baru, aku pasti mengabari bapakku. Bapak, aku di Miangas! Bapak, aku di Soweto! Seringkali aku tergelincir untuk membangga-banggakan keberhasilanku, tapi pada saat itulah sebenarnya kegagalanku. Sampai pada satu titik, aku menyadari bahwa aku tak akan pernah bisa menyamai perjalanan bapakku.

Oleh-oleh Ayah

Malam itu, Nak, aku membawa pulang oleh-oleh untukmu. Aku bawa melintasi sisa gerimis. Malam masih sibuk. Orang-orang yang tadi sempat terhalang pulang, mulai beranjak. Seorang…

Pulang Memancing

Lalu aku teringat pada guruku, Nak. Suatu ketika dia bilang, “pembohong dan orang-orang yang tidak jujur bisa mendapatkan apa saja, kecuali ketenangan dan kedamaian.”

Jadi ingatkan aku, Nak. Pegang kata-kataku, jika suatu hari terpaksa memilih, akan lebih baik bagiku untuk memberimu makan ikan mujair atau nila yang kita pancing dari sungai-sungai kotor dan menuntunmu berjalan pulang dalam hujan, daripada harus menjadi orang yang berdiam dalam kendaraan-kendaraan mewah tapi tak merasa tenang.

Pundak Seorang Ayah

Tapi begitulah, River. Ternyata menjadi ayah itu bukan melulu soal punya pundak kuat atau tidak. Yang lebih penting adalah seberapa ikhlas seorang ayah ingin mendukung anaknya di atas pundaknya, dan membiarkan sang anak melihat apa yang tidak bisa si ayah lihat di ketinggian itu.

Tali Cadangan di Sepatuku

Adalah seorang kawan yang mengajarkan. Itu saat kami masih sering berkelana kemana-mana. Masuk ke kampung ke orang, hanya membawa ransel dan diri. Tali itu ada di sana, Nak, di sepatuku, karena aku yakin suatu hari pasti akan bertemu dengan seseorang yang membutuhkan. Dan dengan itu, Nak, semoga aku bisa merasa sedikit berguna.

Segelas Air Dingin di Pagi Hari

Di pelataran Masjidil Haram ini, Nak, pada suatu pagi yang dingin, dengan segelas air zamzam di tanganku. Inilah salah satu sarapan ternikmat yang pernah aku rasakan. Memandangi Ka’bah yang suci itu, entah mengapa aku merasa, bahwa betapa pun sulitnya hal yang akan kita alami, hidup kita akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja, Nak.

Hari Ketika Bapak Pergi

Kita sering berangan-angan tentang tangan siapa yang terakhir akan kita pegang saat sakaratul maut. Tapi itu belum tentu juga seperti yang kita bayangkan. Kita tidak pernah tahu di mana dan bagaimana kita akan berakhir. Aku pernah melayat seseorang yang mati karena kecelakaan panser. Aku pernah melayat seseorang yang mati karena dilempar dari kereta api yang melaju kencang. Tentu mereka tidak pernah membayangkan akan berakhir seperti itu.