Catatan Pinggir (Lapangan): Tentang Islandia

Saya mendengar cerita ini bertahun-tahun silam, entah benar entah tidak. Seorang petinggi negara bertanya setengah menghardik pada Ketua Umum PSSI, “Kenapa sih, kita punya 200 juta penduduk tapi selalu kesulitan mendapatkan 11 pemain sepakbola yang bagus?”. Pertanyaan ini diajukan setelah Timnas kita –lagi-lagi– gagal meraih medali emas di ajang Sea Games. Di kandang sendiri, tahun 1997 silam, Timnas Merah Putih ditekuk Thailand lewat adu pinalti.

Konon, tidak ada respons balik dari sang ketua umum. Dia terdiam.
Mungkin tidak ada jawaban yang pas untuk itu. Sebab memang tidak ada relevansi antara jumlah penduduk suatu negara dengan kemampuannya untuk melahirkan barisan pemain yang berkualitas. Tidak ada jaminan bahwa semakin banyak jumlah penduduk maka semakin banyak pula pemain berkualitas yang dihasilkan. Jika teorinya seperti itu, maka tentu negara-negara seperti China dan India-lah yang akan mendominasi pergelaran Piala Dunia dari masa ke masa. Faktanya, kedua tetangga berpenduduk di atas 1 miliar itu belum menjadi yang terbaik bahkan di level benuanya sendiri, Asia.

. . . hingga kemudian kita mengenal , yang menawarkan teori berbeda.

Islandia, negara di sebuah pulau kecil di utara Atlantik, menarik perhatian khalayak banyak saat lolos ke putaran final EURO 2016 di Prancis. Ini keikutsertaan mereka yang pertama. Dan yang bikin rame kala itu adalah mereka lolos dengan menyikut salah satu timnas favorit banyak pecinta sepakbola, Belanda, di fase kualifikasi. Tim Oranye bahkan sempat dibekuk dua kali. Di putaran final yang saat ini tengah bergulir, kembali mereka ‘bikin rame’. Lolos dari babak grup yang berisikan tim kuat Portugal, Hungaria, dan Austria tanpa sekalipun terkalahkan. Ini adalah prestasi yang terlalu manis bagi mereka. Siapa yang berani membayangkan sebelum turnamen digelar? Mereka, hanya kalah selisih gol dari pemuncak grup, Hungaria, dan sukses membokongi Portugal yang tampil di turnamen ini dengan Cristiano Ronaldo-nya.

Sesungguhnya, Islandia hampir saja membuat kejutan yang lebih besar dari ini. Beberapa tahun lalu, mereka nyaris lolos ke Puataran Final Piala Dunia Brasil 2014. Di babak kualikasi, mereka kalah angka tipis dari sang pemuncak klasemen Swiss untuk lolos langsung. Posisi kedua di grup memberikan kesempatan kedua bagi Islandia untuk lolos lewat fase play off. Sayang, mereka terjegal oleh Kroasia yang menjadi lawan.

Mungkin, tidak ada tim yang se-populer mereka di turnamen kali ini. Tidak hanya soal pencapaian yang fantastis tadi, tapi juga tentang pemain ke-12, para supporter, yang mengharu-biru kota-kota di mana mereka bertanding. Negara Nordik ini merupakan negara dengan jumah penduduk terkecil di antara para peserta EURO 2016. Total populasinya kurang lebih ada di angka 300.000 jiwa. Hanya setara dengan sejumlah kota kecil di Indonesia. Stadion utama mereka, Laugardalsvöllur, di Kota Reykjavik hanya berkapasitas 15 ribu orang. Ketika kualifikasi menuju EURO 2016 dimulai, hanya ada 7000 orang yang datang menyaksikan mereka menjamu Turki kala itu, dan menang cukup telak, 3-0.

Seiring dengan raihan hasil bagus di babak kualifikasi, penonton semakin memadati stadion kecil itu dan selalu penuh di setiap laga yang digelar. Antusiasme ini terus membukit. Ketika Islandia dipastikan berlaga di EURO 2016, sekitar 26.000 orang Islandia mengajukan aplikasi untuk menyaksikan putaran final. Angka ini setara dengan 8% dari total populasi penduduknya. Tentunya, ini akan semakin bergerak naik mengikuti keberhasilan timnya lolos ke babak knock-out pekan depan.

Namun, kembali ke soal pokok, bagaimana ceritanya negara sekecil ini bisa memiliki tim yang baik?

Sebagian orang akan langsung menunjuk ke pelatih Lars Lagerback sebagai pelaku utama, dan memang sulit mengabaikan itu. Ketika pertama kali datang 2011 silam, lelaki tua asal Swedia langsung menuntut banyak hal kepada negara ini. Hal-hal yang belum dilakukan sebelumnya. Dia meminta renovasi besar-besaran di pusat pelatihan Timnas, disediakan jurumasak khusus bagi tim, mesti disediakan pesawat carteran khusus jika tim mesti tanding di luar dan tidak lagi menggunakan pesawat komersil regular, dan lain-lain lagi. Namun, tuntutan terbesar Lagerback ditujukan ke para pemainnya sendiri. Dia selalu meminta mereka bermain untuk kemenangan. Tidak ada lagi alasan mengincar hasil imbang hanya karena tim lawan dianggap lebih baik dari mereka.

“Dia mengubah mindset kita secara drastis. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” sebut Ari Skulasson, salah satu pemain senior di tim.

Namun memang, membicarakan sukses Islandia tidak boleh berhenti di Lagerback. Kedatangan pelatih yang sudah merasakan 5 turnamen besar dengan beberapa tim sebelumnya itu, hanyalah bagian dari transformasi yang dilakukan oleh pengurus sepakbola Islandia (KSI) sejak pertengahan tahun 90-an silam. Sejak masa itu, mereka telah melakukan banyak hal. Pada awalnya, ada tantangan alam yang mesti mereka jawab. Berada di bagian paling utara Bumi, mereka mengalami musim dingin yang jauh lebih panjang dibanding negara lain. Permukaan tanah yang senantiasa diselimuti salju bukan tempat yang baik untuk bermain sepakbola. Untuk itu, mereka mulai membangun sejumlah berkubah tertutup (football house) di berbagai tempat. Jumlahnya mungkin tidak begitu banyak, tapi mencukupi untuk populasi mereka yang tidak seberapa. Bangunan yang lebih kecil juga dibangun di hampir semua sekolah. Kini, mereka bisa bermain tanpa peduli musim apa yang tengah alam sajikan untuk mereka.

Infrastruktur dibangun, demikian juga dengan sumberdaya manusianya. KSI menggelar begitu banyak training dan sertifikasi kepelatihan. Semua dipusatkan di ibu kota Reykjavik dengan biaya yang ditekan serendah mungkin. Tujuannya untuk memancing lebih banyak orang ikut. Hasilnya, pada awal tahun ini Islandia sudah memiliki 600 orang pelatih sepakbola yang berlisensi baik A maupun B dari UEFA. Memasukkan angka ini ke dalam total populasi, maka itu berarti setiap 1 dari 500 penduduk Islandia sudah memiliki kualifikasi untuk melatih tim sepakbola profesional di benua Eropa. Mereka mengalami ‘over-stock’ pelatih berlisensi UEFA, mengingat tim sepak bola professional di sana yang tidak begitu banyak. Alhasil, para pelatih ini tersebar bahkan di level tim sekolah dasar.

Mungkinkah mereka yang ada saat ini, yang sudah membuat Cristiano Ronaldo bersungut-sungut, merupakan buah manis dari transformasi besar itu?

Butuh eksplorasi lebih jauh untuk meyakinkan. Bahkan pemain paling populer Gyfil Sidgursson, seperti enggan mengakui bahwa ini adalah sebuah ‘generasi emas’ hasil tempaan. Dia lebih memilih kata ‘chemistry’ sebagai jawaban. “Mayoritas pemain di tim ini sudah bermain bersama di Euro U-17 dan U-21.”

Ada ‘rasa’ dan ‘kesepahaman’ yang sudah lama terbangun di antara mereka. Di negara seperti ini, memang tidak banyak kemungkinan pemain yang keluar-masuk, sebab pilihan yang tersedia memang terbatas.

Ketika kita terhenyak bagaimana bisa negara kecil seperti Islandia bisa meraih hasil besar, mereka langsung menyiratkan sejumlah jawaban. Kecil itu tidak melemahkan tapi justru bisa memperkuat. Ada bahasa efektifitas dan kegesitan dalam setiap yang tergolong kecil. Adapula kemudahan. Lazim kita dengar bahwa akan lebih mudah menemukan sesuatu di antara ‘ribuan’ dibanding ‘jutaan’. Dan mungkin, ini adalah rahasia di balik kesuksesan mereka. Ringkasnya, ada banyak hal ditawarkan oleh ‘kuantitas yang kecil’.

Jadi, jika semisal saya adalah ketua PSSI yang ditanyai tempo hari, maka menjawabnya akan lebih mudah di hari-hari ini: “Justru itu Pak, mungkin karena penduduk kita yang terlalu banyak, maka saya kesulitan menemukan 11 pemain bagus”.

Poso, 25 Juni 2016

Jelang Inggris vs Islandia nanti… 

Junaedi Uko

Junaedi Uko

a.k.a Jun, fans "The Three Lions". Tinggal di Poso
Junaedi Uko